MENGENAL S2 PEMIKIRAN POLITIK ISLAM-FUSI UINSU

(Upaya Menempa Politisi Islami & Nasionalis Sekaligus)

Salahuddin

Oleh : Dr Salahuddin Harahap MA

MESKIPUN bukan negara agama (didasarkan kepada syariat agama tertentu), tetapi Indonesia telah mewajibkan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama serta menjamin pemenuhan hak dan kebebasan setiap pemeluk setiap agama dalam menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai individu, masyarakat maupun warga negara.

Bahkan, pemilihan Pancasila sebagai ideologi negara yang di dalamnya tersimpul substansi ajaran setiap agama yang diakui di Indonesia, telah menjadi bagian dari komitmen bangsa dalam mewadahi setiap pemeluk agama agar dapat menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan ajaran agama yang dianutnya tanpa harus bertentangan atau berseberangan dengan kedudukan dan kewajibannya sebagai warga negara.

Mengacu kepada realitas ini, maka setiap dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk di dalamnya dimensi politik, mesti dirumuskan dan dijalankan dengan mengintegrasikan dua hal yakni ajaran agama yang dianut dengan Ideologi Pancasila. Sehingga seorang politisi muslim di Indonesia misalnya, mesti dapat merumuskan konsep dan strategi politik serta menjalankannya dalam bingkai perpaduan dan saling mengadaptasi antara ajaran agama dengan ajaran Pancasila dan UUD 1945. Begitu pun juga bagi seorang politisi penganut Kristen atau Hindu yang harus mampu merumuskan pola berpolitik yang memadukan ajaran Krisitinai, Hindu dengan ajaran Pancasila.

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka setiap politisi di Indonesia mesti memiliki dua kompetensi sekaligus yakni; Pertama, Kompetensi Teologi Politik, dimana ia mampu memahami secara komprehensif tentang prinsip, ajaran, konsep, etika dan aktualisasi politik yang terkandung dalam agama yang dianutnya. Kedua, Kompetensi Ideologi Politik, dimana ia dapat memahami secara baik akan prinsip, konsep, etika dan aktualisasi politik yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.

Lewat kepemilikan dua kompetensi inilah diharapkan seorang muslim akan dapat menjadi politisi ideal (Islami-Nasionalis) di Indonesia dan itulah yang menjadi cita-cita dibentuknya Program S2 Pemikiran Politik Islam (PPI) pada Fakultas Ushuluddin & Studi Islam UIN Sumatera Utara.

Diskursus Identitas Politik Islam Indonesia

Dalam sejarah perpolitikan Indonesia, sesungguhnya Identitas Politik Islam telah hadir dalam berbagai nama bahkan polanya yang cukup dinamis. Lahirnya organisasi Islam seperti Masyumi dan Serikat Islam seterusnya SDI, kemudian terbentuknya Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Partai Nahdhatul Ulama (NU), Partai Tarbiah Islamiyah (PERTI), Parmusi, PPP, PKNU dan saat ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS), telah menjadi bukti bahwa Politik Islam memang memiliki daya tarik, daya jual serta peluang yang cukup besar untuk dapat mengambil peran dalam kancah perpolitikan di Indonesia.

Meskipun tidak dapat disebut telah maksimal, namun dalam beberapa periode Partai Islam sebagai yang dianggap mewadahi aspirasi politik umat Islam atau politik Islam, telah mendapatkan kepercayaan yang cukup signifikan dari umat Islam.

Pada pemilu Tahun 1955 misalnya, Masyumi sempat mencapai hingga 20,9 persen suara untuk parlemen RI. Begitu pun pada pemilu Tahun 1977, PPP sempat memperoleh hingga 29,3 persen suara untuk parlemen RI. Kemudian pada pemilu Tahun 2009, PPP memperoleh suara 10,7 persen dan mendudukkan partai ini sebagai rangking ke-5 dari 38 partai politik peserta pemilu.

Memang, jika dibandingkan dengan persentase umat Islam Indonesia yang secara statistik masih di atas angka 90%, maka tingkat partisipasi atau kepercayaan umat Islam terhadap partai Islam sebagai saluran aspirasi politik Islam sebagaimana yang tampak pada beberapa kali pemilu, dinilai masih sangat jauh dari yang semestinya atau yang diharapkan.

BACA JUGA :  Meluruskan Makna Jihad: Lain Agama, Lain Pemahaman Agama

Kenyataan ini dapat diduga telah disebabkan salah satunya oleh masih lemahnya kemampuan parpol Islam atau politisi muslim dalam menjelaskan dan meyakinkan umat bahwa partai Islam atau politisi muslim yang ada benar-benar dapat merepresentasi keinginan, kepentingan serta kebutuhan umat Islam Indonesia secara general.

Lebih jauh, masih terdapat kesan bahwa keberadaan partai Islam dan politisi muslim, masih lebih cenderung mengedepankan identitas Islam dalam makna simbolik, normatif dan spesifik
Lebih jauh, dalam konsep dan gerakannya biasanya cenderung bahkan identik kepada satu aliran pemikiran atau mazhab tertentu. Kenyataan demikian telah menjadikan partai Islam maupun politisi muslim tersebut, menjadi sulit untuk dapat berterima di kalangan umat Islam Indonesia secara general.

Prospek S2 Pemikiran Politik IslamĀ UINSU

Kenyataan bahwa belum terdapat parpol Islam yang benar-benar dapat merepresentasi umat Islam Indonesia secara umum, masih tetap menjadi “pekerjaan rumah” besar bagi umat Islam Indonesia. Untuk menjawab kebutuhan inilah UIN Sumatera Utara hadir dan membuka Program S2 Pemikiran Politik Islam disingkat (PPI-S2 FUSI UINSU) tepatnya pada Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam.

Kehadiran PPI-S2 FUSI UINSU, diharapkan dapat mewadahi pembentukan identitas dan karakter politisi muslim yang ideal bagi Bangsa Indonesia. PPI-S2 FUSI UINSU ini akan membekali politisi muslim secara komprehensif meliputi panca indra, nalar dan qalbu. Setiap peserta program ini akan diperkenalkan dengan Studi Kewahyuan Politik Islam yakni bagaimana al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan tentang dasar-dasar nilai dan prinsip politik Islam yang dibutuhkan oleh manusia dalam posisinya sebagai seorang hamba (al-‘abdu) serta sebagai khalifah (pemimpin) di bumi.

Mendekatkan seorang politisi muslim dengan al-Qur’an dan Sunnah (Wahyu), dipandang amat penting untuk mendudukkan bahwa berpolitik merupakan bagian dari tugas prophetik atau teologis. Berpolitik mesti dilihat sebagai wujud dari kesadaran seorang muslim dalam mengejawantahkan tugas kehambaan dan kekhalifa’an, sehingga terangkah bahwa berpolitik merupakan bagian dari aktivitas mulia yang bernilai ibadah. Dari kesadaran yang mulia inilah akan dimungkinkan lahirnya etika politik yang sunguh-sumgguh didasarkan kepada nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Selain didekatkan kepada studi kewahyuan, para peserta Program PPI-S2 FUSI UINSU, juga diperkenalkan dengan para pemimpin, politisi serta pemikir dan filsuf politik Islam dari masa ke masa sejarah peradaban Islam dan dunia Islam.

Seorang politisi muslim dalam konteks ini akan dibawa melakukan studi kritis terhadap keputusan dan kebijakan besar para pemimpin Islam, pemikiran-pemikiran besar para ulama dan filsuf muslim yang telah berpengaruh dalam menentukan perjalanan sejarah peradaban dan politik dunia Islam bahkan juga dunia.

Tidak berhenti sampai disitu, para peserta Program PPI-S2 FUSI UINSU akan diajak untuk mampu melakukan, filtrasi, sinkretisasi serta akulturasi terhadap berbagai keputusan, kebijakan dan pemikiran berpengaruh di dunia Islam untuk menemukan formulanya yang sesuai dengan kebutuhan perpolitikan Islam di Indonesia.

Seorang politisi muslim di Indonesia, tidak boleh secara langsung mengimportasi teori, konsep, kebijakan serta keputusan politik yang pernah ada di dunia Islam tanpa mempertimbangkan kekhasan kondisi dan kebutuhan umat Islam Indonesia, termasuk di dalamnya mesti mempertimbangkan Pancasila, UUD 1945, Bineka Tunggal Ika dan NKRI.

BACA JUGA :  Filsafat Ibadah ; Shalat Fondasi Peradaban Bumi

Lewat upaya ini diharapkan terbinanya politisi muslim Indonesia yang memiliki wawasan, khazanah serta literasi yang luas, canggih dan dinamis tingkat dunia, sedangkan pada saat yang bersamaan dapat memformulasikan teori, konsep, kebijakan serta strategi yang benar-benar dapat mempertimbangkan kebutuhan, kemajuan perpolitikan umat Islam Indonesia dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, kebinekaan dan NKRI alias terhindar dari pengaruh dan kontaminasi dari paham-paham trans-nasional.

Di samping itu, Program PPI-S2 FUSI UINSU juga membawa para peserta program untuk bernostalgia bahkan bertestimoni dengan pengalaman-pengalaman aktualisasi politik Islam dari masa ke masa pada berbagai belahan dunia Islam. Para peserta program didorong dan difasilitasi untuk dapat melihat momen-momen keemasan maupun kegelapan perpolitikan sepanjang sejarah dunia Islam.

Dari testimoni ini diharapkan para peserta program dapat memahami sejumlah faktor penyebab kemajuan dan kemunduran perpolitikan suatu bangsa atau dinasti di setiap era, untuk selanjutnya dapat mengambil pembelajaran (i’tibar) yang memang dibutuhkan sebagai modal penting dalam memajukan perpolitikan umat Islam di Indonesia.

Keputusan untuk mau berkaca serta kemampuan mengambil pembelajaran dari keseluruhan dialektika sosial-politik umat Islam pada setiap era dan wilayah, tentu saja sangat dibutuhkan dalam pembinaan karakter, mental serta jiwa kepemimpinan setiap politis muslim yang ada Indonesia, untuk kemudian dapat membangun formulasi pola-pola berpolitik yang betul-betul dapat mewakili harapan dan kebutuhan umat Islam dan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Jika setiap politisi muslim memiliki kompetensi tersebut lalu mereka berkesempatan mengisi posisi dan jabatan pada Partai Politik, Pemerintahan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), maka jadilah lembaga dan instansi ini dapat mewadahi harapan, kebutuhan dan cita-cita umat Islam dan secara umum seluruh masyarakat di setiap daerah.

Penutup

Salah satu visi UIN Sumatera Utara dalam konteks pengembangan keilmuan, adalah berupaya keras untuk mengembangkan setiap keilmuan yang ada berbasis Wahdatul ‘Ulum. Sebuah konsep yang mencoba meretas berbagai kesenjangan atau dikotomi, terutama antara teori dengan praktik, antara rasionalitas dengan spirituaitas serta antara capaian kemajuan dengan komitmen terhadap etika dan akhlakul karimah.

Program PPI-S2 FUSI UINSU dipersiapkan untuk mewadahi tercapainya pengintegrasian tersebut terutama dalam bidang politik Islam demi tercapainya kemajuan umat Islam dan seluruh rakyat Indonesia secara umum. Untuk itu, sangat disarankan kepada politisi muda muslim, para calon, pemimpin, Kepala Daerah, Pimpinan DPRD dan Parpol serta para cendekiawan muslim untuk dapat bergabung dalam Program PPI-S2 FUSI UINSU dimaksud.

Penting sekali disadari bahwa, sebagian besar daerah di Sumatera Utara telah menjadikan pembaharuan keberagamaan atau religiositas sebagai bagian dari aspek penting dalam visi dan misi pembangunan, untuk itu kepemilikan wawasan dan literasi yang baik tentang Pemikiran Politik Islam bagi para pemimpinnya menjadi sangat pantas dan penting.

(Penulis adalah Dosen dan Ketua Lembaga Survei & Sosialisasi (LSS) UINSU)

795 total views, 6 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *