Membongkar Rahasia Sholat Bagi Kesehatan Mental

Sumirah Lubis. (foto/msj)

Oleh : Sumirah Lubis

 

Belakangan ini, kita sering menemukan maslah berkaitan dengan agama dan sains. Khususnya masalah relasi agama dan kesehatan (sains). Tahukah kamu apa itu relasi agama dan sains? Agama dan sains adalah kekuatan yang mampu mentransformasikan kehidupan manusia. Keduanya berusaha mengarahkan dan memberi kesejahteraan bagi umat manusia.

Agama adalah kesempurnaan ekistensi manusia, sumber vitalitas yang mewujudkan perubahan dunia dan melestarikan kehidupan manusia. Kualitas suatu perubahan ditentukan kualitas agama yang menjadi dasarnya. Sedangkan Sains menurut istilah merupakan serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejalan-gejala alami, pemahaman, penjelasan, atau penerapan.

Kesadaran untuk tidak mempertentangkan sains dan agama, merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Dalam tradisi muslim, relasi agama dan sains juga mengalami dinamika yang menggembirakan dan meyakinkan. Sebagaimana di dalam Al-Qur’an juga telah menunjukkan dimensi baru terhadap studi mengeai fenomena alam dan ilmu pengetahuan di bumi ini. Dalam Al-Qur’an diungkapkan bahwa Sains atau Ilmu Pengetahuan dan Al-Qur’an merupakan dua aspek kebenaran yang sama dan tidak ada pertentangan diantara kedunya. Kita juga sudah mengetahui bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw pun memerintahkan kepada umat islam supaya menuntut ilmu pengetahuan.

Dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan bagaimana relasi antara sholat dengan kesehatan mental. Lalu apakah kamu tahu apa itu kesehatan mental? Kesehatan mental merupakan kesehatan jiwa yang memasalahkan kehidupan kerohanian yang sehat, dengan memandang pribadi manusia sebagai satu totalitas psiko-fisik yang kompleks, manusia yang menyadari potensi dirinya sendiri, dapat menghadapi tekanan yang normal dalah kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan baik, dan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi komunitasnya.

Di era sekarang, kesenangan dan segala fasilitas hidup hampir terpenuhi, maka tidak ada alasan untuk mengeluh dan mnederita. Tapi sesungguhnya kesenangan dan fasilitas hidup itu tidak mampu mendatangka kebahagiaan. Bahkan yang terlihat mewarnai zaman modren yaitu kecemasan, kegelisahan dan kehilangan  ketentraman batin yang menimbulkan berbagai macam masalah pada mental manusia.

Dalam hubungannya pada aspek ruhaniah, seseorang sangat berhungan erat dengan kebutuhan perkembangan jiwa dan mental seseorang. Oleh karena itu, aspek tersebut tidak kalah penting dari aspek lainnya. Sementara itu, kesehatan mental yang sudah kita ketahui bersama adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan jiwa dan gejala-gejala penyakit jiwa. Kesehatan mental bertujuan unruk mencegah timbulnya gangguan atau penyakit jiwa dan gangguan emosi, dan berusaha mengurangi atau menyembuhkan penyakit mental. Terdapat empat hal yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang dintaranya adalah perasaan, pikiran, kelakuan dan kesehatan badan.

BACA JUGA :  Membangun Motivasi Belajar Daring di Era Covid-19

Aspek ruhaniah seseorang itu dapat dibina dan dibimbing dengan cara mengenal dan mengimplementasikan pengalaman-pengalaman dasar agama yang kuat, sehingga kebuthan-kebutuhan mental seseorang dapt terlaksana dan seimbang. Di dalam ajaran agama islam yang membawa obat kejiawaan dan ketentraman batin, tidak mudah diterima oleh masyarakat bila diajikan dengn cra yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa seseorang. Agama dapat berfungsi sebagai pengendali perbuatan dan perkataan. Apabila agama sudah masuk  ke dalam kepribadian seseorang, maka kepribadin itulh yang menggerakkan seseorang itu untuk bertindak  dan berprilaku.

Dalam ajaran agama islam, sholat menempati kedudukan yang sangat penting. Sholat juga merupakan salah satu rukun  islam yang menjadi tonggak berdirinya agama Islam. Sholat merupakan salah satu ibadah ynag paling mulia dan paling dicntai oleh Allah swt. Bahkan Nabi SAW sendiri telah menegaskan tentang kedudukan sholat dalam agam, yaitu dalam sabda beliau berbunyi, “sholat merupakan tiang agama”. Sholat ialah berhadap hati kepada Allah sebagai ibadah , dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam serta menurut syarat-syarat yang telah ditentukan.

Dengan shalat, manusia bisa mencapai derajat keyakinan yng dimahkotai ketengan. Manusia yang melakukan ibadah sholat akan  berbedan dengan orang yang tidak melakukan sholat. Oleh karena itu Allah swt mengecualikan mereka dengan ketidakstabilan jiwa, Allah SWT berfirman dalam (QS. Al-Ma’arij: 19-23) yang artinya:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, (19) Apabila ia ditimpa kesushan ia berkeluh kesah, (20) Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (21) Kecuali orang-orang yangmengerjakan shalat, (22) Yng mereka itu tetp mengerjakan shalatnya, (23).

Orang yang melaksanakan ibadah shalat mempunyai jiwa yang stabil dan tenang. Tidak ada yng membedakan antara kondisi harta yang kecukupan dengan tanpa harta sekalipun. Kemiskinan bukan wajah yang berbeda dngan kekayaan. Modal utama menjadikan kehidupan seimbang adalah peningkatan dimensi spiritual berupa shalat.

Berikut pengaruh shalat bagi keehtan mental, yaitu, pertama, Ketanagan Jiwa. Ketangan jiwa adalah keadaan seseorang dlm keseimbangan hidup. Orng mampu mengkondisikan dirinya dimanapun ia berada, baik dengan lingkungan maupun manusia sekitarnya. Mampu menjaga pikiran, perasaan dan per buatan, tidak berprasangka buruk, tidak gelisah, penuh pertimbangan dan sikap tenang. Dalam hal ini, pelaksanan shalat diarahkan untuk mencapai jiwa yang tentram, tenang, dan damai serta terhindar dari kecemasan serta rasa takut kesempitan batin. Melalui shalat juga diharapkan agar jiwa menjadi aman dan tidak merasa cemas serta sedih.

BACA JUGA :  Menggali Sisi Positif Kuliah Daring

Kedua, Tawakal. Tawakal adalah membebaskan  hati dari ketergantungan kepada selain Allah SWT dan menyerahkan segala keputusan hanya kepada Allah SWT. Sifat ini merupakan buah keimanan karena seorang mukmin harus meyakini bahwa segala urusan itu harus diserahkan kepadanya daN ridha atas segala kehendaknya, tidak takut menghadapi masa depan dan tidak kaget dengan segala kejutan. Tawakal harus disertai ikhtiar (usaha), tidak disebuut tawakkal jika terjuan bebas tanpa disertai usaha.

Orang bertawakal akan merasakan ketenangan dan ketentraman memnuhi semua relung jiwa, sehingga tidak merasakan kecuali rasa aman disaat oranglain merasa takut, rasa tenang  disaat orang lain merasa bimbang, keteguhan hati disaat orang lain merasa goyah. Apabila yangtelah dilakukn itu tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT maka hati akan merasa cemas akan apa yang telah dia lakukan. Hal ini dikarenakan hati adalah cerminan dari seorang mukmin, untuk itu, dalam berikhtiar harus disertai dengan tawakalagar apa yng dilakukaan selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT.

Ketiga, Nilai kebersamaan. Salah satu kesempurnan sholat adalah dilakukan berjamaah dan lebih utama bila dilakukan di masjid. Melakukan ibadah shalat di mesjid atau musholaa diharakan akan menjadi terapi dengan mengalihkan perhatian seseorang dari kesibukan yang sudah menyita segala energi yang ada dalam diri seseorang dan kadang-kadang sebagai pnyebab stres. Lingkungan masjid atau musholla akan memberikan suasana rileks, tenang dan damai. Di samping itu, lingkungan masjid yangsyarat dengn kegiatan baik itu kegiatan keagamaan maupun sosial, akan membawa pengaruh yang baik bagi tingkah laku seseorang maupun memacu prestasi.

Untuk itu, marilah kita sama-sama meningkatkan kualitas ibadah sholat agar kesehatan mental kita lebih terjaga serta ketenangan hati dan jiwa kita senantiasa terjaga.** msj

*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FITK UINSU Medan, peserta KKN-DR 2020 Kelompok 119**

1,710 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *