SIMALUNGUN – Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun mengeluarkan klarifikasi terkait beredarnya sebuah video yang menampilkan salah seorang warga di media sosial dan sejumlah media online. Video tersebut ramai dibicarakan publik karena dinilai menimbulkan persepsi yang kurang tepat mengenai layanan pertanahan.
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Simalungun dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa peristiwa dalam video itu terjadi pada 12 Agustus 2025. Pihak kantor, pada hari yang sama, telah melakukan komunikasi langsung dengan pihak terkait untuk memastikan duduk persoalan secara jelas.
“Perlu kami sampaikan bahwa video tersebut bukan direkam ataupun diunggah oleh pihak bersangkutan, yaitu Bapak Mangatur Silalahi. Video itu diviralkan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan beliau,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Adapun permohonan yang diajukan adalah penerbitan Surat Keputusan (SK). Proses penyelesaian telah dilakukan sesuai prosedur, dan pada Senin, 22 September 2025, SK tersebut diserahkan langsung kepada kuasa pemohon dengan disaksikan Mangatur Silalahi selaku paman dari pemohon. Pihak kantor menegaskan, seluruh tahapan pelayanan masih berada dalam batas waktu sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
Kantor Pertanahan Simalungun juga mengakui sempat terjadi miskomunikasi antara Mangatur Silalahi dan kuasa dari pemohon dalam proses tersebut. Namun demikian, pihaknya memastikan pelayanan tetap berjalan sesuai ketentuan.
Melalui klarifikasi ini, Kantor Pertanahan Simalungun mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi di media sosial. “Kami berharap masyarakat dapat menyaring dan memverifikasi informasi terlebih dahulu sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun persepsi yang keliru,” tegas pihak kantor.
(ABN/basri)
- Gebyar Ramadan 1447 H, Alumni SMAN 1 Binjai Angkatan 1990 Berbagi Takjil Selama 25 Hari Penuh – Februari 28, 2026
- Musa Rajekshah; Perlu Mekanisme Denda Progresif Bagi Maskapai Delay Berjam-jam – Februari 28, 2026
- 47 Hari Mendekam di Penjara Phnom Penh, Ibu di Binjai Menangis Memohon Negara Selamatkan Anaknya – Februari 27, 2026











