Bung Karno: Mujtahid Islam Abad 20 “Relasi Islam Dan Pancasila”

 


Oleh : TGS Prof. Dr Saidurrahman, M.Ag *

Pancasila : Kontrak Politik Bangsa Indonesia

SAAT ini rasa ke Indonesiaan sebahagian anak bangsa mulai tergerus. Indonesia sebagai negara “Bangsa” berada dalam periode genting. Persatuan dan kesatuan bangsa sedang di uji oleh ancaman gerakan politik puritanisme Islam dan penyusupan ideologi Trans Nasional. sudah banyak anak bangsa yang terpapar ideologi khilafah dan berani secara terang terangan berkampanye memperjuangkan gagasan syari’at dan negara Islam di bawah kepemimpinan tunggal khalifah Islamiyah. Gerakan dan kampanye khilafah tersebar dan terstruktur hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kampus, BUMN bahkan hingga para pelajar. Hal ini tentu saja berpotensi terjadi gesekan di masyarakat yang dapat menimbulkan konflik horizontal bahkan vertikal.

Mengacu pada kondisi di atas, sudah seharusnya semua anak bangsa bersatu padu menjaga keutuhan bangsa dari ancaman gerakan dan ideologi anti pancasila. Saat ini kita harus mulai menghargai dan belajar dari sejarah pemikiran dan perjuangan Bung Karno yang sarat dengan nilai nilai islami. Bung Karno lahir Ditengah Penjajahan Kolonialisme Belanda pada 6 Juni 1900, seorang perempuan, Ida Ayu Nyoman Rai, yang sehari-hari dipanggil Nyoman, melahirkan seorang putra bernama Soekarno. Ia tumbuh dan dewasa secara politik bersama para Ulama dan pejuang bangsa lainnya di tengah perlawanan rakyat terhadap kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang.

nst

Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 dihadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tercermin bagaimana sumbangan Bung Karno terhadap kemerdekaan Indonesia, Bung Karno Berkata “Philosofische grondslag itulah pondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi”.

Inilah saat pertama kali Bung Karno berpidato tentang Pancasila yang selanjutnya menjadi dasar Ideologi Negara Republik Indonesia. Pidato Bung Karno saat itu menggambarkan keinginan merdeka merupakan hasrat yang sedalam-dalamnya dari rakyat Nusantara akibat dari penindasan yang dilakukan oleh Belanda. Keinginan tersebut telah menjadi mimpi, cita-cita dan hasrat bersama selama beratus abad sebelumnya, sehingga Setiap 1 Juni dikenal sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ia menjadi menjadi Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang berdiri pada 17 Agustus 1945.

Bung Karno sangat sadar akan kebhinekaan di Indonesia. Indonesia adalah milik semua golongan, dengan berbagai macam karakter, suku, agama, ras, maupun golongan. Maka di butuhkan ideologi yang bisa menaungi perbedaan, menghargai kebebasan, dan Pancasila merupakan kontrak politik yang menyatukan semuanya. tidak ada gap antara negara dan agama Islam menurut Bung Karno.

Islam dan Pancasila

Pancasila itu sendiri dengan jujur diakui Bung Karno merupakan ilham yang diturunkan Tuhan kepadanya. Menurut pengakuannya, pada malam menjelang 1 Juni 1945, ia bertafakur, menjelajahi lapis demi lapis lintasan sejarah bangsa, menangkap semangat yang bergelora dalam jiwa rakyat, dan akhirnya menengadahkan tangan meminta petunjuk kepada Allah SWT agar diberi jawaban yang tepat atas pernyataan tentang dasar negara yang hendak dipergunakan untuk meletakkan negara Indonesia merdeka diatasnya. Sampai akhirnya, di depan sidang BPUPKI, Bung Karno mempersembahkan Lima Mutiara yang disebut Pancasila itu, diatasnya berdiri negara Indonesia merdeka.

Bung Karno bersama para pendiri bangsa menyepakati urgensi agama dalam kehidupan bernegara. mereka berpikir bagaimana menjembatani eksklusivitas agama-agama dengan suatu ‘kesepakatan bersama’ yang inklusif, dan mampu merepresentasikan agama-agama tersebut dalam tatanan kebangsaan dan relasi sosial yang modern.

Lahirnya Pancasila yang digagas oleh Bung Karno, dan dimatangkan oleh tokoh-tokoh kemerdekaan merupakan gagasan genius dalam meletakkan agama secara substantif dan menegosiasikan dalam konteks negara bangsa yang plural dan multi-kultural. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi “jalan tengah’ dan ‘margin of appreciation’ keberadaan semua agama tanpa terjebak dalam relativitas yang menghilangkan substansinya. Sila Pertama ini juga menyelamatkan Indonesia dari kerumitan relasi Islam simbolis dan negara yang dialami negara-negara di Timur Tengah. Jadilah Indonesia sebagai religious friendly country.

BACA JUGA :  Nasib Wartawan di Era Multiplatform

Islam merupakan konstruksi awal pembentukan pemikiran kenegaraan Bung Karno. Dalam satu artikel di koran Pandji Islam Tahun 1940 yang berjudul “Kini bukan masyarakat Onta, tetapi masyarakat Kapal Udara” Bung Karno mengkiritisi kalangan Islam yang memuja kejumudan dan anti terhadap kemajuan. Bung Karno menegaskan bahwa kita saat ini hidup di zaman Kapal Udara (pesawat terbang), bukan zaman Onta. Bung Karno mengilustrasikan bahwa zaman ini adalah zaman ditemukannya teknologi-teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang akan menambah kemaslahatan bagi umat manusia.

Dalam tulisan yang lain, Bung Karno menyerukan “Islam is progress, Islam itu kemajuan”, penegasan Bung Karno tersebut merupakan upaya untuk meyakinkan bahwa agama yang dibawa oleh nabi Muhammad ini adalah sebuah agama yang mempelopori sebuah kemajuan peradaban umat manusia, bukan kejumudan. Bung Karno mengkritik kalangan Islam yang lebih senang memungut abu Islam dari pada apinya.

Abu Islam adalah kalangan Islam yang lebih mendahulukan bungkus dari pada spirit ataupun isi dari ajaran Islam, juga kalangan Islam yang memaknai Islam hanya sebatas artifisial dan simbol-simbol semata. Sementara Istilah api Islam di sini adalah inti ajaran dan semangat kemajuan yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw dalam membangun peradaban baru yang maju di tanah Arab pada abad 7 M, Walaupun sudah berumur hampir satu abad, tulisan tersebut sampai saat ini masih sangat relevan sebagai cambuk untuk umat Islam Indonesia di abad milineal ini.

Pemikiran dan perjuangan politik Islam Bung Karno dalam gerakan pembebasan nasional bukan saja di terima oleh kalangan Ulama, tetapi juga di akui oleh dunia internasional. Dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1954 di Surabaya, NU telah memberikan dan mengesahkan gelar Presiden Soekarno sebagai Waliyul Amri Ad Dharuri Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan-kebijakannya mengikat oleh sebab kekuasaannya atau pemegang pemerintahan de facto dengan kekuasaan penuh).

Di tingkat Dunia Internasional, Bung Karno merupakan satu-satunya putra bangsa Indonesia hingga saat ini yg pernah mendapatkan penghargaan akademis sebanyak 26 gelar Doktor Honoris Causa dari universitas dalam dan luar negeri. Beberapa di antara gelar penghormatan akademis tersebut, 3 diantaranya menegaskan tentang dimensi keislaman Bung Karno, seperti, gelar Doktor Honoris Causa yg ke-16 pada tanggal 24 April 1960 dari Al Azhar University, Kairo, Mesir dalam Ilmu Filsafat.

Doktor Honoris Causa yg ke-24 pada tanggal 2 Desember 1964 dari IAIN (UIN Jakarta) dalam fakultas Ushuludin Jurusan Dakwah dengan pidatonya berjudul Tjilaka Negara Jang Tidak ber-Tuhan. Gelar Doktor Honoris Causa yg ke 26 dari Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 3 Agustus 1965 dalam Filsafat Ilmu Tauhid dengan pidatonya yg berjudul Tauhid Adalah Djiwaku.

Sumbangsih dan penghargaan Bung Karno kepada dunia Islam diluar negeri juga begitu luar biasa. Nama Bung Karno sangat harum baik karena pidato-pidatonya yang membangkitkan semangat perjuangan melawan kolonialisme dan kapitalisme mapun sebagai salah satu penggagas gerakan non-blok. Bung Karno berhasil menggerakkan para tokoh dan negara negara Islam dalam sebuah konferensi akbar yang diselenggarakan di Bandung pada bulan April 1955 dan dikenal dengan Konferensi Asia-Afria (KAA) Bandung.

BACA JUGA :  Pancasila Dan Ekonomi Gotong-Royong

Sejarah mengabadikan betapa KAA merupakan peristiwa penting bagi negara-negara di Asia dan Afrika untuk bangkit dan tampil membina dunia baru. Dalam KAA pertama yang berlangsung 18- 25 April 1955 di Bandung dicetuskan 10 kesepakatan yang dinamakan Dasasila Bandung. Prinsip-prinsip KAA menghendaki dunia yang bebas dari imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya

Semangat dan pesan KAA enam dasawarsa lalu masih relevan dengan dimensi kepentingan bangsa-bangsa Asia-Afrika dewasa ini. Kesuksesan KAA 1955 memiliki resonansi yang tidak boleh dilupakan, yaitu terselenggaranya Konferensi Islam Asia-Afrika pertama tahun 1965 di Bandung. Puncak bersejarah peristiwa KIAA di Bandung tahun 1965 melahirkan “Deklarasi Konferensi Islam Asia-Afrika”. Pada penutupan KIAA digelar Rapat Akbar Umat Islam di Gelora Bung Karno Jakarta. Presiden Soekarno menerima gelar kehormatan sebagai “Pahlawan Islam dan Kemerdekaan” Sampai saat ini spirit KAA Bandung tetap menginspirasi bangsa-bangsa dari dunia ketiga ini untuk melawan segala bentuk penindasan karena kolonialisme, kapitalisme dan globalisasi.

Langkah Bung Karno membela kepentingan dunia Islam dilanjutkannya kembali saat Indonesia memutuskan keluar dari PBB tahun 1965, karena dianggap menguntungkan Israel dan merugikan negara Arab (termasuk Palestina).Negara-negara lain di dunia, khususnya negara-negara Islam juga begitu menghormati Bung Karno sehingga beberapa negara seperti Mesir mengabadikan hubungannya dengan banga Indonesia dengan memberikan nama Bung Karno Square Khyber dan Bung Karno Bazar pada plasa yang mereka miliki.

Selain itu, Bung Karno merupakan Tokoh utama dari ditemukannya kembali makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan (dahulu bagian dalam negara komunis Uni Soviet) pada tahun 1961. Beliau juga merupakan tokoh dibalik dihidupkannya kembali aktivis Masjis Jamu Muslimin (Masjid Biru) di Saint Petersburg, Uni Soviet. Bung Karno pula yang mengusulkan kepada Raja Saudi Arabia agar Padang Arafah yg gersang ditanamai pohon. Usul Presiden Soekarno itu akhirnya disetujui pemerintah Saudi Arabia dan Pohon tersebut dinamakan Syajarah Soekarno atau Pohon Soekarno

Dengan demikian, berdasarkan fakta-fakta sejarah perkembangan pemikiran dan sumbangsih Bung Karno kepada gerakan pembebasan nasional khususnya di negara negara Islam, maka pandangan dan tuduhan yang mengatakan Bung Karno seorang sekuler apa lagi seorang komunis, adalah pendapat dan tuduhan yang ahistoris dan tidak sesuai dengan fakta jati diri Bung Karno yang sebenarnya.

Sudah waktunya kita bicara apa adanya, masih banyak orang dari golongan sisa-sisa pencemooh Bung Karno yang berusaha memisahkan cita-cita perjuangan Bung Karno dengan kekinian. Mereka terus berusaha membendung pelaksanaan ajaran politik Bung Karno secara utuh keseluruhan. Sudah waktunya pandangan Soekarno-phobia ini dihapus dari kalangan generasi muda yang akan memimpin Indonesia di masa depan. Saatnya mempelajari dan melaksanakan ajaran Soekarno kembali secara utuh dan menyeluruh.

Atas perjuangan, pengabdian, darmabakti dan karya yang luar biasa terhadap Bangsa Indonesia dan Umat islam Dunia dalam memimpin perlawanan terhadap kolonialisme dan imprealisme yang menjajah dunia saat itu, sudah selayaknya Bung Karno di anugerahi dan di sematkan sebagai Pahlawan dan Mujtahid Islam abad 20.

(Penulis adalah Pembina Pusat Kajian Deradikalisasi Dan Moderasi Beragama Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dan Ketua Dewan Ulama Thariqoh Indonesia (DUTI) Sumatera Utara)

 2,769 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published.