Scroll untuk baca artikel
#
MedanOrganisasiPeristiwaSumatera Utara

PW ISMI Sumut dan Komunitas Lingkungan Tanam 1.000 Pohon di DAS Deli, Gaungkan Kesadaran Ekoteologis

×

PW ISMI Sumut dan Komunitas Lingkungan Tanam 1.000 Pohon di DAS Deli, Gaungkan Kesadaran Ekoteologis

Sebarkan artikel ini
Penanaman Pohon di DAS Deli
PW ISMI Sumut dan Komunitas Lingkungan Tanam 1.000 Pohon di DAS Deli, Gaungkan Kesadaran Ekoteologis

 

MEDAN – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dimaknai dengan aksi nyata pelestarian alam melalui penanaman 1.000 pohon khas Melayu di kawasan Hutan Kota Medan Johor, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan tersebut digagas oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara bersama Green Justice Indonesia (GJI), Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), Komunitas Warga Kanal (KWK), dan Bentangan Alam Hijau Indonesia (Bahis).

Aksi penghijauan ini dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman banjir di Kota Medan akibat tingginya intensitas curah hujan dan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai kawasan resapan air.

Ketua PW ISMI Sumut, Prof. Dr. Nispul Khoir, M.Ag, mengatakan bahwa gerakan penanaman pohon tersebut tidak hanya bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat bahwa merawat alam merupakan tanggung jawab moral, budaya, dan spiritual.

“Melalui gerakan penanaman 1.000 pohon khas Melayu ini, kami mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa menjaga alam bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga amanah moral dan spiritual. Kami berterima kasih kepada GJI dan seluruh komunitas yang telah berkontribusi dalam menjaga ekologi kita,” ujar Nispul yang hadir didampingi Sekretaris Umum PW ISMI Sumut, Ismail Maszuki, serta jajaran pengurus organisasi.

Menurut Nispul, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli memiliki nilai historis dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat Melayu. Sungai Deli, katanya, bukan sekadar aliran air, melainkan ruang tumbuhnya peradaban, aktivitas perdagangan, serta pembentukan identitas budaya masyarakat sejak masa lalu.

“Sungai Deli adalah ruang sejarah, ruang budaya, sekaligus ruang spiritual masyarakat Melayu. Dari sungai inilah peradaban berkembang. Ketika sungai mengalami kerusakan, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga memori kolektif sebuah peradaban,” katanya.

BACA JUGA :  Wamen Ossy Saksikan Penyerahan Denda Administratif Rp11,4 Triliun oleh Satgas PKH sebagai Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Melayu dan ajaran Islam, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam. Karena itu, penanaman pohon di kawasan DAS Deli juga membawa pesan ekoteologi, yakni pandangan yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari pengabdian manusia kepada Tuhan.

“Ekologi dan teologi tidak dapat dipisahkan. Menjaga sungai, menanam pohon, dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk nyata pelaksanaan amanah sebagai khalifah di bumi. Inilah penguatan perspektif ekoteologis yang perlu terus ditanamkan dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Nispul juga menilai berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini, seperti banjir, pencemaran sungai, dan berkurangnya daerah resapan air, tidak hanya dipicu oleh persoalan teknis pembangunan, tetapi juga akibat melemahnya kesadaran etis manusia terhadap alam.

Sementara itu, Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam memulihkan kondisi lingkungan di kawasan DAS Deli.

Menurutnya, upaya rehabilitasi lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

“Kita menanam bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk puluhan tahun ke depan. Setiap pohon yang tumbuh akan menjaga tanah, menyimpan air, mengurangi risiko banjir, dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), M. Adlin Ginting. Ia menilai gerakan menjaga sungai harus berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Sungai adalah bagian dari peradaban. Ketika sungai sehat, masyarakat juga sehat. Karena itu pesan yang ingin kami sampaikan sederhana: tanam pohon, rawat peradaban. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Sungai Deli melalui cerita dan catatan sejarah,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pjs Bupati Toba Ajak Generasi Muda Simangunsong Aktif dalam Pembangunan Kabupaten Toba

Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Medan. Sekretaris Kecamatan Medan Johor, Juni Hardian, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara organisasi masyarakat, komunitas lingkungan, akademisi, dan pemerintah dalam memperkuat gerakan pelestarian lingkungan.

Menurutnya, upaya menjaga lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara berkelanjutan demi menciptakan Kota Medan yang lebih nyaman dan ramah bagi seluruh masyarakat.

“Pemerintah Kota Medan sangat mendukung berbagai aksi pelestarian lingkungan hidup demi kenyamanan dan keberlanjutan kota ini. Karena Medan untuk semua,” katanya.

Melalui penanaman 1.000 pohon khas Melayu tersebut, para penyelenggara berharap lahir gerakan yang lebih luas dalam memulihkan fungsi ekologis DAS Deli.

Selain memperkuat kawasan resapan air dan mengurangi risiko banjir, kegiatan ini juga diharapkan mampu menghidupkan kembali kesadaran masyarakat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari upaya melestarikan identitas budaya dan keberlanjutan peradaban.

(ABN/basri)

Tinggalkan Balasan