Scroll untuk baca artikel
#
BeritaUniversitarian

Etika Profetik untuk Keadaban Publik, Pesan Kuat di Pengukuhan Guru Besar UMSU

×

Etika Profetik untuk Keadaban Publik, Pesan Kuat di Pengukuhan Guru Besar UMSU

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Studi Islam UMSU berfoto bersama Mendikdasmen RI sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu'ti, Rektor UMSU Prof. Agussani, MAP dan pengurus PWM Sumut.

MEDAN – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengukuhkan Guru Besar dalam bidang Studi Islam di Auditorium Kampus Jalan Kapten Mukhtar Basri, Medan, Senin (16/2). Momentum akademik ini diwarnai refleksi mendalam tentang krisis kebenaran di era digital yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti mengutip buku The Future of Truth yang menggambarkan dunia semakin sulit membedakan antara fakta dan fabrikasi, antara kebenaran dan hoaks.

“Kebenaran itu tidak punya harapan, tidak punya masa lalu. Tetapi kita tidak boleh putus asa dalam mencari kebenaran,” ujarnya saat memberikan pesan tentang tantangan era post-truth dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, kecerdasan buatan merupakan kelanjutan dari revolusi komputer yang kini mengubah tata kehidupan manusia secara signifikan. Di tengah kemajuan teknologi, manusia kerap merasa semakin berkuasa dan perlahan menjauh dari nilai-nilai ketuhanan.

“Di era ini agama selalu menghadapi tantangan, salah satunya ateisme. Kemajuan teknologi membuat manusia merasa dirinya berkuasa, padahal semuanya tetap dalam kehendak Tuhan,” tuturnya.

Ia menegaskan, dalam era post-truth, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu atau hukum, melainkan oleh popularitas dan viralitas. Bahkan, katanya, viralitas dapat direkayasa oleh robot.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dapat memicu kesepian dan kekosongan makna dalam kehidupan manusia. Karena itu, kehadiran tokoh agama dan cendekiawan tetap relevan.

“AI tidak memiliki dimensi moral untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Di sinilah peran ulul albab dan ulul abshar sangat diperlukan,” ujarnya.

BACA JUGA :  Merasa Dirugikan, Kades Sampali Akan Tempuh Jalur Hukum atas Berita Fitnah

Ia menambahkan, profesor bukan sekadar jabatan akademik, melainkan harus menjadi teladan intelektual, agen perubahan peradaban, sekaligus agen perubahan spiritual.

Pada kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan tahniah atas dikukuhkannya Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A sebagai Guru Besar Studi Islam. Selain sebagai dosen UMSU, ia juga menjabat Bendahara PWM Sumut.

Sebelumnya, Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, melalui tayangan video mengingatkan agar capaian Guru Besar tidak berhenti sebagai simbol akademik semata.

“Jadikan ini awal perjalanan ilmu, bukan akhir. Jangan sampai guru besar hanya memperbanyak menara gading di PTMA, tetapi harus memberi dampak signifikan bagi umat dan bangsa,” pesannya.

Rektor UMSU, Prof. Dr. Agussani, MAP, menyebut pengukuhan ini merupakan yang kedua pada tahun 2026. Tahun ini, UMSU menargetkan tujuh Guru Besar baru, dengan total 34 calon Guru Besar yang tengah berproses.

“Pidato pengukuhan ini diharapkan menjadi bagian tak terpisahkan dalam menjaga kualitas universitas,” katanya.

UMSU juga terus melakukan pengembangan program studi, mulai dari peningkatan D3 Perpajakan menjadi S1 Perpajakan, akselerasi pendirian program Spesialis Bedah, Paru dan Respirasi, hingga rencana pembukaan program Spesialis Anak, Penyakit Dalam, dan Neurologi.

Selain itu, pengembangan dilakukan pada program non-kedokteran seperti Psikologi, Hubungan Internasional, Bisnis Digital, dan Rekayasa Keamanan Siber.

“Pengusulan Guru Besar Prof. Qorib berlangsung sangat cepat. Diajukan Oktober 2025 dan langsung disetujui untuk diproses,” jelasnya.

Sorotan Etika Profetik

Dalam pidato ilmiahnya bertajuk “Agama, Etika Profetik dan Keadaban Publik”, Prof. Muhammad Qorib menyoroti kompleksitas tantangan agama di era modern.

BACA JUGA :  UINSU Medan Wisuda 2.329 Lulusan, Rektor: Tampilkan Wajah Islam Moderat dan Solutif

Ia menilai kemajuan teknologi telah menyedot perhatian publik secara besar-besaran, bahkan membuat sebagian orang menganggap agama tidak lagi penting.

“Agama menghadapi persoalan kompleks. Kemajuan teknologi menyedot perhatian besar. Bagi sebagian orang, agama dianggap tidak penting dan harus ditinggalkan,” ujarnya.

Ia mempertanyakan paradoks sosial yang terjadi. “Mengapa umat beragama tidak sejahtera, padahal agama hadir untuk mensejahterakan?” katanya.

Menurutnya, keadaban digital masyarakat Indonesia masih rendah, meski dikenal religius dan santun.

“Kita dikenal santun, tetapi bisa sangat beringas di media sosial,” tegasnya.

Prof. Qorib juga mengkritisi fenomena komodifikasi agama dan pemahaman yang tidak inklusif.

“Agama dipahami hanya secara normatif, bukan dalam konteks sosial-historisnya. Bahkan kerap dijadikan komoditas,” ungkapnya.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya Etika Profetik yang mengandung nilai humanisasi dan transendensi untuk membangun keadaban publik yang lebih bermartabat.

Acara pengukuhan turut dihadiri jajaran pimpinan Muhammadiyah, unsur Kemendikdasmen, DPRD Kota Medan, MUI Sumut dan Kota Medan, pimpinan perguruan tinggi, tokoh lintas iman, 27 PDM/PDA se-Sumut, serta keluarga Guru Besar. (ABN/dan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *