LONDON — Gema rebana dan lantunan shalawat dari grup Annisaa Rebana London kembali memperkenalkan nuansa budaya Indonesia di tengah perhelatan World Halal Food Festival di London, Inggris.
Di balik kiprah grup tersebut terdapat sosok Dra. Hj. Afrahul Fadhilah, mahasiswa Program Magister (S2) Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang aktif di komunitas Muslim Indonesia di Inggris.
Annisaa Rebana London kembali tampil di panggung utama World Halal Food Festival di Stadium, Stratford, London, Ahad (27/9/2026). Penampilan tersebut menjadi kali keenam grup itu mendapat undangan panitia untuk mengisi festival kuliner halal tahunan tersebut.
Bagi Afrahul, tampilnya Annisaa Rebana bukan sekadar pertunjukan musik Islami. Kegiatan itu menjadi salah satu cara memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
“Saya terharu melihat penampilan Annisaa. Semoga ke depan, Annisaa Rebana semakin maju,” ujar Afrahul.
Selain menempuh pendidikan di UMSU, Afrahul aktif dalam berbagai kegiatan komunitas Muslim Indonesia di Inggris. Ia dipercaya sebagai Ketua Al-Washliyah London, pembina Annisaa Rebana London, sekaligus mengelola usaha kuliner Warung Nusantara London bersama Ibu Rahmawaty.
Pada festival yang berlangsung selama dua hari, 26-27 September 2026, Annisaa Rebana tampil mengenakan gamis biru muda berhias bordir perak. Di bawah kepemimpinan Ketua Hj. Satinah, para anggota grup membawakan lantunan rebana dan shalawat di hadapan pengunjung dari berbagai negara.
World Halal Food Festival tahun ini disebut dihadiri lebih dari 3.000 pengunjung. Sekitar 200 vendor dari berbagai negara turut ambil bagian dalam festival yang tidak hanya menyajikan kuliner halal, tetapi juga pertunjukan seni dan atraksi budaya.
Annisaa Rebana London sendiri telah berdiri sejak 2015. Grup tersebut rutin berlatih dua hingga tiga kali dalam sepekan di Indonesian Islamic Centre (IIC) London, masjid yang dimiliki bersama komunitas Muslim Indonesia di Inggris.
Tak hanya melalui seni musik qasidah, Afrahul juga berupaya memperkenalkan Indonesia melalui kuliner Nusantara. Menurut dia, peluang tersebut masih sangat terbuka karena Indonesia belum memiliki vendor makanan dalam festival yang diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai negara itu.
“Indonesia harusnya bisa menjadi salah satu peserta vendor agar makanan Indonesia lebih dikenal secara internasional,” katanya.
Afrahul juga menilai promosi budaya Indonesia di luar negeri perlu dilakukan secara lebih utuh, sehingga identitas Indonesia tidak hanya direpresentasikan melalui satu daerah atau destinasi wisata tertentu.
“Bagaimana caranya agar yang dikenal itu Indonesia, bukan hanya Bali saja. Padahal Bali adalah bagian dari Indonesia,” ujarnya.
Kiprah Afrahul di London menunjukkan bahwa aktivitas pendidikan, komunitas, seni, dan usaha kuliner dapat berjalan beriringan dalam memperkenalkan Indonesia di ruang internasional.
Melalui Annisaa Rebana, seni Islami menjadi medium untuk mengenalkan budaya Nusantara. Sementara melalui kuliner, Afrahul melihat peluang lain untuk memperluas pengenalan cita rasa Indonesia kepada masyarakat dunia.
World Halal Food Festival merupakan salah satu festival kuliner halal yang rutin digelar di London. Selain menghadirkan beragam produk makanan halal, festival tersebut juga menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas dan budaya dari sejumlah negara. (ABN/dan)






















