Jakarta – Meningkatnya dinamika geopolitik global, rivalitas antarnegara, ancaman perang siber, terorisme, kejahatan lintas negara, disrupsi teknologi, hingga ketidakpastian ekonomi dunia dinilai menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi Indonesia.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Umum PNPI, Syamsul Rizal, mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sistem dan infrastruktur intelijen negara sebagai bagian dari strategi menjaga kedaulatan, stabilitas nasional, dan keselamatan rakyat.
Menurut Syamsul Rizal, negara tidak boleh hanya bersikap reaktif terhadap berbagai ancaman yang berkembang. Pemerintah harus memiliki kemampuan deteksi dini, analisis strategis, serta mekanisme respons yang cepat, terukur, dan terintegrasi. Karena itu, peran intelijen perlu terus diperkuat agar mampu memberikan informasi yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan nasional.
“Intelijen yang kuat bukanlah simbol kekuasaan, melainkan instrumen negara untuk melindungi rakyat, menjaga persatuan nasional, serta memastikan setiap kebijakan strategis pemerintah didasarkan pada informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Syamsul Rizal, Senin (03/08/2026)
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi informasi telah mengubah karakter ancaman terhadap suatu negara. Ancaman tidak lagi hanya berbentuk konvensional, tetapi juga hadir melalui penyebaran disinformasi, propaganda digital, serangan terhadap infrastruktur vital, pencurian data strategis, infiltrasi ekonomi, hingga upaya memecah belah persatuan bangsa melalui ruang siber.
Atas dasar itu, PNPI mendorong pemerintah mempercepat modernisasi infrastruktur intelijen melalui pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), penguatan sistem keamanan siber nasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia intelijen, serta integrasi sistem informasi antarinstansi pemerintah.
Selain penguatan teknologi, Syamsul Rizal menilai sinergi antarlembaga menjadi faktor penting dalam membangun sistem keamanan nasional yang efektif. Menurutnya, kolaborasi yang erat antara lembaga intelijen, TNI, Polri, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga sektor strategis nasional akan memperkuat kemampuan negara dalam menghadapi berbagai ancaman yang semakin kompleks.
Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya kewaspadaan nasional. Menurutnya, menjaga keamanan negara bukan semata menjadi tanggung jawab aparat, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai literasi digital, bahaya penyebaran hoaks, serta pentingnya menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus terus diperkuat.
PNPI berpandangan bahwa posisi Indonesia yang strategis di kawasan Indo-Pasifik menjadikan negara ini berpotensi menghadapi berbagai kepentingan geopolitik internasional. Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat kemampuan intelijen di berbagai sektor strategis, mulai dari intelijen ekonomi, intelijen maritim, intelijen energi, hingga intelijen pangan sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional yang komprehensif.
Meski demikian, Syamsul Rizal menegaskan bahwa penguatan intelijen harus tetap berada dalam koridor konstitusi, supremasi hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta prinsip-prinsip demokrasi. Menurutnya, intelijen yang profesional adalah intelijen yang bekerja berdasarkan hukum, menjunjung tinggi etika, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun individu.
“Indonesia membutuhkan sistem intelijen yang modern, adaptif, profesional, dan mampu membaca perubahan dunia dengan cepat. Ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kemampuan memperoleh informasi strategis yang mampu mencegah ancaman sebelum berkembang menjadi krisis,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian global, PNPI mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat persatuan, meningkatkan rasa cinta tanah air, serta mendukung berbagai langkah pemerintah dalam membangun sistem keamanan nasional yang semakin kuat.
Menurut organisasi tersebut, stabilitas nasional merupakan fondasi utama bagi keberhasilan pembangunan, peningkatan investasi, pertumbuhan ekonomi, dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat.
Sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap penguatan nilai-nilai kebangsaan, PNPI menyatakan siap mendukung berbagai kebijakan strategis pemerintah yang bertujuan memperkokoh ketahanan nasional, menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mewujudkan Indonesia yang aman, maju, mandiri, dan berdaya saing di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Menutup pernyataannya, Syamsul Rizal menegaskan bahwa penguatan sistem intelijen merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
“Ketahanan bangsa dimulai dari kemampuan negara mengenali ancaman sejak dini. Karena itu, memperkuat sistem dan infrastruktur intelijen merupakan investasi strategis demi menjaga kedaulatan, keamanan, dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
(ABN/Leriadi)
- Ketua Umum PNPI Dorong Pemerintah Perkuat Sistem dan Infrastruktur Intelijen Hadapi Dinamika Global – Agustus 3, 2026
- PNPI Dukung Pernyataan Presiden Prabowo, Tegaskan Pentingnya Mitigasi “Kaum Londo Ireng” – Agustus 3, 2026
- Pengalaman Sribana Jadi Energi Baru MPI Langkat, Optimistis Organisasi Makin Berdaya dan Berdampak – Agustus 3, 2026












