BINJAI — Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Binjai, Sumatera Utara, sejak Jumat (6/3/26). Warga dilaporkan mulai memadati SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) setelah muncul kekhawatiran akan potensi kelangkaan pasokan.
Salah satu lokasi yang mengalami antrean cukup panjang adalah SPBU di kawasan Tanah Tinggi, Jalan Soekarno-Hatta, Binjai. Sejak dini hari, kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat silih berganti datang untuk mengisi BBM. Antrean bahkan dilaporkan berlangsung lebih dari 24 jam.
Sejumlah warga mengaku khawatir pasokan BBM akan terbatas dalam beberapa waktu ke depan. Kekhawatiran tersebut dipicu oleh isu gangguan distribusi minyak dunia menyusul memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Informasi yang beredar menyebutkan adanya gangguan pada jalur perdagangan minyak global, termasuk Selat Hormuz yang dikenal sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut disebut-sebut berdampak pada pergerakan kapal tanker minyak internasional.
Di sisi lain, pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang beredar di sejumlah media digital juga menyebutkan bahwa cadangan BBM nasional diperkirakan hanya mencukupi untuk sekitar 20 hari ke depan. Informasi tersebut turut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat BBM merupakan kebutuhan vital bagi aktivitas ekonomi dan transportasi.
Pemerintah Kota Binjai menyatakan masih memantau perkembangan situasi tersebut. Kepala Bagian Perekonomian Setdako Binjai, Andi Afandi, mengatakan pihaknya menunggu konfirmasi resmi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terkait kemungkinan perubahan penyaluran kuota BBM ke SPBU di sejumlah daerah.
“Kami masih memantau perkembangan situasi dan menunggu konfirmasi dari Pemprov Sumut terkait distribusi BBM. Sampai saat ini belum ada rincian mengenai kemungkinan pengurangan kuota dari Pertamina,” ujar Andi Afandi saat dikonfirmasi melalui telepon seluler.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan sambil menunggu informasi resmi dari pemerintah dan pihak terkait.
(ABN/Qhusyai)











