TGB VIRAL !!! Diskusi Tuan Guru Batak (TGB) Lampui Seribuan Komentar

TGB VIRAL !!! Diskusi Tuan Guru Batak (TGB) lampui seribuan komentar di salah satu group komunitas Batak

Asaberita.com-Medan — Woww…TGB VIRAL !!! Diskusi Tuan Guru Batak (TGB) lampui seribuan komentar di salah satu group komunitas Batak yakni “Sejarah Batak”.

Siapa sebenarnya Tuan Guru Batak (TGB) hingga bisa viral diperbincangkan. Apakah anda sudah mengenal TGB dari Sumut ini ? Beliau adalah tokoh agama atau Ulama yang sudah me-nasional, sering dikunjungi para tokoh Nasional sampai lokal.

TGB juga dikenal dengan penceramah moderat, memiliki nasionalisme yang tinggi dan penggiat kerukunan. TGB merupakan tokoh kharismatik yang sudah populer dan memiliki ribuan jemaah dan simpatisan.

Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk yang merupakan tokoh agama, Ulama sufi dan juga pimpinan pesantren persulukan ini, akhir-akhir ini viral. Disalah satu group komunitas batak yakni “sejarah batak” perpincangan pro-kontra Tuan Guru Batak, tidak habis-habis dan tak kunjung usai.

Pro-kontra tersebut bukan soal kiprah ketokohan dan ke-Ulamaan Tuan Guru Batak (TGB) yang mayoritas publik telah mengamini hal itu. Tapi ini soal “gelar TGB yakni Tuan Guru Batak” yang disematkan atau disandangjan oleh Syekh Dr Ahmad Sabban elRahmaniy Rajagukguk yang juga Dosen Program Doktor UIN SU ini.

Beberapa pro-kontra itu dapat kita baca seperti dari M Zait al-Fath Sianipar : “TGB/TUAN GURU BATAK SYEIKH DR. H. Ahmad Sabban El-Rahmany Rajagukguk MA sudah berskala level Nasional dan International… Presiden SBY, Presiden Jokowi, Presiden Megawati, Menteri-menteri, Jenderal, Pejabat Pusat, Gubernur, Bupati, Walikota dan Tamu dari Luar Negeri, dll sudah datang berkunjung ke tempat beliau…
Yg memberikan kata sambutan pada Bukunya ada Gubernur, Wagub, Pangdam, Kapolda, dll…
Jadi sebagai orang Batak saya pun juga ikut turut merasa Bangga kalau dia memakai dan menggunakan Gelar TGB/TUAN GURU BATAK tersebut.

Komentar lain dari Yohanes Purba :

MENJADI BATAK BUKAN BERARTI MENJADI KRISTEN, MENJADI KRISTEN BUKAN BERARTI BATAK. MENJADI ISLAM BUKAN BERARTI JAWA, MENJADI JAWA BUKAN BERARTI ISLAM. ADAT, BUDAYA PADA DASARNYA MENGATUR URUSAN MANUSIA AGAR MENJADI MANUSIA YANG BAIK, AGAMA JUGA HADIR UNTUK MENGATUR MANUSIA AGAR MENJADI BAIK. JADI TIDAK ADA YANG BERTENTANGAN DAN HARUS DIPERTENTANGAN.

ORANG BISA PINDAH AGAMA TAPI TIDAK BISA PINDAH MARGA. BERUNTUNGLAH LELUHUR KETIKA ANAK KETURUNANNYA MASIH MAU MENGAKUI DIA SEBAGAI CUCUNYA DAN MENCANTUMKAN GELAR/NAMA/MARGA DIBELAKANG GELAR/NAMA/PANGKATNYA.

YANG BERHAK MEMBAWA BATAK TIDAK BISA DIARTIKAN OLEH SEKELOMPOK ORANG TERTENTU SAJA ATAU AGAMA TERTENTU SAJA ATAU GOLONGAN TERTENTU SAJA. KARENA ITU MENYANGKUT DENGAN RASA KEBANGGAAN SESEORANG ATAS DARAH KETURUNAN DARI LELUHURNYA. JADI WALAU DIA PERGI KEMANAPUN, APAKAH AMERIKA, EROPA, ARAB, CHINA, HINDIA DAN BELAHAN DUNIA MANAPUN. KEBANGGAAN ATAS MARGA, SUKU DAN ADATNYA TIDAK BISA DIPAKSA UNTUK DIHILANGKAN ATAU DIANGGAP KESUKUANNYA SUDAH TIDAK MURNI LAGI. INI SOAL DARAH KETURUNAN LELUHURNYA. APAPUN AGAMANYA, PEMIKIRANNYA DAN AKTIFITASNYA DIA TETAPLAH CUCU DARI LELUHURNYA DARI BANGSA BATAK.

SAMA HALNYA SEPERTI ORANG BANJAR SEPERTI MERANTAU KE MEDAN, DIA MEMAKAI NAMA BELAKANG DENGAN AL-BANJARY JUGA DENGAN ORANG BANTEN YANG MEMAKAI NAMA BELAKANGNYA AL-BANTANI. JADI ITU TIDAK PERLU DIPERDEBATKAN. ITU SUATU SIMBOL KEBANGGAAN SESEORANG ATAS LELUHURNYA.

KITA BOLEH BERPINDAH AGAMA DAN BERPINDAH NEGARA TAPI BERPINDAH DARI BATAK KE JAWA ATAU MELAYU ATAU DAYAK TENTULAH TIDAK BISA. BATAK TETAPLAH BATAK WALAU DIMANAPUN KAKINYA BERPIJAK.

BACA JUGA :  Dugaan Jual Beli Jabatan di UIN Sumut Semakin Terkuak

JADI TUAN GURUNYA PARA JEMAATNYA JIKA MAU MEMBESARKAN BATAK TIDAK MENJADI PERSOALAN. JUSTERU KITA SENANG DAN BANGGA KARENA BANGSA BATAK DAN ADAT ISTIADAT BATAK BISA DILESTARIKAN, DIKEMBANGKAN DAN DIPERKENALKAN DI SELURUH PELOSOK NEGERI DAN SAMPAI DUNIA. INI HARUSNYA KITA SUPORT DAN SALING MENGUATKAN. JANGAN MALAH SALING MELEMAHKAN. KITA TERLALU BANYAK MEMPERDEBATKAN HAL YANG TIDAK PENTING SEHINGGA MELUPAKAN TUJUAN ITU SENDIRI YAITU DALAM HAL INI MENJADI MANUSIA YANG BAIK UNTUK SEMUA MANUSIA. MEMBERI RASA KEAMANAN DAN. KENYAMANAN BAGI SELURUH ALAM SEMESTA.

Komentar dari Fritz Aritonang juga sangat mendukung : “Buat yg buat koment melecehkan saudara semarga saya Rajagukguk, saya beritahukan ya, Kyai Ahmad Sabban Rachmany Rajagukguk adalah satu dari puluhan ribu keturunan Op Rajagukguk nabolon. Beliau anggota Dewan Pendiri Perkumpulan Marga Rajagukguk sedunia dan beliau meskipun muslim tapi seorang nasionalis. Jadi tolong jangan berkoment miring kalau belum kenal beliau. dari saya Fritz Rajagukguk Generasi ke 15 agama saya Kristen Protestan, dan kami nasionalisbyg sdh sepakat saling menghargai agama masing2 bersaudara. Tks.”

Komentar yang mendukung lainnya dari Adv Sanggam Tambunan :
“Sedikit pendapat mengenai sebutan Tuan Guru Batak, menurut saya tidak ada masalah. Kita harus pahami dulu alasan pemberian nama itu dan siapa yang memberikan. Seperti telah dijelaskan, sebutan itu asalnya bukan dari orang batak tetapi dari suku lain. Sebagai wujud rasa hormatnya kepada beliau sebagai guru. Kemudian, ketika kita bicara tentang suku batak jangan langsung diidentikkan dengan Kristen supaya tidak salah kaprah. Tks”

Komentar John Daniel Lumbantaruan :
“Ini lah suku batak.
Merasa batak itu adalah milik agama tertentu dan milik pemakan makanan tertentu. Kapan kitanya maju kalau gitu terus? Ada yg gak mau ngaku batak, kalian hujat, ada yg bangga dengan kebatakannya kalian hujat juga.
Kalian itu maunya apa?
Saya rasa TGB itu niatnya baik. Dia punya akses sama petinggi-petinggi negara, dan belum pernah dengar juga beliau ceramah provokator.”

Sedangkan komentar kontra juga ada dari berbagai nitizen yang pada dasarnya mereka keliru memahami makna TGB, seperti komentar dari Marcius Dabungke :

Tuan Guru Batak? Sampai dimana karya dan perjuangan seseorang utk dinobatkan jadi Tuan Guru Batak? Sisipan kata batak disini harus mendapatkan pengakuan dari perwakilan seluruh marga marga yg ada.

Menyikapi hal ini, kami wartawan (asaberita -red) mencoba mengkonfirmasi TGB atas viralnya pro-kontra penyematan gelar tersebut, berikut wawancara kami :

Wartawan : Apakah TGB sudah membaca diskusi viral ttg TGB dibeberapa komunitas batak terkhusus digroup sejarah batak (?)

TGB : Ya, sudah. Kemaren itu diberitahu dari saudara-saudara kami digroup Rajagukguk sedunia. Juga diberitahu oleh teman-teman, adek-adek aktifis. Tapi belum sempat membaca semua karena komentarnya sudah ribuan.

Wartawan : Apa respon dan sikap TGB dalam menanggapi polemik itu (?)

TGB : Biasa saja, mereka umumnya sangat senang dan bangga ada muncul TGB dari Sumut. Yakni Ulama yang menyuarakan pesan-pesan perdamaian, kerukunan dan kemajemukan.

Wartawan : Maksud kami, soal gelar “Tuan Guru Batak” itu sendiri (?)

TGB : Ooh itu, mereka umumnya sudah mulai mengerti. Saya lihat sudah banyak nitizen yang cerdas menjelaskan makna TGB itu sendiri. Yang jelas, TGB itu bukan gelar dalam struktur adat kebatakan. Itu hanya sekedar panggilan saya sebagai Tuan Guru atau Ulama atau pimpinan persulukan.

BACA JUGA :  Tuan Guru Batak (TGB) Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar

Namun karena saya orang batak dan dari Tuan Guru pertama, yakni ayah saya juga sudah disebut “Syekh Batak” atau “Tuan Guru Batak”, maka sebutan itu semakin deras dan menguat di masa saya. Jadi sangat sederhana saja, saya biasanya dipanggil Tuan Guru. Dan Tuan Guru ini panggilan jamak atau umum bagi kami pimpinan persulukan diberbagai daerah di Indonesia.

Maka oleh tokoh-tokoh tertentu, para murid dan jemaah untuk membedakan ke-khas-an saya maka disebutlah Tuan Guru Batak (TGB). Gelar yang senada sesuai dengan ke-khasan tradisi mereka juga ada gelar, “Tuan Guru Bajang yang juga”, ada “Tuan Guru Sekumpul”, ada “Tuan Guru Besilam”, ada juga “Tuan Guru Sibio-bio.”

Wartawan : Jadi gelar TGB sama sekali tidak ada kaitannya dengan adat batak atau kebatakan (?)

TGB : Jelas tidak. Itu hanya sebutan atau gelar panggilan khas saja yakni Tuan Guru suku batak. Agar lebih simpel disebut ” Tuan Guru Batak.” Kalau tidak salah dahulu juga ada gelar “Pastor Batak”, apakah itu Pastornya orang batak tentu tidak tapi bagi kita yang menggunakan akal sehat sedikit saja pasti mengertilah bahwa hanya sebutan kekhasan Pastor suku batak.

Dikomentar itu juga ada disebut, seperti Rumah Makan Batak apakah ada kesepakatan orang-orang batak untuk menyematkan dan menamakan itu Rumah Makan Batak. Tentu tidak, tapi semua kita maklum dan mengerti tentang itu.

Jadi hemat saya, tidak perlu lagi diributkan. Fokus kita adalah bagaimana meningkatkan ikhtiar untuk bisa berkontribusi untuk bangsa. Terkhusus merawat kerukunan, persaudaraan, kebhinnekaan dan kemajemukan kita agar kita bisa menjadi bangsa yang kuat dan solid. Mereka yang masih belum mengerti tentang gelar TGB itu, tentu dijelaskan. Di media sudah banyak penjelasan itu. Jika masih ribut juga, berarti ini sudah terkait tendensi kebencian.

Sebab, jika terkait dengan kebatakan, saya batak dan menjunjung tinggi adat batak. Atas dasar apa mereka mengatasnamakan dirinya mewakili batak. Kita juga batak dan punya komunitas marga seperti bonataon Rajagukguk dan Toga Aritonang.

Soal perbedaan agama. Di batak itu sudah selesai. Batak itu paling kuat ikatan adat jadi perbedaan agama itu hal biasa. Keluarga besar saya dari oppung ada yang Pendeta, Sittua dan saya sendiri Ulama, semuanya saling hormat. Kita sudah lebih dahulu menjadi batak baru datang agama.

Wartawan : Luar biasa, penjelasan TGB sangat argumentatif, berkelas dan ber-nash. Terakhir, apa pesan TGB untuk bangsa batak atau kita semualah.

TGB : Orang Batak harus partisipatif dalam membangun bangsa. Menjadi penyangga dan pelopor kerukunan. Begitu juga suku dan adat lain, semua suku dan adat memiliki kekhasan dan kearifan. Semua itu baik, maka mari saling berjabat tangan dan saling merangkul. Bahwa kita tetap satu yakni satu Indonesia yakni NKRI harga mati. Salam. Horas, horas, horas !!!

(asa/has)

3,439 total views, 6 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *