Setelah di Tanjung Balai, Berangkat Menuju Ibukota Jakarta

(Cerbung. Bagian 5)

ALS
Bus ALS (Antar Lintas Sumatera). (Sumber Foto: IMOTORIUM.Com)

Asaberita.com – SEBAGAIMANA layaknya rumah-rumah di kampung, rumah tante Acun di Tanjung Balai tempat kami bersembunyi dari incaran aparat setelah peristiwa Kudatuli 1996, memberi kami kenyamanan yang sangat. Teras depan rumah begitu nikmat untuk kami tongkrongi tiap pagi.

Setelah makan lontong sayur yang kami beli di warung depan rumah, kesegaran teh manis panas dan beberapa bungkus rokok Compil membuat otak kami merasa rilex. Itu pula yang bikin kami dapat menyimak koran Waspada tiap pagi dengan hati dan pikiran tenang. Dari berita kriminal, iklan, hingga politik, tak luput dari perhatian kami. Kuhisap compilku, sebentar kuhembuskan asapnya, dan sambil kupandangi daun-daun pohon yang bergerak dihembus angin, hatiku berkata syukur, Ya Allah betapa bersyukurnya aku atas karuniaMu akan hidup yang indah ini.

Kutengok Aswan yang duduk di sebelahku, dengan rokok di tangan, pandangannya lurus ke depan, seperti ada yang berat dia pikirkan. Sesekali dia tarik nafas dalam.

“Nikmat apa lagi yang kau dustakan Wan? Duit banyak, utang tak punya, rokok betabur, makan enak dan lengkap,” kataku membuyarkan lamunannya. “Beberapa hari ini awak tak bisa berseloroh sama kelen, situasinya kacau kaĺi wak, stres awak dibuatnya. Apa mungkin ini karena efek kita pegang duit banyak dikasih orang tua Fadly Nurzal itu ya,” kelakar ku. Atau mungkin karena enak kali suasana rumah tantenya Acun ini. Atau karena dua-duanya ya woi, canda ku lagi.

“Jangan boros kali wak! Kita gak tahu berapa lama lagi sporing ini”. Suara Aswan terdengar lirih. Kutengok dia tak ada ekspresi, aku tak menangkap kesan serius atau tidak.

nst

Aswan pun mulai pande bergurau, benak ku. Biasanya sejak sporing mukak kawan satu ini selalu terlihat resah dan tegang. Apa ini dia lagi becanda apa serius ya, pikir ku. Katanya jangan boros, tapi rokok dia yang paling banyak hisap kutengok, makan pun porsinya paling jumbo di antara kami.

Aku pun kembali sibuk bolak-balik halaman koran lama, seketika Acun muncul mengagetkan kami. Dia datang lalu duduk di sebalah Aswan dengan wajah serius dan lesu, tak terlarut dengan candaan kami. Anak ini kalok sedang riang kelihatan dari mukaknya, bawaannya semangat aja, cakapnya pun banyak, meski digodapun dia gak kan marah, paling hanya senyum-senyum simpul. Tapi jika sedang gelisah, kebalikannya wak, cakapnya tak ada, udah mirip kayak orang bisu. Wajah merengut dan diam seribu basa. Dia letakkan koran Waspada yang baru dibelinya ke meja. Setiap hari kami selalu bergantian untuk beli koran. Maklum kah wak, soalnya semua ketua, tak ada yang bisa disuruh-suruh, paksalah dibuat piket.

“Baca per, berita hari ini, Budiman dan kawan-kawan udah tertangkap, kayaknya kita tinggal nunggu waktu aja ini Per,” kata Acun pasrah. Senyum kami yàng tadinya merekah kembali menciut.

Langsung kusambar koran itu dan tak sabar segera kubaca headline berita hari Selasa, tanggal 13 Agustus 1996.

‘Kapuspen ABRI, Brigjen TNI Amir Syarifudin selaku Kapenhumas Bakorstanas mengatakan dalam konfrensi Pers, sebanyak 14 orang tokoh Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ditangkap, termasuk Ketua PRD, Budiman Sujatmiko. Mereka terlibat menunggangi kerusuhan 27 Juli 1996 menyusul pengambilalihan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58″. Demikian isi berita di koran tersebut, aku langsung lemas, tak bisa lagi becanda.

Terbayang, mereka mengalami penyiksaan di sel tahanan seperti apa. Seketika bergidik bulu romaku terbayang jika kami juga ditangkap seperti mereka.

Suasana kembali hening, dan tiba-tiba Acun nyeletuk. “Per, cok pakcik kontak dulu Wignyo, tanya ke dia gimana perkembangan Jakarta dan kawan-kawan yang ada di Medan! Khususnya orang si Nitra!”

Latteung juga si Acun ini, cemmana cara kontak si Wigi, pikirku agak kesal. Kutatap Acun sambil bertanya, “Gimana caranya pakcik, lewat siapa kita hubungi?” Suaraku agak tinggi.

“Kan ada nomer kontak dikasihnya sebelum kita pisah Per,” sahut Aswan pelan di sebelahku.

Oh ya, baru teringat awak, Wigi pernah kasih nomer kontak untuk menghubunginya, kalau tak salah nomer seorang ibu, mantan tapol yang tinggal di Pinang Baris. Langsung ku periksa dompetku, biasa aku simpan catatan di dompet. Dan terlihat kertas lusuh berisi catatan nomer telpon.

“Alhamdulillah, untung masih ada Wan, ya udah aku jalan ke wartel (warung telepon) dulu ya, kalian sini aja dulu! Biar aku sendiri aja!” Sambil segera aku beranjak dari tempat duduk berjalan menuju wartel yang berada di ujung gang rumah tante Acun.

Sesampai di wartel, kuangkat gagang telepon dan kutekan nomor yang ada di kertas catatan. Alhamdulillah, diangkat rupanya, benak ku. “Assalamualaikum Bu, ini Ikhyar SMID temannya Wigi Bu, dulu pernah datang juga sama Wigi ke rumah Ibu,” ujarku.

“Wigi siapa ya?” Kudengar suara si ibu di ujung sana. Si ibu ini kenal Wigi pun, pikirku, tapi mungkin dia gak bisa terlalu terbuka, ya wajarlah karena situasi. Kubiarkan dia mengingat sambil menunggu dengan harap dia mau bilang ingat. Tak lama kudengar lagi suaranya, “Oh iya nak, ibu ingat, ada apa nak?” Tanya si Ibu dengan ramah. Lalu kujelaskan tentang situasi kami dan kutanya apa pernah jumpa Wigi dalam minggu-minggu ini.

“Minggu kemarin dia datang kemari, minta ongkos untuk pulang ke Jakarta. Ibu suruh datang minggu depan karena saat itu ibu lagi gak ada duit,” jawab si Ibu.

Bah, sudah duluan dia nanduk rupanya, pandai kali anak ini, gumamku dalam hati. Cocok lah, sesuai harapan. Lalu aku pesan jika Wigi datang lagi agar segera menghubungiku, kuberi nomer kontak telepon rumah tantenya Acun. Aku langsung balek ke rumah menjumpai Acun dan Aswan.

“Gimana Per, benar nomer telponnya? Apa kata ibu itu Per?” Tanya Acun tak sabar ketika aku baru saja sampai di muka rumah, duduk pun belum. Ya maklum lah wak, kawan-kawan ini butuh kali informasi.

Lalu sambil duduk di teras rumah kujelaskan percakapanku dengan ibu itu. “Kita tunggu aja Wigi telepon, mudah mudahan dalam dua hari ini dia ketemu ibu itu,” harapku. Meskipun aku juga ragu apa Wigi benar balek ke rumah si ibu, lalu ibu itu kasih pesanku ke Wigi. Atau dia urung singgah ke rumah ibu itu. Tapi aku yakin dia pasti singgah di rumah ibu itu, karena pasti tak punya uang dia.

Dua hari kami terus tongkrongi telpon di rumah tante Acun tapi belum juga ada ada telpon yang kami tunggu masuk. Stres bercampur cemas menunggu, kok si Wigi gak telpon-telpon, aku mengerutu dalam hati.

Dering suara panggilan telepon yang kami tunggu akhirnya masuk sesaat setelah kami selesai sholat Magrib. Sholat 5 waktu tak kami tinggalkan, sejuk perasaan kami setelah melaksanakan sholat dalam situasi seperti ini. Khususnya Aswan, sholat di sepertiga malam pun selalu dimaenkannya saban malam. Efek dikejar-kejar aparat mendadak kami jadi sangat alim.

Mendengar suara dering telpon, aku pun cepat berlari ke arah pesawat telepon terletak, tapi sudah didahului sepupu Acun. “Hallo, siapa nih?” Tanyanya. Bah, ternyata dia sedang punya janji dengan kawan sekolahnya sehingga dia juga nungguin telpon masuk. Dia berpikir yang telpon itu kawannya. Tapi sesaat kemudian, “Bang, ada telepon untuk abang”. Dia pun meletakkan gagang telepon sambil wajahnya melihat ke arah Acun. Aku tersenyum dan bergegas kuambil gagang telpon itu.

“Ya siapa ini?” kutanya, meskipun aku yakin ini si Wigi. “Aku ini wak, Wigi!” Terdengar riang suara kawan itu, sepertinya dia sudah tau aku yang tanya tadi. Dan sontak aku langsung semangat dan mencecar Wigi dengan pertanyaan. Pingin tau banyak awak informasi terkini dari dia, lagi pula udah rindu berat juga awak sama Suhu satu ini. Padahal baru berapa minggu kami berpisah, sewindu terasa sudah. Awak juga bingung apa yang bikin kami rindu ya? Kuliah kami berantakan karena dia, kami sporing juga karena dia, makan dan rokok nebeng kami, semua susah gara-gara dia, hahaha.

Acun dan Aswan ikut merapatkan telinganya ke gagang telpon takut terlewatkan informasi dàri Wigi. Salome kami jadinya, ‘Satu Telepon Rame Rame’.

“Wak, udah tahukan Budiman dan kawan-kawan tertangķap? Gimana kondisi uwak sekarang? Kawan-kawan gimana kabarnya, Medan masih mencekam wak?” Tanyaku bertubi-tubi ke Wigi.

“Santai, tenang wak, jangan panik gitu. Kalau nanya satu-satu, jangan diborong semua!” Balas Wigi.

Kimbeklah kau Wigi, nggak tau apa dia kami terus cemas tiap hari, apalagi setelah membaca berita di koran Budiman dan beberapa kawan di Jakarta ditangkap, kok malah disuruh tenang pula, gumam ku.

“Aku, Hasan, Kamal, baik-baik aja. Kami aman, kami sekarang dah di Amplas lagi wak. Udah keluar dari rumah Hasan, boring juga di sana seminggu, gak tahu perkembangan apa-apa, tak ada listrik, tivi susah. Nyamuk yang ada, banyak malah dan besar-besar. Seperti tak ada peradaban di sana wak. Jadi kami putuskan kembali lagi ke Amplas lah, balek ke peradaban lagi wak.” Wigi coba menjelaskan dengan tenang dan santai. Mungkin tujuannya agar kami tetap merasa nyaman dan aman.

“Alhamdulillah”. Serempak kami ucapkan rasa syukur itu. Aman mereka, dalam hatiku.

Wigi melanjutkan, “Aku semalam nekat ke Pasar Kecil tempat kosannya Nitra. Kasihan juga aku lihat anak itu, maksudku mau kubawa saja sekalian sama kita. Untungnya dia ada di kosan. Dia terkejut dan panik melihatku cuy, lalu Nitra menyuruhku pergi ke rumah kost kawannya. Rumah itu pernah kita buat rapat wak. Di sanalah kami ngobrol dan dia cerita banyak cuy”.

Duh, tak tega awak dengar cerita soal Nitra. Baru mogok kerja sekali di pabriknya, dah langsung kami rekrut ke PRD. Belum lama dia ikut kami beraktivitas, sudah ngalami situasi yang seperti ini. Sudah pasti mereka bisa dipecat dari tempat kerjanya. Meskipun tak separah kami yang terlempar dari kampus pada saat kami sedang KKN dan sebentar lagi lulus. Ah, si Wigi ini, kimbeklah kau Wig.

“Trus apa kata Nitra pakcik?” Kejarku tak sabaran.

Wigi pun kemudian cerita panjang lebar, “Dua minggu setelah kita lari, ternyata rumah kost Nitra di gerebek aparat. Beberapa buku, AD/RT PRD, photo copy Manifesto serta catatan-catata rapat disita semua itu. Nitra ditangkap Senin sekitar jam dua siang di tempat kerjanya. Lenny Mandrova, Linda dan Mekaria diciduk juga, dibawa ke Poltabes Medan. Meŕeka ditahan selama 4 hari, ditangkap Senin dan dilepas hari Jum’at. Tapi kata Nitra dia pulang diantar sama 3 orang intel sampai rumah, takut juga orang itu Nitra diculik kesatuan lain wak,” jelas Wigi.

“Nitra juga bilang di Poltabes dia jumpa Mangasi, Lindung. Ada beberapa orang lagi yang dia tak kenal. Nitra sempat tanya ke Mangasi kronologis dia dan kawan-kawan ditangkap,” tutur Wigi.

“Berarti bukan cuma kita yang dikejar ya Nyok?” Potong Aswan.

Wigi langsung menjawab “Iya Wan, kudengar dari si Nitra cerita dari Mangasi, mereka ditangkap di sekret KSMM di Gang Ganefo sekitar tanggal 6 kemarin. Bakortanasda yang tangkap mereka.”

Kami dengarkan serius cerita Wigi di telepon. Ku tarik napas dalam-dalam, ku tengok Aswan dan Acun juga seperti sesak nafasnya dengar cerita Wigi.

“Siapa saja yang ditangkap di sana selain Mangasi pakcik?” Kembali ku tanya Wigi.

“Simson Simanjuntak, Freddy Manurung, Ganda Manurung, Abadi Halawa, Lindung Sibuea. Mulana Samosir sepertinya luput wak. Sahat juga tak tertangkap, masih selamat,” kata Wigi.

Kami dengar serius cerita Wigi, penasaran sangat kami. Pikirku, kenapa mereka harus ditangkap? Mereka bukan PRD. Ah, mungkin mau dihabisi semua gerakan ini, pikirku.

Wigi melanjutkan ceritanya. “Nitra bilang, ya ini cerita Mangasi ke dia, ada nama Ronald Naibaho juga ditangkap esok harinya.” Wigi berhenti sejenak, lalu lanjut kembali cerita. “Kabarnya malah sempat dimasukkan ke dalam sel bawah tanah itu si Ronald. Disatukan dengan tahanan GAM. Gawat juga wak, hahaha,” Wigi tertawa.

Hmm, cerita seram gini masih bisa dibawa ketawa sama anak ini, pikirku di sela cerita Wigi.

“Pokoknya saat ini aktivis Medan sedang tiaraplah Per, gara-gara peristiwa itu’. Kami mulai tegang kembali dengan informasi yang diberikan Wigi.

“Mangasi dan kawan-kawan KSMM kata Nitra ditahan selama seminggu di Gaperta, trus dipindah ke Poltabes Medan selama 2 hari sebelum dilepaskan,” sambung Wigi.

“Nitra dan Mangasi cs ditanya-tanyai soal kita gak pakcik?” Tanyaku agak mulai lebih detil.

“Yang lain Nitra gak tau katanya. Cuma dari cerita Mangasi, baik di Gaperta maupun di Poltabes, dia dicecar pertanyaan tentang kalian lah.” Kudengar suara Wigi agak datar.

“Apa maksudmu dengan ‘kalian’? Emangnya gak ditanya-tanyai tentang kau wak?” Aku makin penasaran, kok cuma kami, si Wigi tak dicari-cari dong.

BACA JUGA :  Covid-19 Dan Pemberitaan Hoax

“Ya tentang PRD lah, hubungan kawan-kawan ini dengan kalian, hehehe. Terutama si Acun, kau juga Per, Aswan, Kamal,” Wigi melanjutkan sambil terdengar gumaman lirih kudengar dari ujung telpon.

“Kau gak dicari pakcik?” Tanyaku lagi tak percaya.

“Paris yang dicari, karena nama ‘Paris’ yang muncul wak, Nitra itu yang banyak ditanyai soal Paris, hehehe,” canda Wigi seperti meledek kami.

“Kimbeklah kau Nyok!” Acun menyemprot Wigi dongkol, membuat kami semua tertawa sejenak menghilangkan ketegangan kami.

Wigi memang pakai nama ‘Paris’. Tak pernah pakai nama asli, baik berhubungan dengan teman-teman, teman gerakan, juga dalam catatan-catatan rapat. Makanya ‘Paris’ yang dicari, bukan Wigi atau Wignyok. Bangke emang ini anak, pande kali dia nyamar.

Melintas di otakku wajah si Mangasi. Kasihan anak ini, pikirku merasa agak bersalah. Si Mangasi pasti mendapat tekanan yang berat selama seminggu di Gaperta. Mungkin juga kena intimidasi, bahkan siksaan bisa jadi.

Mangasi itu aktivis mahasiswa, aktif di gerakan jauh sebelum peristiwa reformasi 98. Bisa dibilang pentolan mahasiswa UNIKA, bersama Simson Simanjuntak. Pasca reformasi 98, Simson masuk dalam jajaran pengurus DPN Repdem serta ikut bergabung dengan organ Pena 98 pimpinan Adian Napitupulu. Sementara Mangasi saat ini sudah dua periode menjabat sebagai Ketua KPU Pematang Siantar.

Sesuai dengan ciri khas anak Siantar atau populer disebut dengan ‘Siantar Man’, Mangasi ini orang yang setia kawan, militan, berani, tegas tetapi ramah orangnya. Saat 98, dia salah satu tokoh mahasiswa yang cukup berpengaruh di UNIKA bersama Simson Simanjuntak.

Wajah si Lindung juga muncul di pikiranku. Kawanku ini sepertinya langganan Gaperta, hehe. Tapi tetap saja awak merasa berdosa, gara-gara kami lah si Lindung ini diciduk. Lindung, wajahnya mirip Roy Marten. Wajah yang ganteng, rambut kriting panjang, gayanya pun memang mirip dengan bintang pemeran film ‘Badai Pasti Berlalu’. Orang Batak yang kalok cakap lemah lembut, seperti bukan orang Batak. Lebih cocok jadi orang Solo sebenarnya Lae Lindung ini. Tapi Lindung telah mendahului kami semua. RIP buat Lindung, semoga engkau damai disisi Tuhan.

“Oke Pakcik, jadi gimana langkah kita selanjutnya ini? Kawan-kawan di Jakarta udah ketangkap, sementara di Medan penangkapan juga massif,” ku tanya Wigi sambil berharap dia punya usul. Otak kami memang sudah terasa buntu.

“Menurutku kita berangkat aja ke Jakarta, koordinasi dengan kawan-kawan yang masih bebas. Paling tidak kita bisa tahu informasi lebih banyak dibanding di daerah,” jawab Wigi.

Acun nyeletuk di sampingku, “Apa enggak lebih bahaya di Jakarta Nyok? Di sana pusat pengejaran kok malah lari kesana kita, sama dengan masuk kandang singa lah kita Nyok, kau pun”. Kata Acun dengan nada suara agak tinggi.

“Gak lah wak, tebalik itu logikamu Cun”, sanggah Wigi. Kutengok mimik wajah Acun kesal, hihihi, tertawa aku, tapi kutahan dalam hati. Begitu lah si Wigi, bisanya dia membolak balik logika kami.

“Aparat justru tidak menyangka kita lari ke Jakarta. Lagi pula menurutku kita perlu bantu dan perkuat kawan-kawan Jakarta, di Medan kita hanya bisa tidur dan menunggu, sangat tak produktif,” sanggah Wigi membantah argumen Acun.

Aku dan Aswan menyimak saja pembicaraan dua kawan itu. Agaknya aku dan Aswan masuk ke dalam logikanya Wigi. Karena kupikir ada benarnya juga aoa yang disampaikan Wigi. Kami mesti ke Jakarta. Koordinasi dengan kawan-kawan di sana yang masih bergerak. Juga dirasa jauh lebih aman, sebab tak ada yang kenal kami di ibukota. Dan, memang awak juga pengen kali ke Jakarta. Syor juga awak mau lihat kek mana Ibukota Jakarta itu.

‘Ke Jakarta Aku Kan Kembali’, syair lagu Koesplus itu wak, sempat singgah di otakku.

Karena ku lihat sudah sedikit memanas dan urat leher mulai tegang karena Acun dan Wigi betekak, kucoba tengahi. “Gini aja, kita jumpa aja di Medan. Di sana aja kita diskusikan lagi dan putuskan. Diskusi di telepon manalah bisa tuntas wak,” kata ku.

“Aku sepakat kata Ikhyar, kalau gitu besok kalian berangkat aja ke Medan, kita jumpa di Amplas tempat biasa ya!” kata Wigi mengakhiri pembicaraan.

Setelah putus pembicaraan telepon dengan Wigi, Acun menggiring kami pindah ke teras rumah untuk melanjutkan diskusi.

“Gimana Wan usulnya Wigi tadi? Kalau kau sepakat biar kita beli tiketnya malam ini, besok pagi berangkat kita jam 8 pagi,” kata Acun minta pertimbangan Aswan.

“Aku sepakat usulnya Wigi, ente gimana Per? tanya Aswan ke aku. “Kalau sepakat biar jalan Acun langsung beli tiket kita malam ini,” sambungnya.

Awak pun pura-pura tertegun dan menundukkan kepala, biar nampak kayak lagi mikir, padahal dari awal awak udah sepakat dengan usulnya si Wigi.

“Pesanlah Cun tiketnya! Aku seh oke aja,” kubilang sama Açun. ‘Ke Jakarta Aku Kan Kembali’. Lagu Koesplus terdengar lagi, tapi kali ini aku yang senandungkan pelan dan teringat si Wigi yang sukak kali nyanyi lagu ini dengan penuh penghayatan sambil memetik gitar. Syor awak jadinya.

Setelah kami semua sepakat kembali ke Medan, Acun pun segera ambil kereta (sepeda motor) dan keluar menuju Stasìun Kereta Api beli tiket untuk berangkat besok pagi. Sementara aku dan Aswan kembali menghayal dengan pikiran masing-masing.

Esoknya pagi-pagi kami pun berkemas dan berpamitan pada tante Acun untuk berangkat ke Medan. “Terima kasih atas kebaikan dan tumpangannya ya tante, mudah-mudahan tante sehat selalu!” Ku salami dan cium tangan tante Acun sebelum permisi menuju Stasiun Kereta Api untuk kembali ke Medan.

“Sama-sama ya nak, hati-hati kalian di jalan ya!” Sambil mengusap air matanya. Sedih juga kurasa, teringat akan kebaikan dan ketulusannya menerima kami. Memang selama kami dua minggu tinggal di rumahnya, terjalin hubungan persaudaraan yang erat, bukan hanya dengan beliau, tetapi juga dengan anak-anaknya.

Sambil memeluk Acun dengan erat seakan tak ingin di lepaskan, dia memberikan sejumlah duit (uang) ke kantong baju Acun sambil berkata, “Hati-hati ya nak, sabar dan jangan lupa sholat!” Terakhir dia cium kening Acun dengan penuh kasih sayang. Bola mata Acun pun berkaca-kaca kutengok. Terlihat air matanya juga menetes ke pipi.

Tak lama kami berdiri menunggu di tepi jalan raya, kutengok ada becak kosong tak berpenumpang dan langsung ku stop. “Ke stasiun kereta api bang!” Tak ada tawar menawar, si abang becak pun senang kutengok dan mengiyakan. “Ok naik,” katanya sambil menghidupkan kembali mesin becak yang sempat dimatikannya. Aku pun segera naik dan duduk di jok penumpang diikuti Acun dan Aswan. Becak pun bergerak ke stasiun.

Setelah menurunkan tas dari becak, kami langsung bergegas memasuki stasiun dan langsung menaiki kereta api sudah terparkir di stasiun serta langsung mencari tempat duduk sesuai dengan yang tertera di tiket. Tempat duduk kami berseberangan. Mungkin sengaja Acun membeli tiket dengan tempat duduk tak saling berdekatan. Demi keamanan. Pikirku juga gitu, kalok ada yang sial tertangkap, paling tidak yang lain masih bisa selamat.

Stasiun Kereta Api Tanjung Balai merupakan stasiun kelas II yang dikelola Divisi Regional I Sumatera Utara dan Aceh. Stasiun ini dilengkapi dengan tiga jalur rel. Satu-satunya kereta api yang masuk ke stasiun ini melayani rute Tanjung Balai-Medan adalah Putri Deli. Jarak Medan-Tanjung Balai sekitar 184 Km dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.

Tak lebih dari 10 menit kami duduk, kereta pun berangkat. Serelah jalan, kereta api yang kami tumpangi sangat riuh, selain karena suara berisik gesekan roda kereta dengan rel dan suara hentakan gerbong yang sedikit mengayun, ditambah riuhnya para pedagang asongan yang berteriak-teriak menjajakan beragam jajanan, makanan, air mineral hingga rokok dan mainan yang hilir mudik dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Maklum lah, kereta api yang kami tumpangi kelas ekonomi, hihi…

Sajian suasana kota-kota kecil dan kampung yang terlewati serta bentang alamnya yang masih asri dan hijau sepanjang jalur yang kami lewati, tak luput dari pandanganku. Cukup menghiburku, sedikit mengobati kegalauanku.

Sekitar jam 12.47 Wib, kereta api pun sampai di Stasiun Medan. Stasiun kereta api ini tergolong kecil untuk ukuran kota terbesar ketiga di Indonesia. Sejak Jokowi Presiden RI, barulah Stasiun Medan termasuk dalam stasiun kereta api modern, tertata dan tersibuk yang ada di Sumatera. Tersedia berbagai kelas serta rute menuju Bandara Internasional Kualanamu serta ke sejumlah kota di Sumatera Utara.

Untuk fasilitas dan infrastrukturnya, stasiun ini termasuk dalam stasiun canggih, karena ada dipo lokomotif dan sistem layaknya di bandara ketika masuk ke gerbong kereta api. Lokasinya juga sangat strategis karena diapit oleh bangunan bersejarah dan wisata ikonik Kota Medan.

Setelah turun dari kereta api dan keluar dari stasiun, kami pun langsung bergegas dan masing-masing mencari taksi. Kami tidak jalan bersama menumpang 1 taksi, melainkan berpisah demi keamanan dan itu protap yang diajarkan Wigi.

“Amplas berapa Bang?” tanyaku setelah aku menyetop sebuah taksi. “20 ribu aja dek,” kata bang supir menjawab. Dan tanpa tawar langsung aku naik dan taksi pun langsung meluncur ke tujuan yang ku sebut. Di dalam taksi ku sempatkan menengok ke belakang dan kulihat Acun sama Aswan berdiri agak bejauhan menunggu taksi. Aku pun tersenyum geli melihatnya, hihi…

“Pinggir bang, simpang ini aja bang!” Lalu kusodorkan ongkos taksi dan turun. Seperti sudah terbiasa alam bawah sadar, kutengok kanan kiri, setelah kurasa aman, tak ada yang mengikuti, aku pun berjalan menuju rumah kost Udin yang jaraknya sekitar 400 meter lagi.

“Apa kabar pakcik? Sehat barang tu kan?” tanya Kamal sambil tertawa sesaat setelah aku tiba di depan rumah kos Udin. Kulihat Udin, Hasan dan Wigi sedang duduk santai di bawah pohon jambu klutuk yang rindang. Sepertinya mereka habis makan siang, karena kulihat ada sampah bungkus nasi berserakan di situ.

“Sehatlah pakcik,” jawabku ke Kamal. “Acun dan Aswan mana Per? Kok gak sama kelen?” tanya Wigi.

Kampretnya si Wigi ini dalam hatiku. Padahal dia yang ngajari kami protap keamanan dalam perjalanan, dia pula yang nanya kok kami gak sama nyampeknya.

“Kata pakcik kan kalau dalam perjalanan harus terpisah dan pura-pura tidak kenal, jadi aku duluan mereka nyusul. Bentar lagi juga nyampek”. Sambil ketawa Wigi bilang “mantap pakcik!”

Tidak lama kemudian Aswan nyampe dan langsung menyapa kawan-kawan dengan riang, “Assalamualaikum Kameradku semua”.

“Kok ceria kali pakcik ku lihat, berarti jelas di Tanjung Balai ya,” celetuk Udin yang baru keluar dari kosannya membalas sapaan Aswan. “Bukan gitu pakcik, senang awak lihat kawan-kawan masih sehat, lepas rindu awak, kalau di togel namanya ini 1802 alias lama tak jumpa,” kata Aswan dan kami pun ketawa semua dengar istilah si Aswan ini.

“Masuk diaaaa” teriak Kamal ketika Acun muncul tiba-tiba di hadapan kami. Sambil senyam-senyum Acun langsung menghampiri dan menyalam Wigi, Kamal, Hasan dan Udin. “Makin gemuk ku lihat uwak ya, berarti mantap service Hasan di rumahnya ya wak” kata Acun sambil ngelus perut Kamal yang mulai membuncit.

“Cemana gak gemuk wak, makan tidur aja di sana wak, udah kayak ular aja wak,” kata Kamal sambil melirik Hasan, lirikan terima kasih kayaknya, hihi.

“Dia kesayangan mak ku disana Cun, rajin kali dia bantuin mak ku masak,” celetuk Hasan.

“Mak ku sering muji dia, selain rajin bantuin masak, pagi-pagi dia juga rajin olah raga sport sambil ngepek cewek lah tak mau kalah sama Wigi. Pernah sekali mak ku tanyak, rajin kawan mu itu olah raga ya San, tapi kok kaus kakinya kayak gitu, merah. Pakek celana pendek pakek jeket lagi” cerita Hasan, dan kami pun semua tertawa. Kamal memang kayak gitu, norak, celetuk Acun dan kami pun kembali tertawa.

“Kalau Wigi woi, ngepek tetangga ku, si Tina. Udah kayak biduan orang tu bedua sering nyanyi sama. Itulah hiburan kami di sana. Ada pulak gitar tetangga ku yang dimainkan Wigi. Kata Wigi suara Tina kayak Evi Tamala”. Kisah Hasan yang langsung disambut Wigi, iya wak suaranya kayak Evi Tamala.

Setelah bercanda ria melepas rindu, bertukar pengalaman dan cerita yang lucu-lucu serta kekonyolan yang terjadi selama sporing, kamipun mulai mendiskùsikan dan merancang langkah-langkah ke depan.

“Seperti yang telah kita diskusikan di telpon kemarin tentang berita tertangkapnya Budiman Sujatmiko cs dan kawan-kawan aktifis Medan, termasuk Nitra, menurutku lebih baik kita lari ke Jakarta karena lebih aman. Selain itu kita bisa mendapatkan informasi lebih cepat di Jakarta,” ucap Wigi membuka diskusi yang terkesan formal. Tumben si Wigi buka diskusinya formal kali, pikirku dalam hati, hihi.

BACA JUGA :  Sporing ke Tanjung Balai (Cerbung, Bag. 4)

Setelah melalui perdebatan panjang lebar selama tiga jam, akhirnya di sepakati lari ke Jakarta dengan pertimbangan lebih aman karena tidak ada yang mengenal, cepat mendapat informasi tentang perkembangan terkini serta lebih mudah berkoordinasi dengan kawan-kawan yang belum tertangkap di Jakarta.

Tetapi, sebahagian kawan lagi terutama yang belum teridentifikasi aparat, disepakati tetap sembunyi di Medan dan sekitarnya, tujuannya untuk membantu mengkoordinasikan kawan-kawan yang lain, yaitu Udin, Hasan dan Kamal, dengan catatan tetap harus saling koordinasi.

“Oke kawan-kawan, kita sudah membuat keputusan mengenai langkah-langkah keamanan, pembagian kerja plus struktur kurir dan koordinasinya, sepakat semua,” tanya Wignyok alias Wigi sebelum menutup pertemuan. “Sepakaaaat” kami menjawab serempak.

“Kapan kelen berangkat ke Jakarta Per,” tanya Wigi ke aku saat aku duduk santai habis rapat. “Lho, apa gak sama kita berangkatnya” aku protes Wigi karena malah nanya kapan berangkat, karena dalam benakku kami berangkatnya sama-sama ke Jakarta.

Kulihat muka Wigi agak merasa bersalah dan mengambil sebatang rokok sambil bilang ke aku “sorry per, kelen aja dulu yang berangkat ya, ibu yang di Pinang Baris nyuruh aku ke rumahnya, ada yang mau di titipnya untuk anaknya di Jakarta. Lagi pulak awak kan nunggu ongkos dari dia juga Per,” kata Wigi menjelaskan.

Wigi pun melanjutkan cakapnya sambil berharap kami memaklumi “Jadi menurutku kelen pigi aja duluan Per, nanti kita ketemu di sana aja. Ada nomor kontak di Jakarta yang bisa ku hubungi nantikan?” tanya Wigi.

“Ada Nyok, kami nanti ke tempat sepupuku di Karang Anyer, Jakarta Barat,” kata Acun merespon pertanyaan Wigi sambil menyerahkan sobèkan kertas berisi nomor telpon sepupunya di Jakarta.

Aswan mulai gelisah dan tidak sabaran ku lihat, mungkin dia udah stres di Medan karena tidak bisa bergerak ke mana-mana

“Ya udah jadi kekmana nih sekarang kita Per. Kita berangkat aja duluan betiga, jangan lama kali mikirnya keburu tau intel kita di sini,” kata Aswan agak kesal. Cocok juga usul Aswan ini pikirku dalam hati, apalagi yang mesti di tunggu.

“Kalau untuk ongkos dan biaya selama perjalanan sebenarnya udah cukup dari pemberian emaknya Fadly dan tantenya Acun,” kataku nyambung cakapnya si Aswan. Akhirnya kami sepakat berangkat besok pagi jadwal keberangkatan 7.30 Wib naik bus ALS yang terminalnya kebetulan dekat dari rumah kost Udin di Jalan Sisingamangaraja, Medan Amplas.

Keesokan harinya, suasana di terminal bus ALS terlihat begitu rame pagi itu. Sebagian penumpang memasukkan barang ke bagasi bus dan sebagian lagi terlihat sedang sarapan, ada yang ngobrol sambil ngopi dengan tarikan rokok yang dalam hingga ke paru-paru.

“Dalam kali ku tengok tarikan rokok Lae itu bah, macam udah sebulan gak merokok ku lihat. Tarik trus Lae, jangan kasih bernapas paru-paru itu, sakit berobat, mati tanam,” ujar seorang laki-laki setengah baya bercanda dengan kawannya yang berada di warung dekat Pool ALS. Sepertinya mereka telah kenal dan berkawan lama. Dan ternyata lelaki paruh baya itu salah satu kenek bus ALS yang akan membawa kami ke Jakarta.

Sesuai jadwal di tiket, harusnya bus sudah berangkat. Tetapi hingga jam 8.30 Wib, kenek dan kondekturnya masih berbenah memasukkan barang-barang penumpang ke bagasi bus. Barulah sekitar jam 9.00 Wib (lelet setengah jam) bus mulai begerak keluar dari Pool dan meninggalkan Kota Medan.

PO ALS yang membawa kami ke Jakarta namanya begitu melegenda di Sumatra bahkan di Indonesia. Perusahaan Otobus (PO) ini telah beroperasi sejak 1966 hingga kini dan sukses melayani beragam destinasi di Sumatra dan Jawa, dengan menghadirkan berbagai kelas bus, mulai dari kelas non-AC, AC toilet, AC non-toilet, eksekutif, hingga super eksekutif. Untuk menghemat, kami ambil kelas ekonomi non AC, jadi pakcik bisa membayangkan suasana perjalanan kami selama dua hari tiga malam dari Medan menuju Jakarta, hingga sempat dulu ada pameo di kalangan penumpang, supir dan kenek yang pernah naik ALS menuju Jakarta dengan Tagline “Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara”.

Ada empat rute utama Medan – Jakarta, yaitu via Jalan Raya Lintas Barat (Jalinbar), Jalan Raya Lintas Timur (Jalintim), Jalan Raya Lintas Pantai Timur dan Jalan Raya Lintas Tengah. Kebetulan bus kami mengambil rute Jalan Raya Lintas Tengah.

Dari Medan kami menuju Pematang Siantar langsung ke Parapat, satu kota kecil yang berada di tepi Danau Toba, kemudian bus melaju melalui Porsea, Balige, Siborong-borong, Tàrutung dan mulai masuk Sipirok, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan.

Aku duduk bersebelahan dengan inang-iinang (emak-emak Batak), saat ku tanya mau ngapain ke Jakarta, dia menjawab “mau menghadiri wisuda anakku nak,” jawabnya dengan bahasa Indonesia, tapi logat Bataknya kental kali.

“Wisuda S1 ya Nantulang,” tanyaku kembali, setelah aku tau anaknya ternyata perempuan, si ibu langsung menjawab pertanyaanku, “Tidak nak, Wisuda Doktor di UI” katanya. Ada perasaan bangga dan puas terdengar dari jawaban ibu itu, tapi kesannya bukan sombong, lebih pada rasa bersyukur kepada Tuhan.

Aku spontan langsung menyalami tangan si Ibu itu dan berkata “Selamat ya Nantulang, luar biasa Nantulang mampu menyekolahkan anak hingga Doktor”. Aku kagum melihat sosok ibu ini. Sejak itu mulai terjalin ke akrabanku dengan ibu Batak yang usianya melebihi emakku, ku taksir sekitar 65 tahun, rambut sudah memutih semua, dengan jaket lusuh di sertai aroma minyak kayu putih dan tak jarang batuk berkepanjangan di sepanjang perjalanan menuju Jakarta.

Tetapi entah mengapa, saat itu aku merasa tidak terganggu selama perjalanan, mungkin ini karena efek rindu emak. Ya, sejak lari dari rumah aku sudah hampir sebulan lebih tidak ketemu dan berkomunikasi dengan emakku. Ku lihat si Ibu itu tertidur menjelang malam saat bus memasuki Kota Padang Sidempuan, tak sadar bola mataku berair teringat emakku. Buru-buru ku ambil sapu tangan dan menghapusnya sebelum jatuh di pipi dan terlihat oleh Aswan yang duduk di depanku, atau Acun yang kebetulan duduk di belakangku sesuai dengan protap keamanan dalam perjalanan. Benar juga kata orang, gumanku dalam hati sambil tersenyum “Naik sebagai penumpang, Turun sebagai saudara”.

Jam delapan malam kami sampe di Padang Sidempuan dan makan malam di sana. Aku turun dan ku ajak si Ibu. “Gak turun Nantulang, makan dulu kita, nanti masuk angin Nantulang kalau gak makan,” ajak ku ke ibu itu karena ku lihat dia enggan turun dan malah mau nyambung tidurnya yang sempat tertunda. “Gak nak, Nantulang lanjut tidur aja, masih kenyang,” jawabnya sambil kepalanya mencari sandaran yang enak untuk tidur kembali.

Akupun segera turun dari bus dan berjalan menuju restauran bergabung di meja Aswan dan Acun yang sudah pesan makan.

Sepanjang istirahat makan, aku selalu di ejekin si Aswan dan Acun. Kata mereka aku sial dapat tempat duduk dengan nenek-nenek, akupun ikut ketawa mendengarnya karena aku tahu mereka sedang becanda.

Dengan lagaknya, Aswan bercerita dia beruntung betul satu tempat duduk dengan mahasiswi IAIN Jakarta yang kembali ke kampusnya pasca liburan. “Gak terasa awak sporing jadinya gara-gara satu bangku sama cewek cantik itu Per. Dikasihnya pula alamat kostnya di Jakarta sama awak cuy, kapan-kapan cocok juga kita kesana nanti ya wak,” kata Aswan. Kami hanya senyum aja dengar celotehan Aswan itu. Sekitar setengah jam waktu istirahat berlalu, kami kembali naik ke bus dan melanjutkan perjalanan membelah malam.

Dari Padang Sidempuan bus ALS melewati rute Sibuhuan, Panyabungan, Kotanopan, Muara Sipongi lalu memasuki wilayah Sumatera Barat melewati Lubuk Sikaping, Bonjol, Bukit Tinggi, Padang Panjang dan Solok. Sekitar jam 9.00 pagi kami nyampe Singkarak, tepatnya Danau Singkarak untuk istirahat makan dan mandi pagi.

Dari rute perjalanan Medan-Jakarta yang paling berkesan bagiku adalah makan di Danau Singkarak ini. Danau Singkarak adalah danau di Sumatera Barat yang sangat emeging, cantik kali. Capek awak langsung hilang melihat pemandanganñya yang wonderful plus makanannya yang memanjakan lidah. Di rumah makan tepian Danau Singkarak ini banyak penumpang mandi pagi sekalian tukar pakaian setelah seharian bau keringat mengucur di badan, tapi mandinya bukan di danau, tetap aja di kamar mandi restauran yang bersih, sangat berbeda dengan kamar mandi rumah makan di sepanjang rute Sumatera Utara, hihi. Awakpun tak mau ketinggalan, setelah makan langsung bergegas ke kamar mandi. Sudah seharian tak ketemu air, langsung segar rasanya badan dan pikiran ini setelah mandi.

Agak lama juga kami istirahat di Danau Singkarak, sekitar satu jam lebih lah. Kemudian kamipun kembali naik ke bus untuk kembali melanjutkan perjalanan melewati, Kiliran Jao, Sungai Dareh lalu memasuki Provinsi Jambi memasuki Muara Bungo, lanjut ke Bangko dan Sarolangun.

Aku mulai penat, gerah dan bosan di bus ini, apalagi Ibu di sebelahku yang akrab ku panggil Nantulang selalu tidur dan tidak bisa di ajak ngobrol panjang lebar, maklum udah tua. Sementara Aswan ku tengok justru ceria kaki, ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan, dia terus bersenda gurau dengan mahasiswi IAIN Jakarta yang ternyata cukup ramah juga orangnya.

Sementara Acun lebih banyak membaca buku di sepanjang perjalanan, sepertinya dia sudah mempersiapkan beberapa stok buku untuk di baca dalam perjalanan. Karena aku tidak bisa tertidur dan minim kawan ngobrol, akhirnya aku selalu melihat kaca jendela dan pemandangan diluar jendela yang lalui. Awakpun akhirnya jadi hafal nama kota-kota yang kami lewati sepanjang perjalanan dari Medan menuju Jakarta.

Memasuki Propinsi Sumatera Selatan, bus ALS yang kami tumpangi saling kejar kejaran dengan bus Medan Jaya, mulai dari Kota Lubuk Linggau hingga Tebing Tinggi. Bus Medan Jaya merupakan bus yang trayeknya juga Medan-Jakarta. Bus ini di kenal sebagai bus tercepat di Lintas Sumatera dan di juluki ‘Si Peluru Dari Medan’. Kenapa di sebut peluru woi, bayangkan aja waktu tempuh normal Jakarta-Medan maupun sebaliknya di tempuh dua hari tiga malam bahkan lebih, tetapi bus Medan Jaya bisa tembus dari Medan ke Jakarta hanya 48 jam atau dua hari dua malam, gilak gak tu. Kayak mana larinya tu.

Jantungku hampir copot dan penumpang mulai ketakutan karena kecepatan mulai tidak normal serta saling salib di tikungan antara dua raja jalanan ini. Tiba-tiba Nantulang di sebelah tempat dudukku terbangun dan berteriak “Hei pak supir, pelan-pelanlah. Mau copot jantungku ini, mau kau bawa ke kuburan kami ini semua ya,” teriaknya dengan nadà marah. Sejak itu Bang Supir pun tidak lagi menyetir dengan kecepatan tinggi dan saling kejar berlomba dengan bus Medan Jaya atau bus lain yang menyalip bus kami hingga kami sampai ke Jakarta. Alhamdulillah doaku dalam hati, sempat pucat juga awak di buat bang supir saat kebut-kebutan tadi.

Kota-kota di propinsi Sumatera Selatan pun kami lalui dengan aman dan nyaman, mulai dari Lahat, Muara Enim, Prabumulih, Baturaja, Martapura lalu memasuki Propinsi Lampung, propinsi paling ujung bagian selatan Sumatera.

Mulai dari Kabupaten Way Tuba, Blambangan Ampu, Baradatu kemudian masuk ke Gubung Labuhan, lanjut ke Bukit Kemuning, Kota Bumi, Bandar Jaya, Bandar Lampung dan terus bergerak ke Kalianda hingga akhirnya sampai di pelabuhan Bakauheni. Rute yang sangat panjang dan menguras tenaga ini sudah dianggap seperti hiburan oleh kondektur dan kenek bus Lintas Sumatera ini.

Sampai di Bakauheni, kamipun turun bersama penumpang lain menaiki kapal penyebrangan roro menuju pelabuhan Merak yang masuk dalam wilayah Provinsi Banten. Sekitar satu setengah jam perjalànan penyebrangan kami manfaatkan untuk istirahat, sementara Aswan tidak melewatkan waktunya dengan sia-sia. Dia duduk bersama cewek keñalan baru teman sebangkunya di bus di ujung kapal, udah mirip kayak film Titanic tahun 1997 yang disutradarai James Cameron ku lihat dia. Meski waktu itu film Titanic belum siap dibuat, hihi.

Sampek Pelabuhan Merak, kami pun turun dari kapal dan menunggu bus ALS yang kami tumpangi turun dari kapal. Tak lama setelah itu bus kembali meluncur dan terakhir berhenti di Pool Bus ALS di Klender, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Aku kembali teringat lagu yang sering di nyanyikan Bung Wigi saat dia rindu kampung halaman ketika di rumah kost Udin sambil gitaran.

di sana rumahku
dalam kabut biru
hatiku sedih di hari minggu

di sana kasihku
berdiri menunggu
di batas waktu yang telah tertentu

ke Jakarta aku kan kembali
walaupun apa yang kan terjadi.
(Bersambung)

Penulis: M Ikhyar Velayati Harahap, Koordinator Forum Aktifis 98 Sumut.

 412 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *