Menu

Otomatis
Breaking News

Berita

UMSU Buka Peluang Jadi Pusat Pelatihan Pekerja Migran Indonesia

badge-check

UMSU Buka Peluang Jadi Pusat Pelatihan Pekerja Migran Indonesia Perbesar

MEDAN – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuka peluang memperluas perannya dalam penyiapan Pekerja Migran Indonesia (PMI), termasuk menyediakan pusat pelatihan bagi calon pekerja sebelum diberangkatkan ke luar negeri.

Gagasan tersebut disampaikan Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd saat membuka Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan yang digelar Lembaga Hubungan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama UMSU di Auditorium Kampus UMSU, Jalan Kapten Muchtar Basri No. 3 Medan, Selasa-Kamis (22-24/9).

Menurut Prof. Akrim, perguruan tinggi memiliki sumber daya dan keahlian yang dapat dimanfaatkan untuk menyiapkan calon PMI agar tidak hanya memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan, tetapi juga kemampuan bahasa dan komunikasi.

“Kita mungkin akan menyediakan tempat pelatihan-pelatihan pekerja di UMSU sebelum berangkat ke luar negeri. Nantinya kita bisa berkolaborasi dengan LHKI untuk memfasilitasi,” ujar Prof. Akrim.

Ia mengatakan, peluang tersebut semakin terbuka karena sejumlah perusahaan dari Malaysia telah meminta tenaga kerja kepada UMSU. Kebutuhan itu antara lain berasal dari sektor makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) serta bidang kesehatan.

UMSU, kata dia, baru saja mendampingi perusahaan asal Malaysia, Hasani Group, dalam proses perekrutan 17 pekerja dari Medan.

“Perusahaan-perusahaan dari Malaysia pun senantiasa sudah meminta pekerja ke UMSU. Kita sudah mulai mencari tenaga kerja, khususnya yang saat ini paling banyak dibutuhkan di bidang F&B atau restoran, dan termasuk juga di bidang kesehatan,” katanya.

Menurut Prof. Akrim, kebutuhan tenaga kerja Indonesia juga terbuka di sejumlah negara lain. Karena itu, UMSU akan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, termasuk program studi kedokteran, keperawatan, farmasi dan kebidanan.

Namun, penyiapan calon PMI tidak cukup hanya dengan membekali keterampilan teknis. Kemampuan berkomunikasi dan penguasaan bahasa negara tujuan juga menjadi bagian penting, terutama bagi pekerja yang akan ditempatkan di kawasan Timur Tengah dan Eropa.

“Ini tugasnya UMSU untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap digunakan, yang siap pakai, khususnya dari sisi kebahasaan,” tegasnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, UMSU telah memperkuat pusat bahasa yang dinilai siap memberikan pelatihan kepada calon PMI. Pembekalan ini diharapkan membuat pekerja tidak hanya memiliki keterampilan sesuai bidang pekerjaan, tetapi juga mampu berkomunikasi secara efektif di negara tempat mereka bekerja.

Prof. Akrim juga menekankan bahwa penyiapan PMI harus berjalan beriringan dengan aspek perlindungan. Menurutnya, pemerintah, Muhammadiyah, perguruan tinggi dan komunitas memiliki peran yang saling melengkapi dalam memastikan pekerja Indonesia yang bekerja di luar negeri mendapatkan bekal dan perlindungan yang memadai.

“Pemerintah punya kebijakan dan kewenangan, Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan, perguruan tinggi punya sumber daya dan pengetahuan, dan komunitas punya pengalaman. Di sinilah perlunya kita berkolaborasi,” ujarnya.

UMSU sendiri telah memiliki pengalaman dalam mendampingi komunitas pekerja migran Indonesia di Malaysia. Selama tiga tahun terakhir, UMSU menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Malaysia, termasuk membina anak-anak pekerja migran Indonesia melalui sekitar 50 sanggar bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.

Pengalaman tersebut, lanjut Prof. Akrim, menjadi modal penting untuk memperkuat keterlibatan UMSU dalam isu pekerja migran sekaligus memperluas jejaring Muhammadiyah di luar negeri.

Pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan yang berlangsung selama tiga hari itu juga dirangkai dengan Dialog Pra Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah bertajuk “Diplomasi Kemanusiaan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia: Perspektif Pemerintah dan Parlemen”.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A. tampil sebagai narasumber kunci dengan materi “Internasionalisasi Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan”.

Dalam pemaparannya, Prof. Syafiq menyampaikan perkembangan Muhammadiyah yang menurutnya kini tidak lagi terbatas sebagai organisasi nasional, tetapi telah berkembang dengan jaringan dan mitra di berbagai negara.

“Dunia sekarang sangat jelas menuntut bahwa Muhammadiyah harus hadir di dalam kancah internasional. Jangan menjadi organisasi yang berada di sudut dunia ini, tetapi menjadi sebuah organisasi yang berada di tengah-tengah pusaran global,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini terdapat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di sekitar 30 negara yang menjadi bagian penting dalam memperluas gerakan Muhammadiyah di luar negeri.

Selain PCIM, Muhammadiyah juga memiliki sejumlah sister organization di berbagai negara. Organisasi-organisasi tersebut memiliki kesamaan visi dan gerakan dalam bidang dakwah, pendidikan maupun amal sosial, meski berdiri sebagai badan hukum di masing-masing negara.

Keberadaan jaringan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam proses internasionalisasi Muhammadiyah. Kerja sama juga terus dibangun dengan berbagai lembaga di luar Muhammadiyah yang memiliki tujuan dan perhatian serupa.

Prof. Syafiq mengatakan, meningkatnya perhatian masyarakat internasional terhadap Muhammadiyah juga terlihat dari semakin banyaknya pihak dari luar organisasi yang datang untuk mempelajari berbagai hal tentang Muhammadiyah, mulai dari pengelolaan organisasi hingga model pendidikan Islam.

Ia berharap berbagai unsur Muhammadiyah dapat terus bersatu dan bersinergi dalam menjalankan peran tersebut. Pelatihan diplomasi yang digelar di UMSU dinilai menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas kader Muhammadiyah dalam menjalankan amanah kemanusiaan sekaligus membangun jejaring internasional.

Stadium general dalam kegiatan tersebut dipandu Dbs. Bunyan Saptomo dengan menghadirkan Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia Danang Waskito, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI Dr. Ahmad Doli Kurnia Tandjung dan Anggota DPD RI K.H. Muhammad Nuh, M.S.P.

Sejumlah pemateri juga dijadwalkan mengisi pelatihan, di antaranya Prof. Dr. Din Syamsuddin, Dr. Imam Addaruqutni, Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A., Dbs. Bunyan Saptomo, Agung R. Hidayat, S.H., M.H., Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., dan Subhan Setowara, M.A.

Turut hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., Ketua LHKI PP Muhammadiyah Dr. Imam Addaruqutni, M.A., Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., Bendahara LHKI Puti Hasanatu Syadiah, M.I.Kom., Ketua BPH UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP., Wakil Rektor UMSU Bidang Sumber Daya dan Keuangan Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian dan Internasionalisasi Dr. Rudianto, M.Si., serta para pimpinan fakultas di lingkungan UMSU. (ABN/dan)

Tinggalkan Balasan

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

267 Dosen UMA Tersertifikasi, Tinggal 26 Dosen Dibina untuk Gelombang Berikutnya

22 Sep 2026 - 15:16 WIB

267 Dosen UMA Tersertifikasi, Tinggal 26 Dosen Dibina untuk Gelombang Berikutnya

Belajar di Negeri Sakura, 15 Mahasiswa Teknik UMA Siap Menimba Pengalaman Kerja di Jepang

22 Sep 2026 - 10:15 WIB

Belajar di Negeri Sakura, 15 Mahasiswa Teknik UMA Siap Menimba Pengalaman Kerja di Jepang

Penggabungan Ma’had Abu Ubaidah ke UMSU, Rektor Serahkan SK Dosen dan Tendik

21 Sep 2026 - 20:58 WIB

Penggabungan Ma’had Abu Ubaidah ke UMSU, Rektor Serahkan SK Dosen dan Tendik

BNI Tegaskan Transaksi Nasabah KC Kabanjahe Valid dan Terverifikasi

21 Sep 2026 - 13:46 WIB

BNI Tegaskan Transaksi Nasabah KC Kabanjahe Valid dan Terverifikasi

26 Tendik UMSU Ikuti Pelatihan Internasional di AKEPT Malaysia

21 Sep 2026 - 11:30 WIB

26 Tendik UMSU Ikuti Pelatihan Internasional di AKEPT Malaysia
Sedang Hot Berita