TURNBACK RADICALISM: KEMENAG PERLU MENYAPU RUMAH SENDIRI

(Refleksi HAB Kemenag 03 Januari 2021)

Salahuddin

Oleh Dr Salahuddin Harahap MA *

SEBAGAI instansi utama penanggungjawab amanah Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, Kemenag RI mesti benar-benar dapat tampil pada garda terdepan dalam Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama di Indonesia.

Hal tersebut, karena patut diduga bahwa Instansi Kemenag inilah yang paling potensial untuk dapat memahami secara komprehensif akar utama persoalan radikalisme, ekstrimisme dan intoleransi serta upaya dan strategi penanganannya di negeri ini.

Disebut demikian karena secara organisasi dan kelembagaan, Kemenag telah memiliki struktur organisasi yang amat lengkap dari Pusat hingga ke tingkat paling rendah di tengah-tengah masyarakat yakni RW/RT, lingkungan, dusun atau yang setara.

Di samping itu, Kemenag telah memiliki sumber daya yang cakap, memiliki wawasan dan pemahaman yang cukup tentang Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama di setiap pos jabatan dan fungsional organisasi yang meliputi seluruh wilayah dan semua agama yang diakui di Indonesia.

Lebih jauh, Kemenag juga telah memiliki atau mengkoordinir sejumlah Perguruan Tinggi, Balai Diklat, Sekolah serta Lembaga Pendidikan lainnya yang dapat mewadahi dan memfasilitasi penyelenggaraan Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama terutama dalam hal perluasan literasi, pembinaan generasi serta sosialisasi program dimaksud kepada berbagai segementasi dan wilayah di seluruh Indonesia.

Hal lain yang lebih penting adalah Kemenag memiliki kewenangan yang sangat besar untuk membuat kebijakan dan program serta memiliki budgeting yang cukup rasional untuk dapat menjadi leading sector utama dalam pelaksanaan Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama di Indonesia.

Keputusan Presiden Joko Widodo menunjuk Gus Yaqut sebagai Menteri Agama dengan track record, komitmen dan semangatnya yang tinggi dalam menyuksesakn program ini, telah menjadi energi baru yang akan mendongkrak keberhasilan program ini di masa depan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, sejatinya Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama di Indonesia mestinya, akan dapat berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan radikaisme, ektrimisme dan intoleransi yang masih marak seperti saat ini.

MENYAPU RUMAH SENDIRI

Salah satu kata kunci bagi keberhasilan sebuah program, adalah ketika terdapat Tim Kerja yang baik yang biasa disebut sebagai Dream Team. Tim Kerja yang baik sendiri, baru akan terbentuk ketika SDM pengisi tim tersebut setidaknya memiliki dua (2) hal yakni: Pertama, Nalar Kritis– sebuah modal yang diperlukan untuk mampu memahami persoalan radikalisme secara komprehensif mulai dari akar penyebab, faktor pendukung, bahaya dan dampaknya bagi kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa.

Lewat nalar kritis tersebut, para stakeholders atau Tim Kerja Kemenang di semua tingkatan, diharapkan dapat memahami potensi dan modal apa yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan radikalisme tersebut, mampu melihat berbagai hambatan dan tantangan hingga dapat merumuskan program dan strategi yang tepat untuk digunakan dalam penanganan permasalahan tersebut di wilayah kerjanya masing-masing.

Namun untuk sampai pada kemampuan memiliki nalar demikian, seseorang mesti memiliki cara pandang yang sama dengan pemerintah terhadap radikalisme, ekstrimisme, deradikalisasi dan moderasi beragama. Setiap orang yang menjadi bagian dari aparatur Kemenag RI mesti merepesentasikan pandangan negara atau pemerintah terhadap setiap persoalan keagamaan dalam bingkai kebangsaan atau NKRI.

BACA JUGA :  Mengapa Kita Harus Bermazhab ?

Seorang Dirjen atau Direktur di Kemenag tidak boleh memiliki paham dan pandangan yang berbeda dengan Negara terkait dengan Deradikalisasi dan Moderasi Beragama. Sebab jika hal itu terjadi, maka Tim Kerja tidak akan bisa berjalan baik, kalau bukannya malah stagnan bahkan lumpuh.

Seorang Kakanwil Agama di suatu Provinsi harus mampu merepresentasikan kepentingan atau maunya Negara dalam hal memandang dan memahami akar masalah radikalisme di wilayah kerjanya, apa dampak yang sudah tampak dan mungkin akan muncul, potensi serta modal apa yang dimiliki wilayah dan masyarakat tersebut yang dapat digunakan membantu program deradikalisasi serta strategi apa yang layak dan patut digunakan berdasarkan kekhasan wilayah yang ada.

Begitu seterusnya pada level di bawahnya Kakan Kemenag Kabupaten/Kota, Kakan Urusan Agama di Kecamatan, Kepala Balai Diklat dan Lembaga Pendidikan, hingga ke level paling bawah yakni para Pengawas dan Penyuluh Agama yang bertugas di tengah-tengah masyarakat.

Begitu pun, pada suatu PTKIN dimana mulai dari Rektor, Dekan, Kepala Lembaga, Pusat, Ketua Prodi hingga Dosen dan Tenaga Kependidikan yang ada, harus dipastikan mampu merepresentasikan kepentingan Negara untuk memiliki nalar kritis yang setara dalam memahami persoalan radikalisme secara utuh dan komprehensif di wilayah kerjanya masing-masing.

Nalar kritis ini, tidak akan tumbuh dengan sendirinya di kalangan SDM atau aparataur yang menjadi leader dan anggota Tim Kerja Kemenag dimaksud, perlu ada penelitian yang ketat untuk memastikan bahwa semua aparatur memiliki semangat yang sama, mengambil posisi yang sama untuk kemudian membangun nalar kritis yang sama sebagaimana yang diinginkan Negara dalam memandang Radikalisme serta Program Deradikalisasi dan Moderasi Beragama.

Hal ini penting, karena semangat, posisi dan nalar kritis ini harus dimiliki setara secara bersama-sama untuk dapat melahirkan kesadaran kritis yang setara pula. Sehingga jika kesadaran ini dapat lahir secara setara pada setiap aparatur, maka sangat mungkin terbangunnya kesadaran bersama seterusnya gerakan, aksi, serta kerja dan berjuang bersama.

Hasil survei baru-baru ini yang menyatakan bahwa sebagain besar PTN di Indonesia masuk dalam kategori terpapar, begitu pun dengan Pegawai BUMN, ASN hingga Aparat TNI dan Polri yang masih tersusupi oknum terpapar radikalisme, cukup menjadi cermin bagi Kemenag RI untuk menoleh lebih dalam dan lebih serius kepada rumahnya sendiri.

Barangkali tidak berlebihan, jika setiap Direktorat, setiap Wilayah, setiap PTKIN disarankan untuk melakukan survei internal untuk memastikan bahwa wilayah kerjanya benar-benar bersih dari oknum terpapar tersebut. Apa yang baru-baru ini dilaksanakan oleh Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Syahrin Harahap dengan memastikan adanya pemahaman yang setara dan sama terhadap Deradikalisasi dan Moderasi Beragama bagi setiap calon pejabat di lingkungan UIN Sumatera Utara, pantas diberi apresiasi dalam upaya memastikan terbangunnya Tim Kerja Deradikalisasi dan Moderasi Beragama yang baik dan bersih dari oknum terpapar di lingkungan kerja.

Menag KH. Yaqut Cholil Qoumas dan seluruh jajaran Pimpinan di Instansi ini dari Pusat hingga Daerah, wajib memastikan bahwa Tim Kerja Deradikalisasi dan Moderasi Beragama yang dipimpinnya benar-benar bersih dari oknum tanpa nalar kritis terhadap persoalan ini. Kemenag harus melakukan kegiatan bersih-bersih atau menyapu rumah sendiri, untuk memastikan setiap ruangan, kamar bahkan pekarangan dan lingkungannya benar-benar bersih dari oknum-oknum yang justeru “pro-radikalisme” di saat Tim Kerja Kemenag sedang serius melawan setiap paham, gerakan dan aksi radikalisme tersebut.

BACA JUGA :  Tapak Ir H Joko Widodo dan Tuan Syèkh Ibrahim Sitompul

Kedua, Kesadaran Kritis – dimana setiap orang dalam Tim Kerja Kemenag berdasarkan pemahamannya yang baik atas substansi persoalan mulai dari akar penyebab, bahaya dan dampak hingga potensi dan strategi penanggulangannya. Lalu merasa dirinya terpanggil untuk ikut mengambil bagian dalam upaya penanggulangan radikalisme ini sebagai tanggungjawabnya secara nalar, moral, etika, keimanan dan kedudukannya sebagai warga negara, apalagi sebagai aparatur negara.

Kesadaran kritis hanya akan lahir dari nalar kritis, sebab tidak ada kesadaran sejati tanpa pemahaman yang baik dan komprehensif. Dalam konteks, Deradikalisasi dan Moderasi Beragama di Indonesia, kesadaran kritis ini harus terbangun pada diri setiap aparatur yang menjadi Tim Kerja pada setiap level dan wilayah kerja. Kesadaran ini harus dipastikan muncul dari masing-masing individu, lalu didorong dan direvitalisasi menjadi kesadaran bersama seluruh anggota Tim Kerja.

Kesadaran bersama merupakan modal utama dalam penyelenggaraan program serupa Deradikalisasi dan Moderasi Beragama ini. Disebut begitu, karena penanggulangan radikalisme, ekstrimisme dan intoleransi bukanlah sebuah project yang penyelesaiannya dapat dikalkukasi secara matematis baik waktu, man power maupun budgetnya.

Program ini terkait dengan banyak hal, mulai dari keyakinan, paradigma, pemahaman, cara pandang, ekonomi, sosial, politik hingga literasi. Untuk itu, diperlukan modal yang komprehensif dalam penanggulangan persoalan ini mulai dari organisasi yang kuat, tim kerja yang kuat, SDM yang tangguh hingga nalar, kesadaran dan literasi yang dapat mengimbangi cepatnya pertumbuhan paham dan gerakan ini terutama di era globalisme dan digitalisme sekarang ini.

PENUTUP

Demikian kompleksnya faktor-faktor yang mengitari persoalan radikalisme, ekstrimisme dan intoleransi ini, maka penanganannya harus dimulai dari pemastian bahwa ada Tim Kerja yang concern terhadapanya dengan modal pemahaman yang komprehensif atas persoalan ini “dari A sampai Z” dari hulu ke hilir dari akar masalah hingga penyelesaiannya.

Kementerian Agama RI telah memiliki beberapa modal yang cukup untuk menjadi ujung tombak dalam menjalankan program ini, perangkat organisasi, otoritas dan kewenangan, bahkan ketersediaan SDM hingga budget.

Namun, patut diingat bahwa khusus menyangkut ketersediaan SDM, yang menjadi perhatian kita bukanlah sekadar kuantitas, bukan pula proporsionalitas antar agama, tetapi lebih jauh menyangkut kepemilikan setiap aparataur terhadap nalar dan kesadaran kritis untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan program ini sebagai wujud dari tanggungjawab sosial, moral, religiositas serta tanggungjawab sebagai warga negara.

* Penulis adalah Dosen Filsafat UIN Sumatera Utara_Ketua Lembaga Survei & Sosialisasi (LSS) UIN Sumatera Utara dan Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan (GDKK).

624 total views, 15 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *