Memaknai Generasi Milenial Pencinta Alquran

Mustika Nurawaliah Nasution. (foto/msj)

Oleh : Mustika Nurawaliah Nasution

 

Apa sih Generasi Milenial itu? Generasi Milenial adalah sekelompok orang yang tahun 1981-1995. Disebut generasi milenial karena satu-satunya generasi yang sempat melewati milenium kedua semenjak teori generasi ini diutarakan pertama kali oleh sosiolog Karl Mannheim Tahun 1923 melalui esainya yang berjudul “The Problem if Generation”.

Tahun 2020 ini, yang termasuk generasi milenial pasti sedang menginjak usia sekitar 21-31 tahun. Pola pikir dan karakter generasi milenial bisa dikatakan sering penuh kreativitas, inovatif, dan pastinya enggak pernah gaptek karena cepat banget beradaptasi dengan teknologi baru.

Kita pasti seringkan dengar orang berbicara tentang generasi milenial, kan? Atau mungkin kamu pernah disebut sebagai anak generasi milenial oleh orang yang lebih tua? Jangan tersinggung ataupun baper. Justru, di era seperti inilah kita harus bangga jadi anak milenial. Kenapa harus bangga? Sebab, di zaman sekarang inilah kemajuan teknologi semakin canggih dan pada era ini komputer baru mulai booming seiring dengan naik daunnya video games, gadget, smartphones dan internet.

Lalu apa yang dimaknai dengan mencintai Alquran? Mencintai Alquran adalah selalu mengingatnya dan memikirkan Alquran dalam hati, kemudian terwujud dalam tindakan nyata. Orang yang mencintai Alquran hatinya akan selalu mengingatnya dan memikirkan Alquran. Dia akan rela berkorban untuk sesuatu yang dicintainya. Juga, mencintai Alquran bisa dengan mensyukuri turunnya Alquran karena Alquran merupakan pedoman bagi umat Islam. maka kita harus menjaga Alquran dengan cara membaca, mengamalkan ajaran-ajaran yang ada didalam Alquran dikehidupan kita sehari-hari agar lebih bermakna.

Tahukah kalian generasi milenial yang saat inilah yang harus perlu dibimbing untuk mencintai Alquran. Karena generasi milenial adalah salah satu kekuatan bagi umat atau negara. Untuk melihat nasib masa depan sebuah negara dengan generasi milenial saat ini. Jika generasi milenialnya baik maka masa depan sebuah negara tersebut baik.

Karena sangking pentingnya generasi muda, Ir Soekarno pernah berkata, “Beri aku orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Generasi milenial saat inilah yang menjadi aset dari seluruh bangsa, sehingga harus dijaga dan dipahami dengan baik, mengingat generasi milenial yang rentan terhadap derasnya arus modernisasi saat ini. Jika kita lihat melalui konteks keIslaman, tentu saja Islam menjadi perhatian yang sangat besar terhadap generasi milenial.

Sebab Islam secara detail akan memberi ajaran untuk membentuk karakter generasi milenial menjadi sesuai dengan ajaran Islam. Apalagi di zaman yang banyak teknologi canggih sekarang ini lebih mudah mempelajarinya karena banyak aplikasi nuansa Islam yang semakin banyak untuk kalangan orang tua sampai anak-anakpun bisa melihatnya dengan edukasi yang menarik buat anak-anak. Namun, jika kita mempergunakan teknologi dengan salah maka kita bisa terjerumus kedalam pengaruh yang buruk.

BACA JUGA :  Membangun Motivasi Belajar Daring di Era Covid-19

Perkembangan zaman memang mengubah segalanya, termasuk generasi milenial saat ini. Disatu sisi, perkembangan zaman dengan segala kecanggihannya bisa membawa manfaat yang baik bagi diri. Namun disisi lain juga bisa membawa keburukan dan merugikan diri kita. Apalagi generasi milenial yang saat ini mudah terpengaruh oleh hal-hal yang baru dan populer.

Peran orang tua sangat perlu dan penting untuk membimbing anaknya menjadi generasi milenial yang tidak mudah terpengaruh oleh perkembangan zaman. Orang tua harus mengajarkan anaknya nilai-nilai dan pendidikan agama Islam.

Bahkan membawa anaknya untuk dekat dengan Alquran dan mencintai Alquran. apalagi generasi milenial sekarang ini sangat sulit untuk dinasehati dengan yang baik. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat muslim jangan pernah putus asa untuk menciptakan generasi milenial yang lebih baik lagi kedepannya.

Lantas apa upaya yang diperlukan untuk mengajak generasi milenial mencintai Alquran adalah. Pertama, dimulai dengan mencari pasangan yang baik. Dalam pandangan Islam, memilih pasangan juga ikut berpengaruh dalam memprogramkan anak yang soleh dan solehah. Pasangan yang baik juga tidak akan jauh dari Alquran. Pasangan yang baik akan menurunkan putra putri yang baik. Begitu juga sebaliknya. Karena itu, Rasulullah Saw bersabda: “Hati-hatilah dengan hadhra al-Diman, atau wanita cantik dari lingkungan yang tidak berpendidikan”.

Kedua, anak sebaiknya sudah diajari membaca Alquran dari kecil sesuai kemampuannya agar terlatih dan selalu ingat dengan alquran. Lebih baik jika yang mengajarkan ini orang tuanya sendiri, maka orang tua juga perlu belajar membaca Alquran dengan baik dan benar juga memahami maknanya serta tajwid dan tahsinnya.

Ketiga, Menjadikan Alquran sebagai bahan yang wajib dibaca Dirumah, bisa melatih agar anak senantiasa selalu mngingat Alquran. Ketiga, membuat remaja masjid/ mushola dimasjid-masjid dan musholal-musholah yang ada, lalu membuat kegiatan ngaji bareng dan mengundang guru ahli untuk mengajari membaca Alquran dengan baik seperti agar bisa memahami tajwid dan tahsinnya serta sartil dengan baik dan memperdalam dan memahami maknanya juga mengamalkannya dikehidupan sehari-hari.

Sedangkan keenam, mengikuti majelis agar bisa menambah Ilmu Tentang agama Islam serta agar hati bisa tetap terus dijalan yang baik dan benar, tidak jauh dari Alquran dan terus istiqomah.

Lalu bagaimana cara mencintai Alquran itu? Modal pertama yang dimiliki adalah iman. Maksudnya percaya bahwa Alquran itu merupakan kitab dari Allah Swt. Yang berisi petunjuk dan segala mukjizat yang dikandung didalamnya dan jika berpegang teguh padanya maka akan selamat dunia akhirat. Rasa inilah yang perlu ditumbuhkan dalam diri seseorang.

BACA JUGA :  Menakar Kepantasan Sugiat Santoso Memimpin KAHMI Sumut

Tentunya ini juga harus merupakan hidayah dari Allah Swt. Jika rasa ini sudah tumbuh, maka nilai-nilai dari Alquran baik yang ia dengar dari ceramah atau yang ia baca langsung dapat masuk kedalam jiwa dengan baik. Orang yang mencintai Alquran senang bertemu dengan Alquran dan tidak bosan berlama-lama dengan Alquran, ada kerinduan untuk berjumpa dengan Alquran, banyak berkonsultasi dengan Alquran, serta menaati perintah dan larangan Alquran. Jika diri kita sudah cinta dengan Alquran, maka tugas kita selanjutnya ialah menanamkan rasa cinta Alquran itu kepada generasi yang akan datang.

Generasi melenial harus mampu melawan zaman yang canggih dan modern sekarang ini agar hidupnya tidak mudah goyah dan tetap berpegang teguh kepada Alquran. Alquran juga melarang jika meninggalkan generasi melenial yang lemah, hal ini termaktub dalam Alquran Surah An-Nisa’ yang artinya: Dan hendakla takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mreka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa’: 9).

Menurut Quraish Shihab, ayat di atas berpesan agar Islam menyiapkan generasi penerus yang berkualitas sehingga mampu mengkualitaskan potensi dirinya untuk bekal dimasa mendatang. Seperti inilah Alquran memandang generasi muda. Jangan sampai generasi muda justru menjadi penghancur bangsanya sendiri.

Alquran telah diimani dan disepakati sebagai kitab yang terlengkap dan berlaku sepanjang masa, namun faktanya Alquran sudah diabaikan sebagai solusi dalam menyelesaikan permasalahan umat.

Oleh karenanhyam marilah sama-sama kita sebagai masyarakat muslim terkhususnya generasi melenial untuk lebih memperdalam lagi ilmu tentang agama Islam serta banyak belajar dan mengamal Alquran dan memaknai serta mencintai Alquran. Juga bagi orang tua untuk terus mendidik anaknya dan mengajarkan anaknya untuk sama-sama semakin dekat dengan Allah Swt serta mempelajari Ilmu agama Islam dan belajar mencintai Alquran. Karena Alquran adalah petunjuk jalan yang benar unuk kita serta pedoman hidup kita maka jangan pernah tinggalkan Alquran.** msj

 

**Penulis adalah mahasiswi Program Studi Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir UINSU Medan, Peserta KKN-DR 2020 Kelompok 119 **

1,380 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *