Oleh: Imam Pratomo, M.HI
MENILIK dari judul diatas, rasanya perlu penulis mengingatkan serta memotivasi kembali akan pentingnya berbagi antara sesama. Baik itu berbagi harta, ilmu, nasihat dan lain sebagainya. Artinya, bahwa ketika kita saling berbagi, maka orang akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti kebahagiaan yang kita rasakan.
Perlu kita pahami bahwa Kebahagiaan itu adalah buah dari kerja keras. Tidak ada keberhasilan yang berbuah kebahagiaan tanpa kerja keras. Dalam dunia kejahatan saja orang harus berjibaku untuk sampai pada puncak prestasi, maka tentu meraih kemuliaan kerja keras lebih dituntut lagi.
Kebahagiaan itu akan teruji jika salah satu diantaranya, kita berusaha berbagi dan memberi yang terbaik untuk saudara kita. Manusia memang tak pernah puas dalam banyak hal. Tidak jarang jika ia memiliki kelebihan, ia kesulitan membaginya pada yang lain. Amal yang diiringi iman tidak akan pernah berbuah kegundahan dan kesulitan, bahkan menjadi aset kebahagiaan yang tak terkira, yang diperoleh dengan banyak mengecapnya manisnya sabar. Marilah memberi dan berbagi dengan belajar dari kehidupan ini.
Setiap kali digaungkan tentang keindahan persaudaraan, setiap itu pula membuat yang lain penasaran dan ingin menilik lebih jauh. Karena agama ini punya konsep berbagi dengan saudaranya sesama muslim. Tentang ini, torehan sejarah terlalu banyak untuk dikenang dan di ulas. Sejarah telah menuturkan dirinya, namun sudahkah keindahan sejarah kita bertutur lewat tingkah laku kita?
Di belahan dunia sana, banyak saudara saudari kita yang tak tenang hidupnya, perang mencabik-cabik mereka, raga mereka terancam. Di sudut sana, orang bergelimang harta namun hatinya begitu miskin. Inikah yang diinginkan Islam?, Realita membuktikan bahwasanya, keadaan ukhuwah di antara kaum muslimin saat ini sudah sangat memprihatinkan. Sebagian kita tidak lagi mempedulikan keadaan saudaranya seiman, atau tidak merasa perlu untuk mengurusi dan membantu memecahkan permasalahan-permasalahan yang sedang menghimpitnya.
Tidakkah kita ingat akan ukhuwah yang sedang kita dambakan itu? Tidakkah kita ingat akan firman Allah (artinya): “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas kepada mereka. mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksa yang amat berat.” (Ali Imran:105). Dan juga firman Allah (artinya): “Dan janganlah kalian berbantah-bantah, yang menyebabkan kalian gagal dan hilang kekuatan.” (Al Anfal: 46).
Mereka yang disana (daerah rawan perang dan bencana) tak kunjung mengecap kebahagiaan. Lalu dimanakah letak kebahagiaan itu? Kebahagiaan sejati terletak di relung hati. Bahagia itu disini. Salah satu sumber kebahagiaan itu adalah saat kita mampu berbagi. Berbagi apa saja. Idealnya kita memberi saudara kita seperti yang kita punya.
Rasulullah pernah Bersabda dalam sebuah Hadistnya “ tidak beriman salah seorang diantara kamu sampai kamu mencintai saudaramu sebagaimana kamu mencintai diri kamu sendiri”.
Hadis ini sejalan dengan Firman Allah SWT “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92).
Menafsirkan ayat di atas, berkata Hasan Basri: “Sesungguhnya kalian tidak akan bisa meraih apa yang kalian inginkan kecuali kalau kalian mampu meninggalkan sesuatu yang menyenangkan, dan kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian cita-citakan kecuali dengan bersabar dengan sesuatu yang kalian tidak senangi” (Al Qurtubi, Al Jami’li Ahkam Al Qur’an, Beirut, Dar Al Kutub Ilmiyah, 1417H-1996M cet.V4/86 ).
Perlu di ingat, ketika kita memberi (berbagi) setidaknya ada yg harus kita tanamkan;
Pertama. Keikhlasan, ikhlas merupakan pondasi pertama diterimanya amal ibadah kita kepada Allah SWT, sebaik apapun amal perbuatan kita tetapi jika tidak ikhlas maka hal itu akan sia-sia, ada suatu riwayat yang menceritakan bahwa ada 3 orang yang akan Allah campakkan ia kedalam neraka yaitu orang yang sering membaca Alquran, kemudian orang yang berjihad dan orang yang rajin bersedekah. Lantas kenapa Allah campakkan mereka ke dalam Neraka?, jawabanya adalah karna mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.
Kedua, Jangan kamu mengungkit pemberian yang sudah diberi, ini juga yang harus kita perhatikan, biarlah Allah yang menilai apa yang sudah kita perbuat, yang terpenting kita sudah melakukan hal yang bermanfaat buat hidup orang lain dan semua itu menjadi amal jariyah buat kita.
Akan tetapi, jika kita tidak bisa berbagi harta dan ilmu, maka setidaknya kita bisa berbagi ungkapan suka, karena itu juga bagian dari memberi, kata-kata positif yang keluar dari mulut kita adalah bagian dari sedekah, seseorang yang berkata baik kepada kita sudah membuat kita senang yang pada akhirnya membuat kita semangat menjalani hidup dan kehidupan ini, bukankah Rabb kita pernah berkata dalam Firmannya “wa amma bini’matika fa haddist”. Jika kita tak punya yang lain untuk diberikan maka berikan doamu.
Doakan ia agar keteguhan selalu menyertainya, doakan ia diberikan kesehatan, doakan ia agar selamat dari marabahaya dan doakan ia meraih kesuksesan dan bil khusus doakan agar ia selalu taat di jalan agamanya. Meski ia tak berharta, meski ia tak berilmu namun keteguhan adalah modal utama dalam menghadapi hidup ini. Maka, berbagilah agar kamu agar bahagia.
(Penulis adalah Penyuluh Agama Islam ASN KUA Kecamatan Medan Kota, Staf Pengajar Ponpes Modern Darul Hikmah TPI, dan Pegiat Kajian Hukum Islam)











