Pilpres 2024, Kekuatan Nahdiyyin dan Nasionalis Harus Didorong Menyatu

Ngaji Kebangsaan
Koordinator Forum Aktifis ’98, Muhamnad Ikhyar Velayati Harahap, saat menjadi nara sumber dalam Ngaji Kebangsaan di Sufi’s Cafe, Kamis (1/7).

Asaberita.com, Medan – Pada Pilpres 2024 mendatang, kekuatan kaum nahdiyyin dan nasionalis harus didorong untuk menyatu. Kaum nahdiyyin direfresentasikan dengan PKB, dan nasionalis direfresentasikan dengan PDI-P.

“Suka atau tidak suka, kaum nahdiyyin itu dalam partai politik refresentasinya adalah PKB dan kaum nasionalis refresentasinya ke PDI-P. Kedua partai ini sebagai refresentasi kekuatan relegius nasionalis dan nasionalis relegius, yang harus kita dorong tetap menyatu di Pilpres 2024 mendatang”.

Demikian dikatakan Koordinator Forum Aktifis ’98, Muhamnad Ikhyar Velayati Harahap, saat menjadi nara sumber dalam Ngaji Kebangsaan dengan tema ‘Membaca Aspirasi Warga Nahdiyyin dan Nasionalis pada Pilpres 2024’ yang diadakan Forum Cendekiawan Muslim Muda (FCMM), Kamis kemarin (1/7) di Sufi’s Cafe, Kompleks MMTC Jalan Pancing Medan.

Dikatakan Ikhyar, jika PDI-P dan PKB menyatu pada Pilpres 2024 mendatang, maka potensi untuk menang sangat besar. Itu telah juga terbukti pada Pilpres sebelumnya, saat kedua parpol ini menyatu, calon yang diusung berhasil menang.

Di masyarakat, sebut Ikhyar, warga nahdiyyin itu secara riel jumlahnya sangat besar. Dan warga nahdiyyin, baik dalam kategori struktural maupun kultural, biasanya selalu membaca dan patuh pada isyarat dari para Kyai dalam menentukan apapun, apakah itu persoalan politik, sosial, budaya dan keagamaan.

nst

“Warga nahdiyyin baik yang struktural maupun kultural, di masyarakat dikategorikan sebagai NU, dan ini adalah potensi politik besar yang dimiliki PKB,” ujar Ikhyar.

BACA JUGA :  UIN Malang PTKIN Terbanyak Menerima Mahasiswa Hafidz Alquran

Disisi lain, lanjutnya, selain NU juga ada aspirasi politik masyarakat di tingkat akar rumput yang berbasiskan pada ideologi Nasionalis Soekarnois. Orang-orang yang loyal pada Soekarno dan menghormati para pendiri bangsa, mereka berpendapat bahwa NKRI sudah final.

“Kaum Nasionalis Soekarnois ini riel di masyarakat dan mereka loyal pada elit politik di atas yakni para elit PDI-P. Jadi jika Ibu Megawati menentukan A, maka mereka semuanya akan loyal, sangat kecil persentasinya yang tidak loyal,” ucap Ikhyar.

Kedua kekuatan politik ini sejak dulu mulai zaman penjajahan kolonial Belanda sampai masa Soekarno berkuasa tetap sejalan. Juga pada masa orde reformasi keduanya memiliki peran yang besar, dimana ada Gus Dur representatif NU dan ada Megawati refresentatif Nasionalis Sokarnois.

Di pemerintahan saat ini, kedua kekuatan politik ini tetap sejalan menjaga NKRI. Dan jika pada Pilpres 2024 keduanya kembali menyatu, maka akan sulit bagi kekuatan politik yang lain untuk melawannya, termasuk upaya kelompok tertentu yang ingin mengganggu keutuhan NKRI.

Tetapi, ketika kedua kekuatan politik ini tidak menyatu, maka terjadi gelombang politik yang anti demokrasi. Sebagai misal ketika Soeharto mencoba mengintimidasi, mencoba merefresif PDI Megawati dan juga NU.

“Sebagai contoh ketika Soeharto mengintimidasi kelompok Nasionalis dan NU lewat operasi Naga Merah dan operasi Naga Hijau, bangsa ini terjebak dalam sektarianisme dan terjebak dalam gonjang-ganjing politik, sehingga Soeharto lengser dari jabatannya,” sebut Ikhyar.

BACA JUGA :  Rencana Pembukaan Terminal Kedatangan Internasional, Gubernur Edy Minta Kesiapan Satgas Covid

Tanpa menafikan peran dari kelompok lainnya, imbuh Ikhyar, melihat sejarah bahwa taman sari atau DNA kaum nahdiyyin (NU) dan nasionalis kontribusinya pada NKRI merupakan yang terbesar.

Masih menurut Ikhyar, NU dan Nasionalis itu memiliki ideologi yang sama, politik yang sama dan fakta politiknya selalu bersama. Sehingga pada Pilpres 2024 juga harus didorong agar kedua kekuatan ini tetap bersama.

Apalagi ditengah semakin maraknya ideologi trans nasional saat ini, seperti adanya keinginan kelompok tertentu yang ingin mendirikan Negara Khilafah dan adanya upaya-upaya sejumlah pihak merongrong berbagai kebijakan pemerintahan dengan memanfaatkan isu pandemi dan lainnya, yang nota bene ingin mengganggu persatuan dan keutuhan NKRI.

“Kita khawatir, jika kedepan kekuatan NU dan Nasionalis tidak menyatu, maka Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 (PBNU) bisa terancam punah. Sebab selama ini, kedua elemen inilah yang terus secara konsisten merawat dan menjaga 4 pilar kebangsaan itu,” tandas Ikhyar. (has)

 446 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *