MEDAN – Pengamat komunikasi politik Islam dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof Dr Anang Anas Azhar MA menilai, ketegangan Amerika Serikat (AS) dengan Iran belum mengarah kepada perang terbuka yang berdampak kepada dunia global. Ketegangan ini masih sekadar “perang diplomasi”, kedua negara masih saling ancam untuk berperang.
“Ketegangan tetap terjadi, saling mengisi kekuatan persenjataan. Namun, saya menilai eskalasinya masih sekadar perang narasi saja, menjaga kehormatan negara AS dan Iran,” kata Prof Anang menjawab wartawan di Medan, Minggu (08/02/2026).
Dia menyebutkan, perang fisik adu kekuatan senjata masih mempertimbangkan politik global. Baik AS dan Iran masih saling “menjaga” harga diri, meski di tengah ketidakpastian politik global, kedua negara ini menjadi sumbu utama kekuatan politik dunia.
“Yang terjadi saat ini, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menanjak, tetapi belum mengarah pada “perang terbuka” dalam arti invasi skala penuh. Saya menilai, titik klimaks terbaru, hanya berpusat pada perundingan tidak langsung di Oman soal nuklir, di tengah penumpukan kekuatan militer AS di kawasan dan pernyataan keras Teheran tentang uranium,” katanya.
Dalam aspek komunikasi politik, menurut Prof Anang, Iran masih mempopulerkan pengayaan uranium untuk memperkuat kedaulatan dan martabat negaranya. Sedangkan Amerika Serikat, tidak mau kalah dengan memunculkan isu kekuatan dunia dalam invasi ekonomi dan perang global.
Seperti diketahui, bahwa di Washington – AS, isu Iran juga menjadi agenda strategis. Bahkan AP melaporkan PM Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump untuk membahas arah pembicaraan AS–Iran, termasuk isu misil dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Prof Anang menegaskan, Jika dilihat dari aspek komunikasi politik Islam, pembacaan kekuatan tidak berhenti pada pernyataan siapa punya rudal lebih banyak, melainkan siapa lebih mampu membangun legitimasi moral, dukungan publik dan kontrol narasi.
Disebutkannya, tantangan komunikasi AS pada aspek komunikasi politik, AS sering sekali dibaca sebagai aktor dengan rekam jejak intervensi. Maka, dalam narasi ini membuat AS perlu penguatan untuk legitimasi banyak negara.
Selanjutnya, Iran katanya, sedang menghadapi resistensi di sebagian negara Muslim, terutama bagi yang khawatir pada eskalasi sektarian atau dampak ekonomi. Iran membutuhkan narasi yang tidak hanya anti AS, tetapi juga pro-stabilitas umat.
“Jika eskalasi menghasilkan penderitaan sipil, instabilitas ekonomi, dan polarisasi Sunni–Syiah, maka yang kalah bukan hanya pihak yang diserang, melainkan kawasan Muslim secara keseluruhan,” ujar Prof Anang yang juga Wakil Dekan III FDK UIN Sumatera Utara ini.
Prof Anang menyebutkan, saat ini negara-negara Muslim Timur Tengah bukan sekadar penonton. Mereka juga menentukan, apakah konflik menjadi regional atau diredam. Salah satunya, Omansebagai negara Muslim tampil sebagai kanal mediasi perundingan negara Islam di Kawasan Timur Tengah.
“Saya melihat, saat ini sejumlah aktor di Kawasan Timur Tengah, mendorong pembatasan dan formula kompromi. Misalnya, Mesir, Turki, dan Qatar mengajukan gagasan pembatasan terkait isu nuklir, walau hasilnya belum jelas,” katanya. ** MSJ
- FUAD IAIN Langsa Benchmarking ke FDK UIN Sumatera Utara – Februari 10, 2026
- Pengamat : Ketegangan AS-Iran Masih Perang Diplomasi Politik – Februari 8, 2026
- PkM Internasional FDK UINSU Medan–PEKA Malaysia, Hadirkan Trauma Healing bagi Anak Korban Banjir Aceh Tamiang – Februari 6, 2026











