Konflik Partai Demokrat Reflikasi Strategi Kudatuli PDIP

Mantan Presiden RI SBY. (foto/ist)

Asaberita.com – Medan – Tokoh aktivis ‘98menilai gaya perlawanan AHY yang menggalang dukungan cap jempol darah, aksi demonstrasi ke Depkumham RI dan melakukan mimbar bebas merupakan reflikasi strategi PDIP melawan gaya orba dalam peristiwa kudatuli 1996.

“Aksi demontrasi, mimbar bebas dan gerakan cap jempol darah yang dilakukan Ketum Partai Demokrat AHY beserta jajaran pengurus dan simpatisan bertujuan untuk meluaskan isu serta menarik dukungan kaum oposisi dan simpati publik. Pola dan metode perlawanan seperti ini merupakan reflikasi dari strategi yang di lakukan PDIP dan kaum gerakàn pada peristiwa kudatuli 1996 yang berdampak membesarnya nama Megawati menjadi ikon pahlawan rakyat kecil serta mampu menjadikan PDIP pemenang pemilu 1999,” kata Koodinator Aktivis ‘98 Muhammad Ikhyàr Velayati Harahap, di Medan, Selasa  (09/3).

Sebelumnya Ketum Partai Demokrat AHY beserta jajaran pengurus DPP, pengurus wilayah, anggota DPR RI beserta ratusan simpatisan Partai Demokrat melakukan unjuk rasa dan mimbar bebas menuntut agar Kemenkumham menolak keabsahan hasil ķepengurusan KLB Partai Demokrat versi Muldoko, di Kantor Kemenkumham Jakarta, Senin (8/3/2021).

Ikhyar memprediksi Partai Demokrat akan membuat panggung perlawanan hukum dan ekstra di parlemen. “Selain aksi unjuk rasa, mimbar bebas serta pembentukan Front, Partai Demokrat kubu AHY menurut saya akan melakukan perlawanan hukum dengan mengajukan gugatan perdata jika Menkumham mensahkan PD kubu Muldoko, nyaris hampir sama pola, strategi dan metode gerakannya dengan PDI tahun 96,” katanya.

BACA JUGA :  Buntut Wadek III FSH Arogan, Rektor UINSU Minta Maaf

Ikhyar pesimis strategi reflikasi tersebut berhasil karena saat ini berbeda kimiawi dan material politiknya. “Tetapi gerakan untuk membesarkan AHY dan Partai Demokrat lewat strategi dan pola pola klasik tersebut tidak akan berhasil menurut saya, karena kimiawi dan basis material politiknya sangat berbeda,” katanya.

Ikhyar menjelaskan situasi nasional dan kondisi subjektif gerakan saat itu. “ Pada saat rezim Orba Demokrasi di tindas dan kekuasaan di lakukan semena mena, dukungan terhadap rezim mulai melemah, sehingga momentum 27 juli merupakan kanal dan wadah rakyat untuk bangkit melawan,” katanya.

Dia mengatakan, saat ini justru berbeda 24 derajat, Pemerintahan Jokowi terpilih secara demokratis, ruang demokrasi terbuka luas dan pemerintah justru bersikap netral dalam konflik internal Partai Demokrat, walaupun ada upaya untuk menjebak,  meminta dan menyeret pemerintah agar terlibat dalam konflik tersebut. Pemerintah saat ini sedang fokus bekerja sama dengan rakyat dan kaum pro demokrasi untuk meminimalisir dampak covid 19 serta pemulihan ekonomi.

BACA JUGA :  Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sumut Capai 82,45%

“Point yang paling pentìng, justru tingkat kepercayaan rakyat, ormas dan aktifis sosial kemasyarakatan terhadap parpol menurun drastis, atau bisa di katakan rakyat tidak peduli dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan parpol,” katanya.

Ikhyar menyarankan Partai Demokrat agar mènggunakan strategi turun dan bekerja bersama rakyat untuk meningkatkan elektabilitas AHY maupun Partai Demokrat.

“Jadi, strategi dan pola reflikasi peristiwa kudatuli 1996 untuk membesarkan AHY dan Partai Demokrat menurut saya akan gagal, dalam situasi pandemi covid 19 dan krisis ekonomi strategi yang paling jitu untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas Parpol justru dengan turun dan bergotong royong dengan rakyat dalan menyelesaikan persoalan kesehatan dan pemulihan ekonomi rakyat, jangan suka berhalunisasi membesarkan partai berbasis masa lalu,” katanya. ** msj

594 total views, 6 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *