MEDAN – Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar Yudisium dan Sumpah Profesi Dokter Angkatan ke-46 yang diikuti 13 lulusan Program Studi Profesi Dokter, Sabtu (4/7), di Auditorium FKIK UMSU, Jalan Gedung Arca No.53, Medan.
Prosesi yudisium dan pengambilan sumpah dihadiri Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd., Wakil Rektor I Prof. Dr. Muhammad Arifin, M.Hum., Dekan FKIK UMSU dr. Siti Masliana Siregar, Sp.THT-KL., Subsp.Rino(K), jajaran wakil dekan, pimpinan program studi, pimpinan rumah sakit jejaring, para lulusan, serta orang tua.
Dalam sambutannya, Rektor UMSU Prof. Akrim menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk meraih cita-cita yang lebih besar. Ia mengingatkan para lulusan agar selalu menghargai proses panjang yang telah mereka lalui selama menempuh pendidikan.
“Hari ini merupakan titik awal untuk meraih impian yang lebih besar. Pengalaman yang telah dilalui jangan sampai dilupakan. Jadikan setiap proses sebagai bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen UMSU dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan, Prof. Akrim menyampaikan bahwa universitas kembali memberikan beasiswa pendidikan dokter spesialis bagi alumni.
“Tahun ini UMSU memberikan beasiswa sebesar Rp60 juta untuk pendidikan program spesialis bedah dan paru sebagai bentuk dukungan agar alumni terus meningkatkan kompetensinya,” katanya.
Prof. Akrim juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia kesehatan. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesi dokter.
“Tantangan ke depan cukup berat dengan hadirnya AI. Namun AI tidak akan pernah bisa menenangkan pasien. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter. Karena itu, manfaatkan teknologi secara bijak, terus tingkatkan kompetensi, dan jagalah nama baik UMSU serta Muhammadiyah di tengah persaingan global,” tegasnya.
Sementara itu, Dekan FKIK UMSU dr. Siti Masliana Siregar menegaskan bahwa gelar dokter bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Gelar ini bukan sekadar capaian intelektual, tetapi amanah dan tanggung jawab besar. Seluruh proses hingga mencapai tahap ini merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, dan perjuangan panjang,” ujarnya.
Ia juga mengajak para lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi agar dapat menjawab berbagai tantangan di bidang kesehatan.
“Jadilah dokter yang terus berkarya, mengembangkan diri, dan memiliki karakter yang kuat. Kita wajib menguasai teknologi terbaru agar mampu menjawab tantangan dunia kesehatan. FKIK UMSU siap berkontribusi dalam memajukan layanan kesehatan di Indonesia,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, lulusan terbaik Angkatan ke-46, dr. Alya Petri, menyampaikan rasa syukur serta terima kasih kepada seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan keluarga yang telah mendampingi perjuangan para lulusan.
“Alhamdulillah kita berada di titik ini. Semoga kebersamaan ini terus terjalin dalam profesi. Gelar dokter bukan sekadar untuk dibanggakan, tetapi merupakan amanah yang harus dijaga dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat,” tuturnya.
Melalui yudisium dan pengambilan sumpah profesi ini, sebanyak 13 dokter baru FKIK UMSU diharapkan mampu mengabdikan ilmu secara profesional, menjunjung tinggi etika kedokteran, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (ABN/dan)











