PALEMBANG – Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan Prof Dr Anang Anas Azhar MA, memberikan kuliah umum dirangkai dengan kegiatan Academic Teaching Collaboration di hadapan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula FDK UIN Raden Fatah Palembang tersebut diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan fakultas. Kehadiran mahasiswa dalam jumlah besar menunjukkan tingginya perhatian terhadap kegiatan kolaborasi akademik yang mempertemukan perspektif keilmuan komunikasi, politik, dakwah, sejarah, dan peradaban dalam satu forum pembelajaran.
Selain Prof Dr Anang Anas Azhar MA sebagai narasumber dari FDK UINSU Medan, kegiatan tersebut juga menghadirkan Wakil Dekan I FDK UIN Raden Fatah Palembang, Dr Candra Darmawan MA. Kedua akademisi ini menyampaikan materi dari bidang keilmuan yang berbeda, tetapi memiliki keterkaitan dalam melihat dinamika komunikasi, dakwah, politik, serta perkembangan masyarakat kontemporer.
Prof Dr Anang dalam sesi teaching collaboration menyampaikan materi tentang komunikasi dan pencitraan politik, sedangkan Dr Candra Darmawan membawakan materi mengenai sejarah dakwah dan peradaban. Perpaduan kedua materi tersebut memberi ruang kepada mahasiswa untuk memahami bahwa komunikasi politik dan dakwah tidak dapat dilepaskan dari proses perubahan sosial, perkembangan media, sejarah, budaya, serta dinamika peradaban.
Dalam pemaparannya, Prof Dr Anang menjelaskan pencitraan politik merupakan salah satu bagian penting dalam komunikasi politik modern. Pencitraan tidak semata-mata dipahami sebagai upaya membangun kesan sesaat, tetapi sebagai proses komunikasi yang dirancang untuk memperkenalkan identitas, kompetensi, karakter, gagasan, rekam jejak, serta posisi politik seorang kandidat maupun partai politik kepada masyarakat.
Menurutnya, pencitraan politik memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan popularitas dan elektabilitas. Seorang calon legislatif, kepala daerah, maupun partai politik membutuhkan tingkat pengenalan publik yang memadai sebelum memperoleh kepercayaan elektoral. Popularitas menjadi tahap awal ketika figur dikenal masyarakat, sedangkan elektabilitas berkaitan dengan kemungkinan masyarakat memberikan pilihan politik kepada figur tersebut.
“Perubahan ekosistem media telah mengubah pola komunikasi politik secara mendasar. Aktivitas politik tidak lagi hanya berlangsung melalui kampanye terbuka, pertemuan tatap muka, pemasangan baliho, penyebaran brosur, maupun kegiatan konvensional lainnya. Media digital telah menjadi ruang baru yang memungkinkan kandidat dan partai politik berkomunikasi secara cepat, luas, interaktif, serta berlangsung hampir tanpa batas waktu,” katanya.
Perkembangan media sosial, menurut Prof Anang, membuat proses pembentukan citra politik menjadi semakin kompleks. Tokoh politik dituntut mampu mengelola pesan, memilih isu, membangun narasi, merespons kritik, menjaga konsistensi komunikasi, serta memahami karakteristik audiens di berbagai platform digital. Kesalahan komunikasi dalam ruang digital juga dapat menyebar dengan sangat cepat dan berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat.
Wakil Dekan III FDK UINSU ini menambahkan, pencitraan politik yang kuat harus tetap didasarkan pada realitas, integritas, kinerja, dan kemampuan seorang figur. Pencitraan yang hanya mengandalkan simbol tanpa didukung rekam jejak berpotensi menimbulkan ketidakpercayaan publik. Karena itu, komunikasi politik perlu mempertemukan antara citra yang disampaikan kepada masyarakat dengan kapasitas dan tindakan nyata yang diperlihatkan seorang kandidat atau aktor politik.
Dalam konteks demokrasi, Prof Dr Anang juga mengingatkan mahasiswa agar melihat pencitraan politik secara kritis. Masyarakat tidak cukup hanya menerima pesan politik berdasarkan kemasan visual, slogan, konten viral, atau popularitas di media sosial. Literasi politik diperlukan agar publik mampu menilai program, gagasan, rekam jejak, kompetensi, integritas, serta komitmen calon pemimpin terhadap kepentingan masyarakat.
Sementara itu, materi sejarah dakwah dan peradaban yang disampaikan Dr Candra Darmawan memperluas perspektif mahasiswa mengenai proses penyampaian nilai, gagasan, dan pesan dakwah dalam perjalanan masyarakat. Sejarah menunjukkan bahwa perkembangan dakwah selalu berhubungan dengan konteks sosial, budaya, politik, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada setiap zaman. Pemahaman sejarah menjadi penting agar mahasiswa mampu membaca tantangan komunikasi dan dakwah secara lebih komprehensif.
Kegiatan Academic Teaching Collaboration tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama akademik antara FDK UINSU Medan dengan FDK UIN Raden Fatah Palembang. Kolaborasi semacam ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa, memperkuat pertukaran keilmuan antardosen, serta membuka ruang bagi pengembangan kegiatan bersama dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan berbagai program akademik lainnya pada masa mendatang.** msj

















