RANCANG BANGUN AKTUALISASI WAHDAT AL-‘ULUM UIN SUMATERA UTARA

Oleh: Salahuddin Harahap
Ketua Lembaga Survei & Sosialisasi (LSS) UINSU

Pendahuluan
Salah satu persoalan penting dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman di era kekinian adalah bagaimana merumuskan suatu epistemologi yang pro-substansi tetapi juga mesti akomodatif dan adaptif.

Pro-Substansi dalam artian dapat menjaga kemurnian dan kekhasan nya ilmu keislaman sebagai ‘ulum al-dien pada satu sisi, sedangkan pada sisi lainnya mampu mengakomodir perkembangan mutakhir sejumlah epistemologi serta dapat mengadaptasi setiap perkembangan peradaban dunia yang begitu dinamisnya. Penting mempertahankan kekhasan ilmu-ilmu keislaman sebagai khazanah atau warisan turats yang diharapkan sebagai penyanggah identitas peradaban Islam.

Menyahuti situasi ini, Prof. Syahrin Harahap mengedepankan sebuah rumusan epistemologi yang dipandang mampu memenuhi tuntutan baik yang bersifat substansial maupun yang menyangkut kondisi faktual dan realitas yang tengah dihadapi dengan menghadirkan konsep Wahdat al-‘Ulum.

Dalam konteks di UIN Sumatera Utara, kehadiran konsep Wahdat al-‘Ulum dapat dipandang sebagai sintesis atas berbagai rumusan yang ada sebelumnya yakni islamisasi, interdisipliner, integrasi, multidisipliner dan interkoneksi yang sebagiannya sedang dan telah diaktualisasikan pada PTAIN lainnya di Indonesia.

Sejak Tahun 2017, Prof. Syahrin telah memperkenalkan konsep ini yang dimulai dari rumusan ontologi dan epistemologinya dalam sejumlah tulisan, penelitian hingga model pengajaran di kelas. Baru kemudian Tahun 2018 konsep ini mulai diperkenalkan secara lebih luas di UIN Sumatera Utara lewat kegiatan kajian, workshop, diskusi rutin hingga penyusunan naskah akademik dan jurnal yang berisi substansi dan teknis konsep ini.

Saat ini di bawah kepemimpinannya sebagai Rektor UIN Sumatera Utara, tentu saja diperlukan aksi lanjutan agar aktualisasi konsep ini akan dapat maju selangkah demi selangkah untuk konteks pengembangan keilmuan di UIN Sumatera Utara.

Filsafat, Nalar dan Aksi Wahdat al-‘Ulum

Dilihat pada etimologinya, istilah Wahdat al-‘Ulum memiliki korelasi dengan Wahdat al-Wujud dalam kajian Filsafat Mistisisme, yang dipopulerkan oleh seorang filsuf besar bernama Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i. Substansi wahdat atau wihdat sendiri adalah penjelasan akan adanya titik temu yang membuat segala sesuatu menjadi saling terhubung, terpaut hingga menyatu pada satu sisi, dengan keniscayaan adanya titik pisah yang membuat segala sesuatu menjadi beragam pada sisi lainnya.

Seperti halnya hakikat wujud yang hanya bersifat Esa jika dilihat dari sisi Allah Swt. Sebagai al-wajib, al-wujud merupakan sumber dan pencipta bagi segenap alam semesta, begitulah ilmu (al-‘Ilmu) yang hanya bersifat tunggal sebagai salah satu sifat Allah Swt yang identik dengan zat-Nya yang Esa. Namun dalam realitas rasional dan empirikal keragaman wujud tidak mungkin dapat terbantahkan.

Begitu pun ilmu pengetahuan, yang meskipun dari perspektif mistis dan teologis bersifat menyatu dan melebur (wahdat), namun dalam ranah epistemologi apalagi aksiologi, maka adanya keragaman bahkan hierarki ilmu telah menjadi fakta yang tak bisa ditolak dalam realitas alam semesta.

Untuk memperkaya khazanah filosofis bagi konsepsi Wahdat al-‘Ulum ini, Prof. Syahrin mencoba mengadaptasi konsep Tasykik al-Wujud (Hierarki Wujud) yang diperkenalkan oleh Muhammad b. Ibrahim b. Yahya al-Qawami al-Syirazi, dengan gelar “Shadr al-Din” atau “Shadr al-Muta’alihin” populer dengan Mulla Shadra.

BACA JUGA :  Manfaat Minum Air Putih Masa Covid-19

Lewat konsep ini Shadra menegaskan bahwa dari perspektif Mistis yang Wujud itu bersifat Tunggal yakni Allah Swt, sedangkan selain-Nya bersifat semu atau berupa bayang-bayang. Begitu pun dalam soal ilmu, dimana hanya ada satu ilmu yang identik dengan sifat Allah Swt, ada pun selain ilmu dimaksud hanya semu dan berupa bayangan semata.

Tidak demikian halnya, jika wujud dipandang melalui perspektif filsafat, dimana terdapat berbagai wujud yang beragam dan bertingkat. Antara satu wujud dengan lainnya saling terhubung dan tak terpisahkan. Sedangkan pada masing-masing terdapat kekhasan yang menjadikan setiap wujud memiliki identitas dan kualitasnya sendiri-sendiri.

Mengacu kepada konsep ini, maka dalam perspektif Wahdat al-‘Ulum dapat diduga bahwa keragaman dan klasifikasi ilmu pengetahuan yang ada harus dilihat sebagai sebuah keniscayaan. Bahkan dapat disebut bahwa ilmu pengetahuan akan secara terus menerus mengalami perkembangan, perluasan, pengayaan bahkan lompatan-lompatan dalam kaitannya sebagai sumber navigasi, inisiasi, kreasi dan inovasi tanpa dapat dibendung.

Namun karena sumbernya yang satu yakni al-‘Ilmu, maka pergerakan dan evolusi ilmu ini hingga mengalami klasifikasi, polarisasi dan hierarki tidak pernah lepas dari substansinya sebagai sifat Allah Swt yakni al-‘Ilmu. Dengan begitu tidak dibutuhkan peleburan antara satu disiplin ilmu dengan ilmu lainnya, apalagi jika satu ilmu mesti menegasikan ilmu lainnya.

Penting melakukan penelusuran secara komprehensif terhadap setiap disiplin ilmu pengetahuan. Penelusuran harus meliputi ontologi, epistemologi dan aksiologi serta mesti pula menggunakan media penghubung secara komprehensif mulai dari iman, dzauq, intuisi, rasio hingga indriawi.

Setiap disiplin ilmu, jika diselami secara mendalam dan paripurna, akan ditemukan bahwa ia memiliki aspek sakral dan spiritual pada sisi terdalamnya, disamping aspek rasional dan ilmiah pada satu sisinya serta memiliki aspek empiris dan praktis pada sisi terluarnya.

Namun patut diperhatikan bahwa, oleh karena pengklasifikasian atau bahkan penemuan dan penetapan suatu disiplin ilmu tidak selalu didasarkan kepada konfirmasi komprehensif terhadap ranah-ranah tersebut, maka tidak semua disiplin ilmu yang ada memiliki eksistensi pada setiap dimensi yang ada.

Menyahuti hal tersebut, maka dalam aktualisasinya Wahdat al-‘Ulum akan mungkin menghubungkan bahkan mengintegrasikan sejumlah ilmu dalam satu rumpun atau yang berbeda dalam rangka mendudukkan setiap ilmu agar memiliki jejak, identitas bahkan eksistensi pada setiap dimensi mulai dari intuitif, rasional hingga empiris. Lewat rumusan ini setiap ilmu akan menemukan eksistensi sejatinya sebagai satu titik dari rentetan pengejawantahan sifat al-‘ilmu yang diaktualisasikan untuk mengisi satu ruang kosong yang mesti diisi dalam rangka keberlanjutan kehidupan dan peradaban di dunia.

Melakukan penelusuran secara ontologi terhadap sejumlah disiplin ilmu atau fakultas atau prodi yang ada di UIN Sumatera Utara, dengan tujuan menemukan titik temu setiap ilmu pada ranah ontologi, mesti menjadi langkah awal yang harus dilakukan dalam rangka aktualisasi wahdat al-‘ulum.

Langkah ini penting untuk melihat adanya keterhubungan setiap ilmu sebagai satu kesatuan. Langkah lebih lanjut adalah melakukan penelusuran terhadap epistemologi setiap ilmu yang ada untuk melihat bagaimana setiap ilmu tergradasi bergerak dari ranah ontologi menuju epistemologi, dari ranah substantif menuju metodologis.

BACA JUGA :  MUI Sumut : UINSU Jadi Kampus Idola di Asia Tenggara

Pada ranah ini, klasifikasi dan hierarki ilmu sudah harus muncul. Setiap ilmu dengan kekhasan identitasnya menuntut adanya klasifikasi metodologis untuk menjawab dinamika perkembangan ilmu pengetahuan. Pada ranah epistemologi ini perlu dibangun metodologi yang khas untuk setiap ilmu dengan mempertimbangkan tantangan dan persoalan yang harus dijawab oleh masing-masing disiplin ilmu.

Mengingat permasalahan kehidupan yang demikian kompleks serta saling berhubungan, maka antara satu ilmu dengan ilmu lainnya yang dibutuhkan dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan ini pun harus saling terhubung di ranah metodologinya. Dari ranah metodologi setiap ilmu harus pula diturunkan ke ranah praktis, eksperimental dan aksiologi.

Di ranah ini tidak ada satu fenomena yang benar-benar mandiri. Satu fenomena akan terhubung dengan fenomena lainnya baik bersifat kausalitas, siklus maupun sustainabilitas. Untuk menjawab itulah, maka setiap ilmu mesti mempertimbangkan keterhubungannya dengan ilmu lainnya agar dapat menawarkan solusi komprehensif atas persoalan hidup dan peradaban manusia.

Sebagai aktualisasinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan di UIN Sumatera Utara, maka upaya wahdat ini harus dimulai dari lahirnya metodologi pendekatan wahdat ,yang di dalamnya terlebur berbagai pendekatan ilmu-ilmu yang dikembangkan di UIN Sumatera Utara.

Dari pendekatan Wahdat lahirlah Silabus Wahdat, dimana setiap mata kuliah memiliki silabus berbasis wahdat (peleburan). Dari Silabus Wahdat dirumuskan lah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Wahdat yang mewadahi peleburan teknik, media, alat dan seni pembelajaran. Hal serupa harus pula dilakukan dalam kegiatan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dimana keseluruhan prosesnya mulai dari perencanaan, pelaksanaan, keluaran dan evaluasi harus didasarkan pada konsep wahdat -peleburan.

Untuk mencapai hal tersebut tentu saja dibutuhkan pembinaan SDM lewat pelatihan, workshop, FGD hingga On the job training dalam rangka penyiapan kader-kader wahdat di tingkat Universitas, Fakultas, Lembaga hingga ke tingkat pengelola program studi.

Penutup

Aktualisasi suatu konsep seperti Wahdat al-‘Ulum, tentu saja tidak sesederhana merumuskannya. Sebab setiap kali kita menurunkan ilmu untuk menempati satu dimensi, maka dituntut adanya wahdat kesadaran dalam diri kita. Kesadaran mistis atau spiritual mesti terkoneksi dan terpaut dengan kesadaran rasional, seterusnya dengan kesadaran empiris dan realitas di dalam kehidupan nyata. Ilmu harus turun, terimplementasi untuk mewakili kerja-kerja Tuhan dalam mencipta, menjaga serta memperbaiki alam semesta agar semakin hari menjadi semakin sempurna.

Untuk tugas seserius ini, maka UIN Sumatera Utara perlu membangun tim kerja aktualisasi wahdat al-‘ulum ini dengan menekankan pentingnya pemahaman dan komitmen penegakannya, mulai dari tingkat universitas, fakultas hingga program studi.

Barangkali sudah saatnya mensyaratkan adanya pemahaman yang baik terhadap konsep dan aktualisasi wahdat al-‘ulum ini kepada setiap calon pejabat di UIN Sumatera Utara dari mulai top, middel hingga ke tingkat pengelola program studi demi terwujudnya aktualisasi konsep ini tahap demi tahap.

771 total views, 9 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *