MEDAN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Universitas Medan Area (UMA). Prof. Dr. Ir. Rahmad Syah, M.Kom., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Mutu SDM dan Perekonomian, resmi mencatatkan diri sebagai guru besar termuda di bawah usia 38 tahun.
Ia tercatat sebagai guru besar termuda di bidang sains data dari sekitar 100 profesor pada bidang tersebut di Indonesia. Pengangkatan ini berdasarkan Surat Keputusan Mendiktisaintek Nomor 1687/M/KPT.KP/2026. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen UMA dalam memperkuat kualitas riset dan pengembangan sumber daya manusia berbasis sains data.
Prof. Rahmad menegaskan, riset tidak boleh hanya bertumbuh dari sisi kuantitas publikasi, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri. Standar kualitas itu diwujudkan melalui publikasi di jurnal lokal, Sinta, hingga jurnal internasional bereputasi.
“Riset harus memiliki dampak. Tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat,” ujarnya dalam acara coffee morning bersama wartawan di Kampus I UMA, Jalan Kolam Medan Estate, Senin (16/2/2026).
Pada awal 2026, UMA turut memberikan masukan dalam proses klasterisasi perguruan tinggi yang menjadi bagian dari indikator penilaian kementerian. Bahkan, UMA memperluas Indikator Kinerja Utama (IKU) dari delapan menjadi sebelas poin, dengan penekanan pada kontribusi riset terhadap pencapaian United Nations Sustainable Development Goals (SDGs).
Menurutnya, setiap perguruan tinggi harus memiliki ciri khas dan nilai unggul. Dengan jumlah dosen dan mahasiswa yang relatif lebih kecil dibanding perguruan tinggi negeri besar, UMA memilih fokus pada kualitas sebagai strategi utama.
Riset di UMA dirancang agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, sekaligus terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penerapan studi kasus berbasis lingkungan kerja mahasiswa menjadi salah satu bentuk konkret pendekatan tersebut.
Strategi ini mengantarkan UMA menjadi pilot project Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah I (LLDikti Wilayah I) Sumatera Utara dalam program hilirisasi riset yang berdaya saing.
Selain penguatan riset, UMA juga mendorong pengembangan unit bisnis sebagai sumber pendapatan mandiri. Relaksasi IKU membuka peluang bagi perguruan tinggi swasta untuk memiliki income generating unit di luar SPP dan UKT, sehingga kemandirian institusi semakin kuat sekaligus mendorong insentif publikasi ilmiah.
Dalam pengembangan keilmuan, Prof. Rahmad mengedepankan pendekatan interdisipliner dengan memadukan matematika, statistik, dan ilmu komputer untuk membangun kompetensi sains data yang komprehensif.
Pendekatan ini mendukung analisis prediktif dan preskriptif bagi kebijakan di sektor energi, pertanian, perkebunan, e-commerce, hingga perbankan. Implementasinya dilakukan melalui pemanfaatan machine learning dan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis pola dan perilaku masyarakat, sehingga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berkelanjutan.
“Hasil riset pun disajikan dalam bentuk infografik agar mudah dipahami publik. Dengan demikian, riset tidak hanya menjadi konsumsi akademik, tetapi benar-benar memberi dampak nyata,” kata mantan Wakil Rektor IV UMA ini.
Melalui strategi tersebut, UMA menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang relevan, berdaya saing, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi model PTS yang adaptif dan progresif di Sumatera. (ABN/dan)
- UMA Cetak Guru Besar Termuda, Sains Data Jadi Motor Riset Berkelanjutan – Februari 17, 2026
- Ziarah ke Tugu Toga Sinaga hingga Pesta Adat, PPTSB Sektor IV Cabang Medan Barat Rayakan Bona Taon 2026 – Februari 17, 2026
- Abdul Mu’ti Resmikan SPPG Nasional di UMSU, 270 Ribu Jiwa Telah Rasakan Manfaat MBM – Februari 17, 2026











