Dugaan Jual Beli Jabatan di UIN Sumut, Ada Jalur ‘Ibu’ dalam Jejak Digital

UIN Sumut
Foto ilustrasi

Asaberita.com, Medan – Dugaan adanya jual beli jabatan di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara (Sumut) semakin menarik untuk diulas. Satu persatu, data dan bukti yang mengindikasikan dugaan jual beli jabatan itu terjadi, terungkap.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan wartawan, diperoleh adanya jejak digital berupa percakapan via WhatsApp dari oknum-oknum tertentu terhadap sejumlah calon pejabat yang ikut dalam lelang jabatan di UIN Sumut.

Yang cukup mencengangkan dalam jejak digital itu dan screnshotnya berhasil diperoleh wartawan, ada oknum yang diketahui sebagai ‘orang rumah’ dari seorang dosen di UIN Sumut ikut terlibat dalam dugaan jual beli jabatan ini.

Dalam jejak digital itu, oknum yang diketahui berinisial PK, mengambil peran bisa mengatur penempatan pejabat dilingkungan UIN Sumut saat dilakukan lelang jabatan untuk posisi wakil dekan dan sejumlah posisi lainnya melalui jalur ‘Ibu’.

Berdasar keterangan sejumlah calon pejabat yang berhubungan dengan PK, disebutkan bahwa nama-nama calon yang telah ada diel dan menyetorkan sejumlah uang yang diminta sebagai pelicin, akan ‘dititipkan’ kepada ‘Ibu’.

‘Ibu’ lah nantinya yang akan ‘membisikkan’ pada penentu kebijakan di UIN Sumut untuk meloloskan nama-nama yang telah ‘dititipkan’.

‘Ibu’ yang dimaksud PK disini, menurut sumber yang pernah berhubungan dengan PK bukanlah orang sembarangan. Ia adalah ‘pendamping’ penentu kebijakan, dan PK mengaku telah mendapat restu dari ‘Ibu’ mencari calon untuk dititipkan.

Tak ayal, banyak calon pejabat yang mengikuti seleksi dan lelang jabatan tertarik pada jalur ‘Ibu’ dan berhubungan dengan PK agar mereka bisa lolos seleksi dan tentunya mereka harus menyetor uang dengan jumlah yang telah ditetapkan kepada PK, yang menurutnya akan diteruskan kepada penentu kebijakan melalui ‘Ibu’.

Dan PK tidak bekerja sendiri, ia hanyalah membantu suami, yang diketahui sebagai kerabat dekat sang penentu kebijakan di kampus itu. Entah kenapa, si suami masih melibatkan istri. Mungkin, agar lebih banyak calon yang didapat dan fulus pun semakin banyak masuk.

Tetapi, tidak semua calon yang sudah deal untuk ‘diurus’ PK melalui ‘Ibu’ berhasil lolos jadi pejabat. Meski PK mengaku telah menitipkan nama-nama mereka berikut setorannya sebagai pelicin kepada ‘Ibu’.

Dalam sebuah jejak digital yang terekam, PK menyebut, yang tidak lolos karena ada yang mengganjal, sebab ada juga oknum yang lain juga ‘bermain’. Ia juga mengaku belum dapat bertemu ‘Ibu’ untuk mendapatkan arahan dan penjelasannya.

BACA JUGA :  Gawat!! Ada Makelar Proyek di UIN Sumut, Terekam Minta Fee ke Kontraktor

Namun, apapun alasan PK, calon-calon yang gagal merasa kecewa dan meminta pengembalian uang yang telah disetorkan. Apalagi, setelah mereka mengetahui ternyata PK malah bisa pergi jalan-jalan dan shopping ke luar negeri. Itu diketahui karena PK mengirimkan foto selfi-nya kepada seseorang di depan Menara Kembar, negeri seberang, setelah ia banyak menarik uang.

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, hingga saat ini baru sebagian kecil dana yang telah ditarik PK dan suaminya dari calon-calon yang gagal kembali. Sementara jumlahnya disebut-sebut mencapai ratusan juta.

Belum lagi, sebelumnya juga ada oknum berinisial DH bekerjasama dengan SH, yang keduanya kerabat dekat rektor, disebut-sebut telah juga mengutip dana dari sejumlah peserta seleksi, yang jumlahnya mencapai 1,3 miliar lebih. Tetapi, orang-orang yang telah dikutip dananya ternyata juga banyak yang tidak lolos.

UIN Sumut
Foto ilustrasi

Sejumlah korban yang menyetorkan uang itupun mengaku merasa tertipu. Dan mereka berencana akan melaporkan DH, SH dan PK ke pihak berwajib jika tidak ada itikad baik mengembalikan uang mereka. Para korban itu pun menyatakan siap bersaksi untuk membongkar dugaan praktik jual beli jabatan yang terjadi di UIN Sumut.

Sebelumnya, juga terungkap adanya sebuah rekaman yang mengindikasikan praktik jual beli jabatan itu terjadi. Di rekaman itu, terdengar suara perempuan yang mengatakan ada yang akan memberikan uang, sehingga ia meminta agar posisi jabatan tertentu terlebih dahulu dibahas.

Dari rekaman itu, juga teridentikasi siapa pemilik suara dalam rekaman itu. Menurut si pemberi rekaman kepada wartawan, rekaman itu diambil saat terjadi sebuah pertemuan tertutup membicarakan tentang penempatan pejabat di lingkungan UIN Sumut.

Dari bukti rekaman dan jejak digital yang diperoleh wartawan, ditambah lagi adanya bukti transfer bank serta keterangan yang diperoleh dari beberapa pihak, indikasi adanya praktik jual beli jabatan sangat kuat. Namun untuk bisa membuktikannya, aparat penegak hukum memang yang harus turun untuk memeriksanya.

Untuk masalah ini, wartawan berusaha mengkonfirmasinya ke sejumlah pihak yang dianggap mengetahui dan terkait dalam lelang jabatan di UIN Sumut, termasuk menghubungi oknum-oknum yang diduga terlibat menarik dana dari sejumlah peserta lelang jabatan.

BACA JUGA :  Mahasiswa UINSU Demo, Minta Menag Usut Plagiasi Oknum Rektor

Konfirmasi dilakukan kepada PK dengan menghubungi telpon selularnya yang tertera dalam jejak digital, namun ternyata sudah tidak aktif. Nomor selularnya yang lain yang didapat saat dihubungi juga tidak aktif.

Sementara suami PK berinisial SH yang dikonfirmasi terlebih dahulu, menyebut kalau isu ini telah usang dan meminta wartawan untuk membuktikannya. Namun saat dicecar dengan sejumlah pertanyaan, ia langsung mematikan telpon dan memblokir nomor wartawan yang melakukan konfirmasi. Sedangkan DH, belum berhasil dihubungi sama sekali.

Konfirmasi juga dilakukan pada Dr Hasnah Nasution, Wakil Rektor II yang merupakan salah satu anggota panitia seleksi terkait sebuah rekaman yang diduga ada hubungannya dengan jual beli jabatan. Kepada wartawan ia langsung membantah jika ia terlibat dalam jual beli jabatan.

Hasnah juga menegaskan, ia pun memastikan tidak ada orang lain yang menjual namanya terkait jabatan ini. Menurutnya, jikapun ia terlibat dalam penempatan pejabat di UIN Sumut, itu karena ia salah satu panitia, sama juga dengan wakil-wakil rektor lainnya, dan ia pun mengaku tahu posisinya, bukanlah penentu kebijakan.

Kemudian, usaha untuk mendapatkan keterangan juga dilakukan dengan menghubungi Wakil Rektor III, Dr Nispul Khairi yang juga panitia seleksi. Namun, saat wartawan menyampaikan hal yang ingin di konfirmasi, ia menyebutkan sedang mencari berkas dan langsung menutup teleponnya.

Terakhir, konfirmasi juga dilakukan kepada Rektor UIN Sumut Prof Dr Syahrin Harahap. Karena saat di telpon tidak diangkat, wartawan mengirimkan sejumlah pertanyaan via WA, termasuk untuk mengkonfirmasi sebutan ‘Ibu’ yang ditemukan dalam jejak digital.

Wartawan juga mengirimkan sejumlah bukti screnshot percakapan WA untuk meminta tanggapan dan penjelasan dari rektor. Tetapi, meski saat itu posisinya sedang online dan pertanyaan yang disampaikan terlihat sudah dibaca, tetapi hingga berita ini diturunkan, tidak ada sedikitpun tanggapan ataupun keterangan yang diberikan oleh rektor.

2,895 total views, 9 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *