DELI SERDANG – Dusun VII Tunggul Wargo, Desa Sei Mencirim, Kabupaten Deli Serdang, menunjukkan langkah nyata dalam pengelolaan lingkungan. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan program pengabdian masyarakat Program Profesor Mengabdi Universitas Medan Area (UMA) bertajuk “Sampah Jadi Emas: Pengomposan dengan Metode Takakura”.
Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Syafrida Hafni Sahir, SE, M.Si dari Pascasarjana UMA, dengan Saipul Sihotang, S.Si., M.Biotek (Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian UMA) sebagai ketua tim. Anggota tim lainnya terdiri dari Rana Fathinah Ananda, SE, M.Si (Dosen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMA) dan Alfifto, SE, M.Si (Dosen Manajemen FEB UMA).
Ketua tim pengabdian, Saipul Sihotang, menjelaskan bahwa kegiatan ini difokuskan pada pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi kompos bernilai guna melalui pendekatan pelatihan yang sederhana dan aplikatif.
“Kami tidak hanya menyampaikan teori, tetapi langsung mengajak warga mempraktikkan pembuatan kompos dengan metode Takakura. Metode ini cocok untuk lingkungan permukiman karena tidak membutuhkan lahan luas, minim bau, dan dapat diterapkan oleh setiap keluarga,” ujarnya kepada wartawan di Kampus I UMA, Jalan Kolam Medan Estate, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, tujuan utama program yang telah dilaksanakan pada 6 Desember 2025 lalu itu, adalah menumbuhkan kesadaran ekologis sekaligus mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Senada dengan itu, anggota tim Rana Fathinah Ananda menekankan bahwa kegiatan ini juga berorientasi pada penguatan ekonomi rumah tangga.
“Kompos yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat untuk kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan, bahkan berpotensi dikembangkan sebagai produk bernilai jual. Kami ingin masyarakat melihat bahwa sampah organik memiliki nilai ekonomi,” tuturnya.
Sementara itu, Alfifto menyoroti tingginya antusiasme masyarakat selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, warga terlibat aktif dalam sesi praktik dan diskusi, serta menunjukkan komitmen untuk menerapkan metode pengomposan secara berkelanjutan di rumah masing-masing.
“Pendekatan pelatihan yang partisipatif terbukti efektif. Warga tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga bagian dari solusi,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian juga memberikan edukasi tentang pemilahan sampah, pengenalan konsep zero waste, serta pelatihan langsung pembuatan kompos menggunakan keranjang Takakura. Metode ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik lingkungan permukiman warga.
Program Sampah Jadi Emas mendapat sambutan hangat dari masyarakat Dusun VII Tunggul Wargo. Tingginya partisipasi warga menjadi indikator kuat tumbuhnya kesadaran kolektif terhadap pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Melalui program ini, Dusun VII Tunggul Wargo diharapkan dapat menjadi contoh desa yang peduli lingkungan dan mandiri dalam pengelolaan sampah. Dengan pengetahuan dan pendampingan yang tepat, sampah bukan lagi masalah, melainkan potensi emas bagi masyarakat,” pungkas Saipul. (ABN/dan)
- Gebrakan Bappelitbang Sumut: Konsolidasikan 35 NGO Demi Akselerasi Prioritas Pembangunan Daerah – Januari 27, 2026
- Juaksa Sinaga Kembali Pimpin PPTSB Cabang Medan Barat Periode 2026–2030 – Januari 26, 2026
- Kunjungi SMAN 3 Medan, AHY Tekankan Pentingnya Keseimbangan Akademik dan Karakter – Januari 23, 2026











