Ma’had UINSU Mencetak Generasi Ulul Albab

Ma’had UINSU di Kampus IV Tuntungan. (foto/msj)

SETIAP kampus memiliki kelebihan. Setiap kampus ingin alumninya menjadi lulusan terbaik. Alumni harus memiliki daya saing, punya SDM handal yang standart go internasional. Keinginan sama pun muncul dari PTKIN, yang kini bertransformasi dari IAIN ke UIN. Kami menyebutnya kampus IV UINSU Medan, yang kini siap menampung model pembelajaran asrama atau ma’had bagi 6.500 mahasiswa baru UINSU.

Sudah lama niat para pendiri dan pelanjut UINSU bercita-cita memiliki kampus yang refresentatif, megah dan bertaraf internasional. Tanpa berlebihan mengapresiasi prestasi Rektor UINSU TGS Prof Dr KH Saidurrahman MAg, barulah periode 2016-2020 ini kampus IV UINSU di Tuntungan berdiri megah dan terwujud sesuai cita-cita pendiri UINSU. Mata publik terbuka lebar, bahwa sejak kepemimpinan Pak TGS-lah sebutan akrab Prof Saidurrahman, realisasi pembangunan kampus bertaraf internasional terwujud dengan baik.

Tidak hanya kehadiran kampus IV UINSU di Tuntungan saja, tetapi munculnya bangunan ma’had atau asrama mahasiswa ikut mendorong geliat ekonomi di kawasan itu. Bayangkan saja, hiruk pikuk 6.500 mahasiswa yang diasramakan menjadi model tersendiri meramaikan kawasan itu menjadi daerah pendidikan. Rumah-rumah penduduk di kawasan tersebut bakal berdampak positif sekaligus meningkatkan denyut ekonomi dan pendidikan kawasan itu.

“Kehadiran dua gedung monumental kampus Tuntungan itu, memberi warna baru bagi UINSU ke depan. Salah satunya ma’had. Ini adalah model pembelajaran asrama bagi mahasiswa UINSU. Setiap mahasiswa baru akan “diasramakan” paling tidak untuk satu tahun dalam rangka penguatan bahasa Arab dan Inggris serta Tahfiz Al-Qur’an,” kata Rektor UINSU Medan Prof Dr Saidurrahman dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Bagi rektor, ma’had yang telah dibangun menjadi warna tersendiri bagi penduduk sekitarnya. Kawasan yang dulunya tidak terlalu padat penduduk, tetapi dengan hadirnya ma’had ini bakal berubah dan seperti disulap menjadi kota pendidikan. Denyut pendidikan di kawasan itu semakin bergeliat. Secara tidak langsung pula, kehadiran ma’had itu mengubah kawasan itu menjadi ramai sekaligus mendorong investasi di sektor ekonomi.

Hadirnya ma’had itu tentu belum sesempurna yang diinginkan. Pro-kontra pun bermunculan dari calon mahasiswa maupun orangtua saat mendaftarkan anaknya ke UINSU. Banyak yang terkejut, banyak pula yang heran mengapa UINSU kok berubah seperti pondok pesantren. Jika ditelusuri dengan baik, memahami pondok pesantren dengan ma’had yang dimaksudkan UINSU jauh berbeda. Meski memiliki kemiripan tetapi dalam praktiknya sedikit berbeda. Pemahaman ma’had adalah model pembelajaran asrama bagi mahasiswa UINSU. Menjadi catatan khusus, bahwa setiap mahasiswa baru wajib “diasramakan”. Targetnya tidak muluk-muluk. Paling tidak, untuk satu tahun ajaran dalam rangka penguatan bahasa Arab dan Inggris, tahsin serta Tahfiz Al-Qur’an.

Secara khusus, bersamaan dengan itu, kehidupan di Asrama justru akan membentuk karakter mahasiswa yang berbeda dari kampus-kampus lainnya di Indonesia. “Insya Allah akan terbangun pemahaman Islam Washatiyyah dan Nasionalisme yang kuat mengawal NKRI,” kata Prof Saidurrahman. Sadar atau tidak, saat ini kemampuan berbahasa asing kita di kampus sangat lemah. Justru dengan model pembelajaran asrama ini mahasiswa terbiasa dengan percakapan dua bahasa yakni Arab dan Inggris. Pembelajaran itu memang tidak bisa ditawar-tawar lagi, lebih-lebih ketika kita berada di era 4.0, menuju kampus internasional sesuai target rektor menjadikan kampus UINSU World Class University (WCU) Tahun 2045 mendatang.

Cita-cita itu tentu tidak segampang membalik telapak tangan. Tidak hanya kemauan (azam) saja yang kita kuatkan, tetapi lebih dari itu kemampuan SDM yang handal dan tangguh untuk mengejar cita-cita rektor dan sivitas akademika UINSU sangat dibutuhkan. Bukan saatnya lagi kita berdebat dalam fasilitaas ma’had yang ada. Bukan saatnya lagi kita saling salah menyalahkan. Tetapi jauh dari itu, kita harus bekerja sama mewujudkan cita-cita yang sudah kita niatkan.

BACA JUGA :  LSS UINSU: Bobby-Aulia 31,4 Persen, Akhyar-Salman 20,8 Persen

Lantas apa saja fasilitas yang ada dalam ma’had itu? Jika kita datang melihat asrama UINSU di Tuntungan yang sudah disiapkan, terbuka mata kita bahwa ma’had itu bisa terbilang tempat mewah. Luasnya sekitar 6,3 hektare dan dibangun sebanyak 377 kopel rumah berlantai dua. Masing-masing kopel memiliki delapan kamar dan mahasiswa sangat nyaman dan aman berada di dalamnya. Satpam sebagai penjaga asrama pun full time selama 24 jam. Selain jauh dari keramaian, asrama tersebut juga nyaman untuk belajar, diskusi untuk membiasakan diri bagi mahasiswa dalam percakapan Arab dan Inggris.

Ma’had di Tuntungan memang sengaja terkoneksi dengan Kampus IV UINSU. Ma’had sebagai penunjang utama untuk praktik bahasa, sedangkan gedung IsDB gedung UINSU bertaraf internasional, dilengkapi laboratorium dan perpustakaan. Harapan pun bermunculan, bahwa dari gedung dan laboratorium itu akan lahir ilmuan-ilmuan Muslim yang memiliki kompetensi terstandar, berintegritas, hafal Al Qur’an dan memiliki jiwa nasionalisme yang kokoh. Saya sendiirpun sangat optimis full, bahwa bangsa ini memiliki masa depan yang cerah, jika kita bisa melahirkan generasi ulul albab dengan ciri-ciri khas di atas. Peradaban akan kembali jaya, yang dimulai dari peradaban UINSU mendunia.

Kebanggaan itu ternyata tidak hanya datang dari Rektor dan sivitas akademika UINSU. Melainkan juga dari orangtua mahasiswa. “Saya sebagai orang tua bangga melihat UINSU saat ini. Saya tidak keberatan dengan mengasramakan mahasiswa satu tahun. Justru saya beruntung, apalagi dibekali dengan skiil untuk mahir berbahasa Arab dan Inggris,” kata Zubaidah (54) orang tua mahasiswa asal Rantau Prapat itu kepada penulis belum lama ini.

Zubaidah justru terkesima melihat program UINSU, yang menurut dia ini merupakan lompatan luar biasa mengasramakan mahasiswa dalam bentuk ma’had. Kebanggaan itu saya katakan, karena saya merasakan saat kuliah dahulu di UINSU dulu IAINSU. “Saya kuliah naik sepeda, kemudian cari kos, dan membayar kos saja cukup mahal. Tapi, sekarang walau kita bayar Rp 600.000, tetapi untungnya banyak, ini yang saya suka dan bangga kepada pimpinan UINSU,” kata Zubaidah yang mengaku dulunya kuliah di Fakultas Tarbiyah tahun 1987.

Memang keuntungan yang diperoleh dari ma’had itu doble fungsi. Pertama, mahasiswa yang masuk asrama, membayar uang bulanan Rp 600.000,-/bulan. Uang itu diperuntukkan bagi kos mahasiswa Rp 300.000, dan Rp 300.000 selebihnya untuk belajar bahasa Arab, Inggris, dan tahfiz Alquran. Jika mahasiswa ingin makan di asrama, mahasiswa menambah Rp 600.000,-/bulan. Boleh juga makan sendiri. Singkatnya mahasiswa tidak terlalu dibebankan.

“Dengan jumlah Rp 600.000 itu, saya kira sudah terlalu murah, jika dibanding dengan biaya cost sendiri untuk mencari rumah kontrakan. Anak terjadi dari luar, anak kita juga mahir dalam bahasa. Pokoknya, doble fungsilah,” ungkap Zubaidah lagi.

Rektor UINSU sendiri pun tidak ambil pusing. Meski banyak yang mengkritik program brilian itu, tetapi program ini harus berjalan. Apa dasar hokum kegiatan ma’had itu? Menteri Agama RI Jenderal (Purn) Fachrur Razi membolehkan mahasiswa melalui model ma’had. Bahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) Prof Dr Kamaruddin Amien MA sudah mengeluarkan surat terkait pemberlakuan penyelenggaran pesantren kampus (Ma’had Al Jami’ah/University Student Housing) mulai Tahun Akademik 2020/2021. Ini justru mempertajam kemampuan mahasiswa baru dalam menguasai bahasa Arab dan Inggris, hafal Alqur’an dan berkarakter tangguh sekaligus menciptakan mahasiswa berstandar internasional.

BACA JUGA :  Pengurus IMM FIS UINSU Dilantik, Senior Titip Tiga Pesan Penting

“Tujuannya ma’had Al Jami’ah ini memperkuat tradisi akademik. Mahasiswa wajib menguasai dan mahir bahasa Arab dan Inggris. Tradisi akademik ini harus berjalan selama mahasiswa berada di ma’had Al Jami’ah, sehingga melahirkan mahasiwa berstandar  internasional,” kata Dirjen Pendis Prof Dr kamaruddin Amin MA dalam surat instruksinya kepada Rektor dan Ketua PTKIN se-Indonesia belum lama ini.

Menindaklanjuti kewajiban mengikuti pendidikan di Asrama bagi mahasiswa UINSU itu dituangkan melalui Surat Edaran (SE) Rektor UINSU Medan Nomor B.19/Un.11 R/B.13c/KS.02/05/2020 tentang Kewajiban Mengikuti Program Ma’had Al-Jami’ah Bagi Mahasiswa Semester I dan II UINSU Medan.

“Mulai Tahun Akademik 2020/2021, UINSU mulai melakukan terobosan baru dalam rangka meningkatkan kualitas dan kapasitas mahasiswa UINSU, khususnya bidang bahasa asing, pengembangan karakter, dan hafal Alqur’an agar memenuhi tradisi integrasi ilmu dengan agama (wahdatul ‘ulum),” kata Wakil Rektor I UINSU Medan Prof Dr Syafaruddin MPd.

Pengamat sosial yang juga Aktivis 98, Ikhyar Velayati Harahap sangat mendukung penuh pemberlakuan ma’had UINSU itu. Bagi Ikhyar, mahasiswa tidak perlu disibukkan dengan kegiatan lain. Mahasiswa cukup fokus saja belajar. Pertama, penguatan bahasa Arab dan Inggris baik pada dimensi pemahaman teks-teks ataupun dalam komunikasi sehari-hari. Intinya mahasiswa UINSU memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik sebagai keterampilan abad ke-21. Kedua, penguatan dalam bidang Tahfiz dan  Tahsin (Penghalusan bacaan Al-Qur’an).

Kemudian yang ketiga, pembangunan karakter unggul dan penguatan pemahaman Islam Washatiyyah, moderasi beragama dan nilai-nilai Kebangsaan dalam menjaga NKRI. Melalui tiga kekuataan ini, UINSU Medan menjadi pilar peradaban yang kuat bagi mahasiswa UINSU untuk mengembangkan SDM-nya di masa akan datang.

Rahmayani calon mahasiswa baru FITK UINSU mengaku tidak merasa keberatan dengan program ma’had yang dilakukan kampus. Bagi saya, asrama merupakan bagian diri saya, karena saya sebelumnya juga memang dari pondok pesantren dan memang sudah terbiasa di asrama. “Harapan saya, ketika saya masuk asrama, bahasa asing saya makin mahir, dan menjadi kebanggaan saya dan orang tua saya ketika sudah tamat dari UINSU. Itu saja,” kata Rahmayani.

Berbeda dengan Zulfan Efendi, ia merupakan calon mahasiswa UINSU asal Tapteng. Baginya, ini merupakan hal yang luar biasa baginya. Apalagi kata dia, ia tidak terbiasa dengan asrama mahasiswa. “Saya dulu tamatan dari SMU, jadi kalau masuk asrama seperti ma’had ini tidak ada, karenanya bagi saya menjadi kurang terbiasa. Tapi, ini harus saya jalani dengan baik untuk mengubah diri saya sekaligus meningkatkan SDM saya,” ujar Zulfan.

Walau belum terbiasa dengan kehidupan asrama nanti, ia terus berusaha menjadi mahasiswa yang mahir dalam bahasa nantinya. “Jujur saya katakan, saya tertarik masuk UINSU karena saya ingin mahir bahasa Arab dan Inggris, Tahfiz juga saya ingin,” katanya.

Tentu katanya, mengubah diri agar lebih mahir tidak segampang membalik telapak tangan. Ini butuh perjuangan, kerja keras dan niat yang kuat untuk ikut dan terlibat dalam model pembelajaran asrama. “Harapan saya, semoga saya mahir bahasa asing ketika sudah mendalami dua bahasa itu setelah tamat kuliah,” ujar Zulfan. **

** Dr Anang Anas Azhar MA adalah Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FIS UINSU Medan **

 

 

 

609 total views, 12 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *