Scroll untuk baca artikel
#
BeritaUniversitarian

Rektor USU Tantang 1.843 Wisudawan Jadi Problem Solver Nyata

×

Rektor USU Tantang 1.843 Wisudawan Jadi Problem Solver Nyata

Sebarkan artikel ini
Sebanyak 1.843 lulusan USU prosesi wisuda yang digelar di Auditorium USU, Jumat (14/02/2025).

MEDAN – Kesenjangan antara teori dan praktik masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Akibatnya, berbagai persoalan di tengah masyarakat kerap tidak terselesaikan secara optimal karena minimnya peran akademisi dalam menghadirkan solusi nyata.

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., saat melantik 1.843 wisudawan dalam prosesi wisuda yang digelar di Auditorium USU, Jumat (14/02/2025).

Dalam pidatonya, Prof. Mury menekankan pentingnya keberanian mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata. Ia mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti belajar, berani mengambil keputusan, serta terus meningkatkan kemampuan berpikir sistematis dengan menyelaraskan teori dan keterampilan teknis.

“Seorang lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki dua kemampuan yang tidak terpisahkan: penguasaan teori dan kemampuan praktik. Atas dasar itulah tema wisuda hari ini adalah From Theory to Action: Mengatasi Kesenjangan dan Membentuk Nilai Baru dalam Transformasi Peradaban,” ujarnya.

Rektor menjelaskan, perubahan dunia kerja tidak hanya ditandai dengan kemajuan teknologi, tetapi juga pergeseran keterampilan yang dibutuhkan. Dunia kerja masa depan, katanya, lebih membutuhkan kemampuan berpikir jernih, beradaptasi dalam tekanan, memimpin, bekerja sama, serta memahami diri dan lingkungan.

“Dunia kerja tidak hanya mencari individu yang cerdas secara akademik, tetapi mereka yang mampu mengambil keputusan dan bertindak secara nyata,” tegasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya eksekusi, Prof. Mury mencontohkan pengalaman perusahaan global Starbucks. Saat menghadapi tekanan pertumbuhan dan tantangan operasional, perusahaan tersebut menunjuk CEO berlatar belakang konsultan strategi global. Secara konsep, arah bisnis terlihat rapi dan terukur.

BACA JUGA :  Berkah Ramadhan, Forwakum Sumut Salurkan Bantuan Pokok ke Panti Asuhan di Medan

Namun persoalan utama ternyata berada di lapangan—di gerai, di antrean pelanggan, dan dalam ritme operasional harian. Strategi yang logis di tingkat manajemen tidak sepenuhnya menjawab realitas di garis depan. Nilai perusahaan pun sempat mengalami penurunan signifikan.
Starbucks kemudian mengubah arah dengan menunjuk pemimpin yang kuat di bidang operasional lapangan. Perubahan itu membawa perbaikan layanan mendasar di tingkat gerai dan mendapat respons positif dari konsumen.

“Cerita ini mengajarkan bahwa banyak kegagalan bukan karena kurangnya teori, melainkan kegagalan dalam mengeksekusinya. Kepemimpinan sejati diuji bukan di ruang presentasi, tetapi di lapangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, teori tanpa pengalaman akan kehilangan daya gerak. Sebaliknya, pengalaman tanpa keberanian mengambil keputusan juga tidak akan menghasilkan perubahan.

“Dunia kerja tidak selalu menunggu kita siap dengan jawaban sempurna. Sering kali kita dituntut berani mengambil keputusan dalam keterbatasan dan bertanggung jawab penuh atas dampaknya. Inilah makna sesungguhnya From Theory to Action,” tutupnya.

Capaian dan Internasionalisasi USU
Pada kesempatan tersebut, Rektor juga memaparkan capaian internasionalisasi Universitas Sumatera Utara.

Saat ini USU menempati peringkat:
1001 dunia dalam QS World University Rankings (QS WUR)
268 Asia dalam QS Asian University Rankings (QS AUR)
851 dalam QS Sustainability
1501+ THE World University Rankings (THE WUR)
601 dalam THE Impact Rankings
USU memiliki 28 program studi terakreditasi internasional dan 87 program studi berakreditasi unggul.

BACA JUGA :  Hadiri Konferda DPD KSPSI AGN Sumut, Rahudman Harahap Serukan Pentingnya Perlindungan Hak Buruh

Pada 2026, USU membuka 28 kelas internasional (International Undergraduate Program) bekerja sama dengan kampus di Inggris, Eropa, dan Australia melalui skema joint degree dan double degree.
Program student mobility dan staff mobility juga terus diperkuat untuk memberikan pengalaman akademik bertaraf global bagi mahasiswa dan dosen.

Selain itu, USU menyediakan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu namun berprestasi sejak awal semester.

“Tidak boleh ada anak bangsa yang gagal kuliah hanya karena tidak mampu membayar biaya pendidikan,” tegas Prof. Mury.

Dengan semangat From Theory to Action, USU melepas 1.843 lulusan yang diharapkan tidak hanya menjadi insan terdidik, tetapi juga agen perubahan yang mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. (ABN/dan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *