Membedah Visi Dan Visi Bobby – Aulia

Salahuddin Harahap (foto/msj)

Oleh : Salahuddin Harahap

DALAM khazanah teologi pembangunan, kemajuan suatu kota sejatinya dilihat dari dua indikator: Pertama, visi pembangunan fisiknya telah bergerak dari sekedar pemenuhan kebutuhan dasar menjadi lanjutan dan estetik (neighborhood development), Kedua, adanya visi penyelarasan antara kemajuan fisik dengan spiritualitas (horizontal-vertikal atau hablun minannas dengan hablun minallah). Atas dasar pola berpikir ini maka terdapat hubungan yang amat erat antar visi memajukan pembangunan fisik  dan kesejahteraan hidup masyarakat dengan visi penguatan spiritualitas kota tersebut.

Sebagian orang berpandangan, bahwa fisik dan spiritual bersifat hirarkis, sehingga memandang bahwa kemajuan fisik dan kesejahteraan harus terlebih dahulu digapai baru kemudian bergerak memajukan spiritualitas. Sebaliknya ada pula yang berpandangan spiritualitas harus terlebih dahulu dimantapkan barulah kemudian menoleh kepada pemajuan fisik dan kesejahteraan.

Tentu saja dua cara pandang ini memiliki titik lemah sebab didasarkan pada pemisahan antara dua dimensi fisik dan spiritual sehingga dapat disebut sebagai sekularisme pembangunan (secular development). Dua dimensi fisik dan spiritualitas sejatinya hadir bersamaan sebagai simbol dari adanya kehidupan di bumi (al-hayat). Dalam Teologi Islam dapat dipahami bahwa sejarah kehidupan di bumi baru dimulai sejak Adam As berdomisili di bumi sebagai makhluk yang mewakili integrasi antara fisik dan spiritual. Atas dasar itu pula Adam As telah secara simbolik menerima tugas ke khalifaan yang bermakna inisiator, penggerak dan pengendali pembangunan kehidupan di bumi.

Sejalan dengan itu, maka Kota Medan yang dikenal Religius mesti menjadikan keselarasan dua dimensi fisik dan spirotualitas tersebut sebagai syarat mutlak pencapaian kemajuan pembangunan. Dalam waktu dekat, masyarakat Kota Medan akan dihadapkan kepada suatu momentum yang amat penting dan strategis dalam menentukan perjalanan panjang Kota Medan menuju Kota Paripurna atau Kota Utama (meminjam isitilah Syeikh al-Farabi _ al-Madinah al-Fadhilah).

BACA JUGA :  Ismael SH Mengabdi Sepenuh Hati For Siantar

Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota sebagai pemegang tongkat komando penggerak pembangunan Kota Medan, mesti mendapat perhatian secara serius dari seluruh kalangan masyarakat Kota Medan sebab hal tersebut memiliki hubungan yang amat erat dengan pencapaian yang akan diperoleh pada pembangunan Kota Medan setidaknya untuk 5 tahun kedepan bahkan lebih jauh akan terpaut dengan keberlanjutan pembangunan di masa depan.

Tanpa berniat untuk ikut berkampanye, menurut saya ada satu hal yang pantas disyukuri oleh masyarakat Kota Medan saat menyongsong Pilkada tahun ini, yakni munculnya idiom-idiom yang mewakili pengintegrasian dimensi fisik dan spiritual pada visi dan misi Calon Walikota dan Wakil Walikota Medan Periode 2020-2025.

Pilihan idiom seperti  “Berkah”, “Bersih”, “Inovatif” yang secara bebas dapat dikolerasikan dengan idiom Teologis yakni (Berkah = al-Barokah), (Bersih = al-Quddus dan al-Thahur) dan (Inovatif = al-Fathir dan al-Bary), telah menjadi indikator bagi adanya semangat pengintegrasian dua dimensi fisik dan spiritualitas dalam membangun dan memajukan Kota Medan.

Tiga idiom ini dapat dilihat sebagai mewakili keresahan dan kesadaran kritis  atas beberapa hal yang menjadi problem utama Kota Medan yakni dekadensi keimanan dan moralitas, krisis budaya dan sopan santun, pelanggaran hukum (korupsi, narkoba manipulasi), ketertinggaln dan kemiskinan, kekumuhan, kelemahan inovasi dan kreatifitas.

BACA JUGA :  Penipuan Berkedok Online di Era Covid-19

Seterusnya menjadi gambaran akan komitmen dan cita-cita untuk membangkitkan modal fisik, modal sosial dan modal spiritual berupa komitmen membangun jaringan bisnis, keungan dan investasi. Membangun karakter building, moralitas dan keimanan masyarakat serta membangun kreatifitas, kemauan, kemampuan dan kepercayaan diri hingga kebangaan untuk berinovasi pada segala aspek pembangunan.

Jika calon Walikota dan Wakil Walikota Medan dapat konsisten akan aktualisasi dan lengawalan visi dan misi ini setelah terpilih, insya Allah Kota Medan akan kembali menemukan jalannya menuju lebih maju. Tagline “Berkah” yang menepis sekat-sekat stratifikasi sosial sebab ia dapat saja diperoleh dalam jabatan, posisi, status, profesi bahkan strata apa saja, menjadi kata kunci bagi lahirnya secerca harapan akan kemajuan Kota Medan lewat visi dan misi ini.

Sejatinya, visi dan misi seorang pemimpin atau calon pemimpin telah lahir dari hasil penelitian, pengkajian, perenungan, kesadaran kritis seterusnya menjadi cita-cita luhur yang akan diperjuangkannya dalam kehidupan atau dalam era kepemimpinannya. Karena itulah, maka mengukur kepantasan, kepatutan dan kecapakan seseorang untuk memimpin melalui visi dan misinya menjadi sangat beralasan dan logis. Meskipun, tidak jarang seorsng pemimpin hanya mampu mewujudkan dua pertiga, setengah, sepertiga atau bahkan hanya seper empat dari visi dan misinya.**

** Sekretaris Program Studi Pemikiran Politik Islam (PPI) S2 UIN Sumatera Utara Medan **

 

468 total views, 6 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *