Beragama : Wasathiyah Vs Moderasi

Salahuddin Harahap MA. (foto/msj)

Oleh: Salahuddin Harahap

Meskipun kehadiran agama adalah dalam rangka menyelamatkan manusia, masyakat dan dunia dari kekacauan, kerusakan bahkan kesesatan, tetapi tetap saja ada peluang agama dapat menjadi sebab bagi kekacauan, kerusakan maupun kesesatan tersebut. Hal itu bisa terjadi jika agama atau ajarannya telah secara keliru dipahami di tafsirkan dipahamkan dan diaktualisasikan dalam aksi nyata kehidupan.

Terdapat paham yang dibangun di atas wahyu Tuhan tetapi justru berpotensi menentang maunya Tuhan. Begitu pun juga ada aksi yang disandarkan kepada wahyu atau agama tetapi malah menabrak substansi agama itu sendiri. Sebagai dampaknya agama sering hadir sebagai musuh agama “religion vs religion”. Sekelompok pemeluk yang taat  terhadap agama telah hadir untuk memusuhi, memerangi bahkan menghancurkan kelompok lain yang juga pemeluk agama yang taat yang nota bene agama yang diturunkan oleh Tuhan Yang Esa lewat para Nabi.

Situasi ini, telah mendudukkan agama dalam dilema setidaknya agama sebagai yang dipahami manusia. Krisnamurti misalnya beralih dari dan “mencela” semua agama dan menyimpulkan bahwa agama telah gagal mengawal manusia dan kemanusiaan sejati karena kerumitan dan kekakuannya. Sejumlah spiritualis dengan alasan yang hampir mirip juga memutuskan untuk membangun relasi dengan kebenaran dengan Tuhan tanpa melewati jalur agama. Pada situasi inilah, penting mendudukkan kembali agama sebagai fitrah yang dipasangkan dan diselaraskan dengan fitrah manusia dan alam semesta. Bagaimana bisa yang sejal semula didesain agar sejalan dan selaras, tetapi kemudian saling berhadap-hadapan dan bertentangan. Bagaimana bisa Agama yang sengaja diturunkan Tuhan untuk penyelamatan daan kedamaian, tetapi kemudian menjadi sebab bagi kerusakan dan kehancuran. Pertanyaan inilah yang ingin dijawab lewat tulisan singkat ini.

Wasathiyah ke Moderasi

Agama mestinya merupakan produk langsung Tuhan (revival) dianugerahkan kepada manusia untuk menjadi fathner pertama bagi akal manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam kehidupan di bumi. Status agama sebagai titah langsung Tuhan menjadi penting, sebab yang paling faham atas kebutuhan manusia pastilah Tuhan yang mendesain dan menciptakannya. Agama dikonstruksi berdasarkan desain penciptaan manusia sehingga keduanya agama dan manusia dapat bertemu pada satu titik yang disebut “fitrah”.

Pada Surat ar-Rūm ayat 30 Allah Swt berfirman yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Ayat ini mendudukkan Agama sebagai setara dengan manusia sehingga keduanya sama-sama disebut sebagai fitrah.

Dalam konteks ini Agama (al-Dien) tidak boleh dilihat sebagai salah satu dari sejumlah nama yang dikenali sebagai Agama sepanjang sejarah manusia yakni: Islam, Yahudi, Kristen, Katholik, Zen, Zoroaster, Hindu, Budha dan seterusnya. Agama dalam konteks ini berada di atas serta melampaui sekat-sekat yang digunakan untuk membedakan antara satu dengan lainnya dari ajaran dan aktualisasi yang disebut agama-agama tersebut.

Agama ini disebut Agama Wasathiyah yakni Agama dengan ajarannya yang dapat menjadi payung besar bagi agama-agama tersebut. Ada juga yang memaknai Wasathiyah dengan Wasit atau Hakim yakni yang menjadi juri atau pemutus serta pengawal bagi yang disebut agama-agama tersebut, seterusnya memastikan kehadiran agama-agama bagi pemeluknya harus dalam tujuan memelihara manusia dan kemanusiaan, bukannya malah menggeser manusia dari fitrahnya dan eksistensinya.

BACA JUGA :  ISLAM YANG IDENTIK DENGAN DAULAT NEGARA: (Respon atas Polemik 'Perlunya Bergeser dari Kitab Suci ke Konstitusi')

Integrasi Agama dengan Manusia sudah dimulai sejak pun manusia belum dicipta di dunia. Itulah sebabnya Allah Swt memilih Islam sebagai nama bagi Agama yang dibangunnya sebagai pasangan manusia itu (Q. S. Ali Imran:3).

Sebagai Agama (al-dien), sebenarnya  Agama dalam hal ini tidak perlu diformalkan apalagi mengharuskan terbangunnya batasan-batasan atau sekat-sekat yang menjadikan agama tersebut menjadi harus terpisah atau terasing dari manusia itu. Agama Allah Swt ini tidak boleh menjadi hanya milik kelompok tertentu dari manusia dan kemudian memaksanya terputus dari manusia lainnya hanya karena ada perbedaan sudut pandang dan tafsir.

Agama dalam makna Wasathiyah harus dipandang sebagai titah Tuhan (wahyu) universal berisi prinsip, nilai, ajaran, konsep, teori hingga strategi dan aksi yang dapat menyelamatkan manusia dan alam semesta. Memelihara fitrah manusia dalam menapaki hidup di dunia.

Mengacu kepada pemaknaan ini, maka Agama semua Nabi sejak Adam As adalah apa-apa yang dipahami, diajarkan, dipahamkan dan disebarkannya dari prinsip, nilai, konsep, teori, straregi dan aksi yang bertujuan untuk penyelamatan manusia dan alam semesta dari kerusakan, kehancuran dan kesesatan. Keseluruhan substansi dan aktualisasi inilah yang disebut Agama Wasathiyah yang merupakan agama yang dibawa semua Nabi sejak Adam As hingga Muhammad Saw.

Pastilah ada perbedaan antara aktualisasi dinu al-Islam ini pada masing-masing Nabi terutama pada ranah pemahaman, bagaimana memahamkan dan mengimplelementasikan agama ini dalam aksi nyata kehidupan. Tetapi, patut diyakini bahwa di bawah pengawalan para Nabi agama tidak akan pernah lekang dari statusnya yang fitrah serta tidak akan berpaling dari fungsinya sebagai penyelamat dan pemelihara manusia, kemanusiaan dan alam semesta.

Sepeninggal para Nabi, agama sepertinya mulai kehilangan orisinalitasnya. Pasac penutupan wahyu lewat informasi pada al-Qur’an Surat al-Maidah: 3, agaknya telah memosisikan agama bagai kehilangan dimensi up to date-Nya. Percisnya, sepeninggal pembawa wahyu terakhir, agama mulai tidak dapat bersanding secara utuh dengan manusia. Keselarasan keduanya pada fitrah mulai tergradasi bahkan sesekali masing-masing telah mengambil jalan yang berbeda bahkan kontras.

Dalam situasi ini seluruh yang disebut agama, dapat diduga telah meninggalkan statusnya yang Wasathiyah- pengawal fitrah. Agama-agama ini mulai berpolarisasi untuk kemudian menjadi pembentuk identitas-identitas bagi manusia baik individu maupun kelompok. Masing-masing dari agama ini mengonstruksi ajaran-ajaran yang khas kemudian secara distingtif menjadikan satu agama berdiri berdampingan dengan agama lainnya.

Pada level setara ini, persentuhan bahkan gesekan antara satu dengan lainnya dari agama-agama ini, hampir mustahil untuk dihindarkan. Sejarah panjang kehidupan beragama telah mementaskan bagaimana kelamnya dunia ketika satu agam dengan lainnya terpaksa saling berhadapan dimana salah satu agama harus memusuhi dan menyesatkan agama lainnya. Betapa banyak film kematian, kehancuran serta pengkhianatan yang dipertontonkan sejarah perang salib yang demikian panjangnya. Begitu pun dengan perang penghancuran Yahudi yang digencarkan Nazi yang dikenal sebagai peristiwa Holocaust dan seterusnya.

BACA JUGA :  Perangkap Politik Dinasti

Menyadari hal ini, penting bagi setiap agama untuk menoleh sisi-sisi elastis dan inklusif dari ajarannya untuk kemudian dapat dirajut sebagai titik temu. Sebagai yang sama-sama bersumber dari yang Wasathiyah, pastilah setiap agama memiliki setidaknya titik yang mungkin untuk saling direlasikan dan dinegosiasikan. Tentu upaya ini tidak dalam upaya penyeragaman tetapi hanya untuk penyetaraan agar setiap pemeluk agama dapat hidup secara harmoni dan tanpa permusuhan. Penting diingat bahwa setiap dari upaya penyetaraan mesti menyisakan suatu pengorbanan demi tercapainya tujuan penyetaraan itu, yakni lahirnya sikap dan perilaku toleransi, saling menghargai dan menghormati. Dalam rangka inilah setiap agama perlu melakukan upaya moderasi terutama di level pengamalan atau aksi. Suasana harmoni berbasis moderasi ini diduga tidak mungkin dapat bertahan lama karena ia sangat bergantung kepada obyektifitas berpikir. Sementara mayoritas pada implementasi ajaran agama terang saja akan melibatkan perasaan, emosi dan subyektifitas. Karena itu konsep moderasi tidak boleh dilihat sebagai upaya akhir dalam pengelolaan keberagamaan.

Perlu ada upaya peningkatan pengelolaan ini kepada level yang lebih sederhana dan lebih otentik yakni lewat pencapaian dimensi Wasathiyah Agama. Dalam ruang, waktu serta konteks yang begitu beragam, para Nabi telah menyimulasikan bagaimana agama diaktualisasikan lewat ajaran dan nama yang beragam, tetapi tetap dapat mempertahankan kemurniannya sebagai titah langsung dari Tuhan Yang Esa. Setiap Nabi, menekankan keterhubungan risalah yang dibawanya dengan Nabi sebelumnya, serta mewasiatkan keterhubungan yang berlanjut dengan risalah Nabi sesudahnya, meskipun terdapat perbedaan yang nyata dalam praktiknya masa demi masa.

Penutup

Harmoni yang dibangun di atas toleransi ini disebut sebagai moderasi yang melaluinya diyakini agama dapat menjadi media pemersatu umat. Namun, patut diingat bahwa kebersatuan dan kebersamaan yang dilandaskan pada pendekatan ini bersifat sangat rapuh dan bahkan semu. Seorang pemeluk agama tertentu, mesti dapat mengelola kecenderungannya secara subyektif untuk meyakini ajaran agamanya sebagai lebih baik dan lebih mulia dari ajaran agama lain demi terbinanya kebersamaan.

Karenanya rumusan moderasi beragama mesti dilihat sebagai langkah awal dallam pengelolaan kehidupan beragama untuk kemudian bergerak lebih maju menuju titik Wasathiyah dimana ajaran agama-agama direduksi hingga ditemukan bahwa yang ada hanya satu agama yakni Agama Wasathiyah. Pencapaian level Wasathiyah yang diduga dapat ditapaki melalui ajaran semua Agama, dipandang penting sebagai fondasi yang lebih substantif bagi pengawalan Agama sebagai penjaga manusia dan alam semesta dari kehancuran, kerusakan dan kesesatan. **

** Penulis adalah Dosen Filsafat UINSU, Ketua Gerakan Dakwah Kerukunan & Kebangsaan (GDKK) Pusat

 

1,341 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *