LANGKAT – Mewujudkan Generasi Emas 2045 bukan hanya tentang mencetak anak-anak yang cerdas, tetapi juga memastikan mereka tumbuh sehat, mendapatkan pengasuhan yang baik, serta hidup dalam keluarga yang berkualitas.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang diselenggarakan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, Delia Pratiwi Br. Sitepu, S.H., di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (12/10/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan peserta ini berlangsung hangat dan interaktif. Hadir masyarakat setempat, aparatur desa, tokoh masyarakat, serta tokoh agama yang antusias mengikuti edukasi mengenai kesehatan keluarga, pencegahan stunting, dan berbagai program prioritas Kemendukbangga/BKKBN.
Delia Pratiwi: Keluarga Berkualitas Jadi Kunci Indonesia Emas
Dalam pemaparannya, Anggota Komisi IX DPR RI Delia Pratiwi Br. Sitepu menekankan pentingnya perencanaan keluarga sebagai fondasi untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Menurutnya, menuju Indonesia Emas 2045, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak harus menjadi prioritas bersama. Salah satu tantangan yang perlu terus diatasi adalah stunting, yakni gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan faktor lainnya.
Delia mengajak masyarakat memahami bahwa anak bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting. Karena itu, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala sangat penting dilakukan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan, mencegah anemia, memenuhi kebutuhan gizi, serta memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi apabila memungkinkan.
Tidak kalah penting, keterlibatan ayah dalam mendukung kesehatan dan kebahagiaan ibu serta pengasuhan anak menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang harmonis.
Selain membahas pencegahan stunting, Delia memberikan edukasi mengenai berbagai pilihan metode kontrasepsi, mulai dari pil KB, suntik, implan, IUD hingga kontrasepsi mantap. Edukasi ini diharapkan membantu pasangan usia subur menentukan pilihan kontrasepsi sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatannya.
“Kualitas keluarga menjadi hal yang sangat penting. Kita tentu ingin anak-anak tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” menjadi pesan utama yang disampaikan Delia kepada masyarakat.
Kemendukbangga/BKKBN Hadir Dampingi Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan
Sementara itu, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR, menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga membawa penguatan peran dalam pembangunan keluarga.
Menurutnya, kehadiran Kemendukbangga/BKKBN kini tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kontrasepsi, tetapi juga mencakup pendampingan keluarga sepanjang siklus kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, masa balita, remaja, dewasa hingga lanjut usia.
Rabiatun memperkenalkan sejumlah program prioritas, di antaranya Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B).
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah program GATI. Melalui dialog ringan, Rabiatun mengajak para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak, termasuk mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, serta membangun komunikasi yang dekat dengan anak.
Ia menegaskan bahwa kehadiran seorang ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga memberikan perhatian, kasih sayang, dan dukungan emosional bagi tumbuh kembang anak.
Dalam kesempatan tersebut, Rabiatun turut mengingatkan pentingnya pengawalan program MBG 3B agar manfaatnya benar-benar dirasakan kelompok sasaran. Penyuluh KB, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan berbagai pihak terkait diharapkan terus memperkuat koordinasi dalam mendukung penyaluran program.
Sementara melalui program SIDAYA, masyarakat lanjut usia didorong untuk tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Gotong Royong Cegah Stunting melalui GENTING.
Pada kesempatan yang sama, perwakilan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Langkat, Dr. H. Agus Salim, mengajak masyarakat memperkuat semangat gotong royong dalam upaya pencegahan stunting.
Salah satunya melalui program GENTING yang mendorong keterlibatan berbagai pihak sebagai Orang Tua Asuh untuk membantu keluarga berisiko stunting.
Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan dukungan masyarakat, pemerintah desa, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan.
Agus Salim juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin dan ibu hamil, termasuk pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) sebagai salah satu langkah deteksi dini risiko kekurangan energi kronis.
Perempuan dengan ukuran LiLA kurang dari 23,5 sentimeter perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut agar kondisi gizinya dapat diperbaiki sebelum maupun selama kehamilan.
Dari Sei Bingai, Bangun Keluarga Tangguh untuk Masa Depan
Sosialisasi berlangsung semakin menarik melalui sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta. Berbagai pertanyaan seputar stunting, kontrasepsi, pola asuh, keterlibatan ayah, hingga program bantuan gizi mendapat perhatian masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kemendukbangga/BKKBN bersama Komisi IX DPR RI berharap masyarakat semakin memahami bahwa pembangunan keluarga merupakan tanggung jawab bersama.
Keluarga yang sehat, terencana, harmonis, dan berkualitas menjadi fondasi penting dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Sei Bingai, semangat membangun keluarga berkualitas terus diperkuat. Karena masa depan bangsa dimulai dari keluarga, dan keluarga hebat menjadi kunci Indonesia kuat. (ABN/dan)






















