Petani Salak Sidempuan, dari Dampak Corona Hingga Masalah Budidaya

Salak Sidempuan

Oleh : Rahmad Syukur Harahap

SETELAH kasus pertama virus corona (Covid-19) ditemukan dan diumumkan di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020 silam, dan tak lama berselang ditemukan kasus-kasus lainnya serta terus meningkat dari waktu ke waktu, pemerintah pun akhirnya memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, ternasuk Sumatera Utara.

Polemik dan dilema pun bermunculan setelah diberlakukannya PSBB. Aktifitas warga dibatasi seperti aktifitas sosial, keagamaan, pendidikan dan perekonomian, untuk menghindari semakin meluasnya penyebaran Covid-19.

Dan dampaknya, begitu terasa bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Kalangan pengusaha, pedagang, karyawan, bahkan petani, semuanya merasakan dampaknya. Perekonomian masyarakat, menurun secara drastis.

nst

Banyak dari pengusaha harus menutup usahanya karena PSBB. Hal ini berefek pada karyawan, dimana banyak karyawan akhirnya dirumahkan atau terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Angka pengangguran pun menjadi meningkat.

Sedangkan pedagang kecil, juga tak luput dari terkena dampak pandemi. Banyak pedagang kecil yang gulung tikar, menutup usahanya tak lagi bisa berdagang karena kehabisan modal. Seluruh sektor perekonomian melesu akibat terpaan badai Covid-19 yang bermula dari China itu dan dialami seluruh dunia.

Dilema mendalam ini, juga memunculkan secuil cerita yang datang dari petani salak di sudut Kota Padangsidimpuan, tepatnya di Desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Bagi petani, usahataninya adalah sumber pendapatan utama untuk menghidupi keluarganya, sehingga petani mau tidak mau harus tetap membudidayakan usahatani salaknya, walaupun dengan hasil yang dikategorikan kurang apalagi di masa pandemi seperti ini.

Peliknya lagi, di saat pandemi Covid-19 melanda yang membuat perekonomian masyarakat menurun dan daya beli rendah, para petani salak juga dihadapkan dengan masa trek buah, dimana produksi buah salak menurun.

Dari hasil observasi penulis pada Senin (21/12/2020) terhadap seorang Ibu bernama Enzel boru Sagala, seorang petani salak di Desa Parsalakan, dengan menggunakan bahasa daerah ia menyebutkan: “Molo adong salak hargana murah, molo tarummadong hargana masoon salakna nadong” (Ketika buah salak ada harganya sering sangat murah, ketika harga sedang lumayan mahal buah salaknya tidak ada).

Diketahui, komoditi salak merupakan produk unggulan dari tanah Dalihan Natolu ini sejak dulu. Di daerah ini, tanaman salak merupakan warisan turun temurun dan seakan telah membudaya dan ciri khas daerah ini yang tak bisa ditinggalkan.

Sebagai produk unggulan Kota Padangsidimpuan serta warisan leluhur dari tanah Dalihan Natolu, tanaman salak memang harus terus dibudidayakan untuk bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Karena komiditi salak merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di daerah ini.

BACA JUGA :  Ramadhon Vs Corona

Hal ini, harus menjadi perhatian khusus pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan juga Pemerintah Kota Padangsidempuan. Sebagai daerah sentra penghasil salak terbesar di Sumatera Utara, pemerintah harus memberikan perhatian yang berkesinambuan bagi para petani salak, agar komoditas unggulan dari daerah ini tidak menghilang.

Pemerintah perlu secara terus menerus memberikan penyuluhan, pelatihan kepada petani salak bagaimana cara perawatan tanaman yang baik, apa yang harus dilakukan para petani pada saat masa trek buah, serta bagaimana agar harga komoditas salak ini dipasaran dapat terus terjaga kestabilan harganya.

Bilamana petani salak sangat memerlukan, pemerintah juga haruslah memberi bantuan kepada petani, seperti dalam pembibitan, pengadaan pupuk dan lainnya. Dan yang sangat penting, adanya bantuan pemerintah untuk peremajaan tanaman salak petani.

Adanya perhatian pemerintah kepada petani salak sangat diperlukan, agar petani tidak mengalihfungsikan lahan perkebunan salaknya. Sebab telah banyak terjadi, petani salak telah mengalihfungsikan lahan-lahan perkebunan salak mereka ke komoditas tanaman kelapa sawit, kopi dan lainnya.

Saat ini, areal perkebunan salak di daerah Parsalakan dan sekitarnya sudah sangat jauh berkurang karena banyaknya petani yang telah mengalihfungsikan areal tanaman salak mereka ke jenis tanaman lain.

Bila hal ini terus dibiarkan tanpa adanya perhatian dari pemerintah, komoditas salak Sidempuan di Tapanuli Selatan yang sudah begitu dikenal dan melegenda, hanya akan tinggal nama. Komoditas salak yang menjadi produk unggulan daerah ini akan semakin menghilang di pasaran buah di Sumatera Utara dan Indonesia.

Hal ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Sebab, berdasarkan penelusuran dan observasi penulis ke dua daerah sental produksi salak terbesar di Kabupaten Tapanuli Selatan, yaitu di Kecamatan Angkola Barat dan Angkola Selatan, produksi salak dari kedua daerah ini sudah sangat jauh menurun dari tahun ke tahun.

Penyebabnya adalah, banyak petani salak di dua daerah ini beralih usahatani dari sebelumnya bertanam salak menjadi bertanam tanaman lain seperti kelapa sawit, kopi, ataupun dijadikan areal untuk bertanam palawija. Hal ini tentunya haruslah menjadi atensi pemerintah daerah. Harus ada solusi dari pemerintah bila ingin tetap menjadikan kedua daerah itu sebagai lumbung penghasil salak dan mempertahankan komoditas slak sebagai komoditas unggulan Tapanuli Selatan.

Sejumlah petani salak di Desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat yang diwawancarai penulis, banyak yang mengeluh dengan kondisi saat ini apalagi disaat pandemi Covid-19. Menurut petani, komiditi salak sudah tidak seksi lagi untuk dibudidayakan dikarenakan harga salak yang selalu berfluktuasi. Parahnya lagi para pedagang penampung, selalu membeli dengan harga eceran terendah salak petani karena tidak adanya ketentuan harga standar yang diterapkan untuk komoditas salak.

BACA JUGA :  Melawan Virus Ala Rasulullah

Kondisi ini menyebabkan para petani kurang bergairah untuk membudidayakan tanaman salak dengan baik. Hal ini juga yang memicu banyak petani salak mengalihfungsikan lahannya dari salak menjadi komoditi lain.

Dari amatan penulis, penyebab fluktuasi harga dan seringnya produksi salak petani dibeli dengan harga eceran terendah oleh pedagang penampung, disebabkan oleh panjangnya sistem tataniaga yang ada, serta kurangnya informasi pasar kepada petani.

Selain itu, penurunan harga juga disebabkan karena semakin menurunnya kualitas produksi salak itu sendiri, menyebabkan menurunnya minat para pembeli dipasaran. Ini dipicu oleh kurang baiknya proses budidaya dan perawatan yang dilakukan oleh petani terhadap tanaman salaknya karena kurangnya pengetahuan petani dalam pembudidayaan dan perawatan tanaman. Selain juga disebabkan kurangnya permodalan petani, sehingga tidak dapat maksimal dalam perawatan tanaman.

Selama ini, proses budidaya salak yang dilakukan petani bisa dikatakan masih sistem budidaya warisan. Artinya, proses regenerasi bibit yang kurang baik karena hanya mengandalkan proses regenerasi bibit alami oleh tanaman itu sendiri.

Pembibitan yang dilakukan hanya sebatas buah yang matang dan jatuh ke tanah lalu menjadi kecambah, kemudian tumbuh menjadi tanaman salak. Sehingga, jarak tidak memiliki aturan. Inilah yang menyebabkan dari segi produksi dan kualitas produksi salak menjadi menurun.
Sebab, setelah penanaman awal hingga tanaman awal itu mati, tidak ada peremajaan yang dilakukan. Tanaman salak tetap tumbuh di lahan itu tapi dari regenerasi tanaman awal hingga berpuluh-puluh tahun. Tidak lagi ada aturan jarak tanam sesuai teknik budidaya yang ada untuk mendapatkan hasil yang baik.

Seharusnya, pembibitan adalah salah satu proses awal yang sangat penting diperhatikan dalam budidaya salak. Maka hal ini harus dilakukan dengan baik agar hasil dan kualitas yang didapat juga baik.

Hal inilah yang harusnya menjadi perhatian pemerintah daerah agar memberikan fasilitas penyuluhan, pendampingan, pembibitan bahkan peremajaan tanaman salak petani. Mengingat, tanaman salak Sidempuan adalah tanaman warisan leluhur dan salak adalah produk unggulan dari Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

(Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Medan Area)

 2,136 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *