Scroll untuk baca artikel
#
Universitarian

Wamen Haji dan Umroh RI Penguji Eksternal S3 KPI FDK UINSU

×

Wamen Haji dan Umroh RI Penguji Eksternal S3 KPI FDK UINSU

Sebarkan artikel ini
Teks Foto : Wakil Menteri Haji dan Umroh Dr Dahnil Anzal Siumanjuntak SE, ME, menjadi penguji eksternal promosi terbuka mahasiswa S3 KPI FDK UINSU Alya Rahmayani Siregar. (foto/msj)

 

MEDAN – Wakil Menteri Haji dan Umroh Republik Indonesia (RI) Dr Dahnil Anzar Simanjuntak SE ME, sekaligus Dosen Universitas Prima Indonesia (Unpri), tampil sebagai penguji eksternal Ujian Promosi Terbuka Alya Rahmayani Siregar, mahasiswa S3 KPI FDK UIN Sumatera Utara Medan, di Aula FDK UINSU, Selasa (10/03/2026).

Sidang Promosi Terbuka S3 KPI FDK UIN Sumatera Utara, dipimpin Rektor UINSU Prof Dr Nurhayati sebagai Ketua Sidang, Sekretaris Sidang Prof Dr Hasan Sazali MAg, penguji interdisplin Prof Dr Muzakkir MAg, dan penguji internal Prof Dr Anang Anas Azhar MA, Dr Hasnun Jauhari Ritonga MA. Hadir juga dalam sidang tersebut Promotor Prof Dr Lahmuddin Ritonga, M.Ed dan Co Promotor Dr Mailin MA.

Selain para penguji, hadir juga dalam Sidang Promosi Terbuka itu Kakanwil Haji dan Umroh Sumut Dr Zulkifli Sitorus, para pengurus KBIHU dan tim Kementerian Haji dan Umroh RI.

Promovenda Alya Rahmayani Siregar sukses mempertahankan disertasinya dengan judul “Model Komunikasi Interpersonal yang Efektif untuk Pendampingan Jemaah Haji Lanjut Usia Kota Medan (Studi pada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh)”. Penelitian ini mengkaji secara mendalam strategi komunikasi yang efektif dalam mendampingi jemaah haji lanjut usia.

BACA JUGA :  FDK - FITK UINSU Teken Nota Kesepahaman dengan Dinas LHK Provinsi Sumut

Dalam pemaparannya, Alya Rahmatyani Siregar menjelaskan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh pendamping terhadap jemaah haji lanjut usia. Penelitian ini juga mengkaji peran teknologi komunikasi dalam mendukung proses pendampingan serta berbagai kendala yang dihadapi pendamping dalam berinteraksi dengan jemaah lansia.

“Penelitian ini, menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berlokasi di Kota Medan. Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam pengalaman komunikasi antara pendamping dan jemaah haji lanjut usia dalam konteks pelaksanaan ibadah haji<’ kata Alya Rahmayani.

Dikatakan, informan penelitian terdiri dari jemaah haji lanjut usia serta para pendamping dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur, observasi non-partisipan, serta studi pustaka yang relevan dengan tema penelitian.

Alya Rahmayani sukses memukau para pengujinya. Salah satunya, Alya menampilkan analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi dan member check guna memastikan validitas temuan penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian itu, menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal antara pendamping dan jemaah haji lanjut usia berlangsung sangat efektif dan memiliki peran krusial dalam kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Komunikasi yang baik mampu membantu jemaah lansia memahami tahapan ibadah sekaligus mengurangi kecemasan selama perjalanan ibadah.

BACA JUGA :  Di Kampus UMA, Dedi Iskandar Batubara Ajak Civitas Akademika Menghidupkan Nilai Al-Qur’an

Dikatakan, model komunikasi yang diterapkan dalam pendampingan tersebut melibatkan integrasi aspek verbal dan nonverbal, seperti penggunaan bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta sikap empati dan kesabaran dari para pendamping. Pendekatan ini terbukti mampu menciptakan suasana nyaman dan rasa aman bagi jemaah lanjut usia.

Selain itu lanjut dia, teknologi komunikasi juga berfungsi secara multifungsi sebagai media penghubung jarak jauh dan penguat ikatan emosional antara pendamping dan jemaah. Meskipun terdapat hambatan seperti penurunan kondisi fisik, kendala bahasa, gangguan konsentrasi, serta prasangka psikologis, para pendamping mampu mengatasinya melalui pendekatan komunikasi yang adaptif dan empatik sehingga proses pendampingan menjadi lebih efektif dan bermakna bagi jemaah lansia.** MSJ 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *