TGB Ajak Masyarakat Sumut Menahan Diri tidak Mudik pada Lebaran 1441 H

Mudik Lebaran
Tuan Guru Batak (TGB) Syekh H Dr Ahmad Sabban El-Rahmaniy Rajagukguk

Asaberita.com – Medan – Tokoh agama yang juga tokoh sufi Sumut, Tuan Guru Batak (TGB) Syekh H Dr Ahmad Sabban El-Rahmaniy Rajagukguk, mengajak masyarakat Sumut yang tinggal di perantauan agar tidak mudik pada lebaran Idul Fitri 1441 H ini untuk memutus rantai penyebaran pandemi virus corona.

“Saat ini, penyebaran virus corona di Indonesia semakin meluas. Jumlah tertular pun terus bertambah. Sebagian besar provinsi di Indonesia telah melaporkan adanya kasus positif Covid-19,” kata TGB di Medan, Jumat (3/4/2020).

Dikatakannya, penyebaran virus ini sangat cepat dan ganas. Di Indonesia virus ini telah membunuh seratusan orang dan puluhan ribu orang di dunia dalam waktu singkat.

“Artinya, kita tidak dapat menganggap remeh virus ini. Seluruh dunia termasuk Indonesia masih berjuang untuk membasmi virus yang belum ditemukan obatnya ini,” ujar TGB.

Pemerintah Indonesia, jelas TGB, meski tidak memberlakukan karantina wilayah, tetapi telah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran virus ini.

“Karenanya, kita harus mendukung kebijakan pemerintah ini dengan tetap tinggal di rumah, menghindari kerumunan dan keramaian serta untuk tidak mudik di musim lebaran kali ini,” sebutnya.

Himbauan untuk tidak mudik ini, kata TGB, untuk mengurangi resiko menularkan virus yang mematikan ini pada orang tua, keluarga maupun tetangga kita di kampung halaman yang mungkin kita bawa dari daerah perantauan.

“Kita melihat berdasarkan laporan yang ada, angka paling tinggi kasus positif corona di Indonesia ada di DKI Jakarta, kemudian Jawa Barat.

BACA JUGA :  Langgar Larangan Mudik, Denda Rp100 Juta dan Setahun Penjara

Sementara di Sumut sendiri, berdasar data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumut, pada Kamis (2/4/2020), 30 orang dinyatakan positif corona, 88 orang pasien dalam pengawasan (PDP) dan 2.970 orang dalam pengawasan (ODP). Dan menjelang musim mudik, hal ini jadi kekhawatiran,” sebutnya.

Sebab, bukan tak mungkin virus tersebut akan semakin tersebar ke sejumlah wilayah akibat perantau di daerah terinpeksi yang mudik ke kampung halamannya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), ujar TGB, juga telah mengeluarkan fatwa terkait hal ini yakni Fatwa nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam situasi terjadi wabah COVID-19. Di mana MUI mengharamkan perantau dari daerah terinfeksi untuk mudik ke kampung halamannya karena di khawatirkan akan menularkan virus ke keluarganya di kampung.

“Keluar dari daerah yang terkena wabah atau pun memasuki daerah yang terkena wabah dilarang dalam agama, karena dapat mencelakakan diri sendiri serta orang lain. Demikian juga kalau kita pindah dari negeri yang ada wabah ke negeri yang tidak ada wabah, tidak boleh juga, karena mencelakakan orang, dan hukumnya haram,” jelas TGB.

Hal itu, jelas TGB, juga tertuang dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari:

Dari Nabi saw sesungguhnya beliau bersabda: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari)

BACA JUGA :  FKDMB : Deklarasi KAMI Jangan Jadi Sampah Demokrasi

Sesungguhnya Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR. Al-Bukhari).

“Hadis ini juga menjadi dasar fatwa MUI melarang bahkan mengharamkan orang dari daerah terinfeksi pindah ke daerah tak terinfeksi ataupun mudik ke kampung halaman. Karena dapat menularkan virus dan mencelakakan orang lain,” ujarnya.

Lebaran tanpa mudik di musim corona seperti sekarang ini, kata TGB, bukanlah berarti kita akan memutus silaturrahim dengan keluarga dan handai taulan di kampung. Tetapi menjauhkan mudhorat bagi diri sendiri dan orang banyak itu lebih utama dalam Islam ketimbang manfaat mudik.

“Saat ini zaman juga sudah modern. Meski kita tidak mudik, silaturrahim masih tetap bisa dijalin melalui alat komunikasi. Kita bisa melakukan video call dengan keluarga, sehingga tetap dapat bertatap muka dan bersilaturrahim,” tutupnya. (has)

522 total views, 1 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *