Horor Kudatuli di Medan (3)

Peristiwa 27 Juli
Foto ilustrasi : Bentrok massa Vs PHH

Oleh M Ikhyar Velayati Harahap

Satu hari, Wigi datang ke kampus ku di jalan Sutomo Medan. Saat itu aku sàma Udin Rantau sedang kuliah di kelas, aku lupa mata kuliah apa dan memang tak penting juga diingat, saat itu kami juga sedang tak fokus. Pikiran mengawang keluar, ditambah lagi si Wigi sudah melambaikan tangan di depan pintu sambil kasih kode untuk segera keluar kelas. Udin pun kulihat sudah melirik ke arah pintu dan kasih kode ke aku untuk jumpai si Wigi.

“Permisi pak, saya ijin ke kamar kecil”, aku ijin ke Dosen yang berdiri di depan kelas. Mungkin dia heran juga kuliah baru mulai 5 menit kok udah buang air kecil pula kawan ini.

Segera kujumpai Wigi dan kutarik dia duduk di bawah pohon akasia rimbun yang ada di depan lokalku.

“Pakcik ini kacau kali pun, kan ku bilang datangnya jam 10 pagi, abis awak kuliah. kok cepat kali datangnya”, aku merepet di depan Wigi.

nst

“Alah banyak kali cerita uwak, gak usah awak datang pun pakcik pasti punya rencana mau keluar juga”, kata Wigi sambil ketawa. Memang betul apa dibilang si Wigi, awak memang tak konsen kuliah, lebih bahagia cakap-cakap di kantin atau di bawah pohon.

“Gini per, aku tadi malam dapat telpon dari Jakarta. Situasi politik nasional memanas. Sentimen anti Soeharto sudah meluas, aksi aksi sudah mulai marak”, Wigi menjelaskan dengan antusias mirip pengamat politik papan atas. Aku jadi lupa tadi permisi sebentar dari ruang kelas, gara gara cerita si Wigi ini, jadi semangat awak, tambah tak fokus kuliah. “Trus kek mana ceritanya? lanjutlah wak”, ujarku penuh keinginan menyimak.

Melihat aku penasaran, Wigi pun jadi semangat dan melanjutkan ceritanya “Saat ini kawan kawan pro demokrasi di Jakarta sedang bikin koalisi dengan PDI Pro Mega dan sudah meluas ke berbagai daerah khususnya di Jawa.”

“Berarti kita harus bangun dan perluas front dengan PDI Pro Mega di Medan kalau gitu cuy,” aku langsung potong cakap si Wigi sebelum dia selesai menjelaskan.

“Betul, tumben kau cerdas wak”, balas wigi seperti mengejek aku.

“Kimbek kau lah, kalau tidak cerdas mana mau pakcik bekawan sama aku, buktinya awak terus yang uwak tempel dan tempat diskusimu,” kataku sambil senyam senyum.

“Kalau gitu per, kontak kawan kawan yang lain lah, sore ini kita diskùsikan stratak nya, di rumah kos Udin yang di Amplas aja kita rapatkan, sore jam empat ya per, aku cabut dulu wak mau ke USU jumpa Sahat, oh ya ada situ per,” pinta Wigi dengan sedikit memelas.

Aku tersenyum melihatnya. “Ente ini sikit sikit ada situ, sikit sikit ada situ. Kalau untuk senior apa yang tak ada, semua isi dompet awak ini siap diserahkan untuk bung,” kataku sambil merogoh kantong yang isinya cuma 10 ribu. “Ini aja dulu, kalau dikasih banyak pun nanti habis, tak baik boros dalam situasi gini,” ujarku sambil menggoda si Wigi.

Kimbek kaulah per, ngasih 10 ribu ajapun banyak kali cerita uwak,” katanya sambil jalan keluar kampus.

Setelah Wigi pigi, akupun masuk kembali ke kelas. Makin tak fokus kuliah, berharap segera bubar ini kuliah, pikiranku masih penuh dengan obrolan tadi. Setelah kuliah bubar aku ceritakan imfòrmasi dari Wigi ke Udin.

Kalau gitu bagi kerja kita wak, aku kontak Kamal, uwak kontak Acun dan Aswan untuk rapat sore nanti, kata Udin.

Rapat sudah selesai. Masing masing kawan ditugaskan untuk membentuk core group di basis mahasiswa dan buruh. Dalam setiap aksi mahasiswa dan buruh, sedapat mungkin masukkan isu Cabut 5 Paket UU serta Cabut Dwi Fungsi ABRI, pikirku. “Bahkan orang jatuh ke parit pun itu kita bilang gara gara Dwi Fungsi Abri,” Candaku ke kawan kawan.

Masing2 kawan juga bekerja di kalangan massa PDI Pro Mega. Aku, Acun, Wigi, Aswan, Kamal, Imran, Udin, Hasan, semua kawan masuk di basis-basis PDI di dekat-dekat tempat tinggal kawan-kawan ini.

“Satu lagi tugas tambahannya kita semua harus masuk dan punya KTA PDIP Pro Mega di kecamatan agar bisa masuk dan ikut dalam rapat rapat PDI Pro Mega”, kata Wigi menambahkan.

Oh iya, mungkin ada yang bingung nih apa maksudnya Core Group, karena beberapa kali ku singgung di atas. Core Group itu intinya kelompok tertutup yang ada dalam satu basis pengorganisiran, isinya paling banyak empat orang, jika ada perekrutan baru, maka core harus di pecah lagi, karena prinsipnya tidak boleh lebih dari 4 orang, biar aman dan rahasia bisa terjaga. Kira kira begitulah penjelasan sederhananya. Maklum saat itu rezim Orba sangat represif, punya mata dan telinga di mana mana, seramlah pokoknya.

Makanya, orang-orang PDI Pro Mega ini mulai kenal dengan aksi, demo, dll. Kekecewaan mereka, ketidakpuasan mereka terlampiaskan dengan aksi-aksi, tak cuma tersimpan di dalam hati mereka.

“Din, semalam aku rapat dengan tokoh tokoh PDIP Pro Mega di Restauran Tito jalan Medan-Binjai, kesepakatannya kita akan ada aksi bersama besok, isunya tolak campur tangan Soeharto terhadap PDI, kita diminta sumbang massa 25 orang wak”, ku bilang ke Udin.

“Gampang itu wak, nanti kita mobilisasi mahasiswa UISU dan beberapa kawan dari IAIN,” kata Udin Rantau saat itu.

Keesokan sorenya, setelah aksi tersebut dua orang kawan tertangkap, Ahmad Yasin dan Zaharudin mahasiswa UISU yang baru bergabung dengan kami dan sebahagian lagi lolos dari penangkapan.

“Sial kali aku, baru aksi sekali udah di tangkap polisi, dua jam juga aku di tanya dan di bentak bentak. Untung aku dilepaskan. Jera aku ikut aksi lagi pakcik, nanti kalau tahu orang tuaku gmn ini”, kata si Zahar sedih dengan logat Mandailingnya.

Kami justru ketawa dengar rintihan si Zahar ini. Beda dengan si Amat, dia justru bangga di tangkap. “Berarti sudah lulus sebagai aktivis aku ya bang”, candanya.

Sejak gerakan pro demokrasi intervensi PDI Pro Mega dalam rapat dan aksi aksi, kuantitas dan kualitas aksi semakin maju. Tuntutan tidak lagi berkutat di seputar masalah legalitas konggres, tetapi lambat laun bergerak maju menggugat legalitas Rezim Orde Baru. Hal ini bukan hanya terjadi di Jakarta, tetapi hampir di seluruh daerah. Dualisme PDI menjadi isu bersama kekuatan demokratik dalam bentuk front maupun aksi aksi.

Bergerak lah semua kawan di Medan. Aku dan Wigi koordinasi dan aktif mengikuti rapat, diskusi dan aksi bersama tokoh senior PDI Pro Mega, ormas Gerakan rakyat Marhaen (GRM) , aktifis GMNI dan lainnya. Kami biasanya ketemu di kantor GRM Jalan Kejaksaan sekaligus rumah sesepuh PDI Pro Mega Syamsul Hilal. Usianya sudah di atas 50 an saat itu, rambut gondrong yang sudah memutih dihiasi peci sebagai ciri khasnya. Pakar Marhaenisme serta punya wawasan yang luas. Jika dia sudah orasi, suaranya menggelegar dan membuat semua orang terpukau. Dia orator ulung dengan narasi narasi Soekarno yang kental. Dia guru sekaligus sahabat bagi aktifis Medan, orangnya anti feodal dan sangat egaliter.

“Panggil Bung aja yar, jangan bapak. Aktivis itu harus egaliter dan jangan feodal”, katanya. Sejak saat itu aku dan kawan kawan selalu memanggil beliau dengan sapaan Bung Syamsul Hilal. Walau sesekali masih tetap tersapa Pak Syamsul Hilal. Maklumlah awak ini kan anak IAIN, mantan Santri pula, jadi kadang suka grogi manggil nama orang yang lebih tua, sepuh pùla.

Bung Syamsul Hilal inilah orang yang memperkenalkan kami dengan elit PDI Pro Mega di Medan. Sesekali kami dibawanya rapat di basis, termasuk dì Rumah Makan Tito Jalan Binjai.

Selain aksi front dengan PDI Pro Mega, kami (SMID) juģa terlibat dalam aksi HKBP mendukung SAE Nababan di DPRD Sumut dan beberapa aksi sektoral lainnya.

“Per, PRD sudah deklarasi kemarin di Jakarta tanggal 22 Juli di LBH, menurutku sudah bisa juga kita deklarasikan di Medan”, usul Wigi membuka percakapan saat kami berada di kantin Bang Daud di depan IAIN Sutomo. Kami sudah mendengar berita itu.

BACA JUGA :  Langgar Perda KTR, 18 Warga Jalani Sidang Lapangan

“Aku seh ok aja pakcik. Lagi pula basis kita sudah membesar, baik di kampus maupun di buruh, udah cocok lah itu, kalau bisa jangan lama lama pakcik,” ujarku antusias mendukung usul si Wigi.

“Kalau gitu kontaklah kawan kawan itu biar kita rapàtkan persiapan deklarasinya, di rumahmu aja kita rapatkan ya pakcik,” Wigi memandang minta persetujuan. “Ok gak masalah pakcik,” jawabku. Akupun pigi ke kampus Pancing Fakultas Ushuludin untuk menjumpai Aswan dan Kamal dan Acun di Fakultas Dakwah. Fakultas Ushuludin dan Fakuktas Dakwah tempat mereka kuliah berada di Jalan Pancing, hanya Fakultas Syari’ah yang masih berada di kampus lama jalan Sutomo.

Setelah jumpa kawan-kawan ini di kampus, kusampaikan usulan Wigi ke mereka.

“Pakcik, Wigi usul kita segera mengikuti Jakarta untuk deklarasi PRD beserta sayapnya, agar organisasi dan program bisa lebih fokus, selain itu biar segera ada corong politik kita di tingkat atas”, Aku mencoba menjelaskan ke Kamal, Acun, Aswan dan Imran saat itu. “Mantap itu,” aku sepakat, sambut Kamal yang juga didukung Acun dan Aswan.

Tepat hari Kamis tanggal 25 Juli 1996, bertepatan dengan Rabiul Awwal 1417 (Hijriyah) bertempat di Kantor DPRD Sumatera Utara dengan jumlah massa sekitar 50 orang dan peralatan aksi seadanya, disaksikan beberapa kawan kawan wartawan, Acun membacakan pernyataan sikap Deklarasi PRD Sumut, sekaligus memperkenalkan ketua sayap organisasinya, dimulai dari Asrul Anwar alias Acun sebagai ketua PRD, Muhammad Ikhyar (aku) sebagai ketua PPBI, Kamaludin Pane sebagai Ketua SMID dan Aswan Jaya Sebagai Sekretarisnya dan Ketua Departemen Pengembangan Organisasi SMID Syarifuddin Hsb alias Udin Rantau serta terakhir Hasan Basri sebagai ketua Serikat Tani Nasional (STN) Sumut.

Ada rasa haru sekaligus lega di dada ini, ketika bendera PRD berkibar di sekitar kantor DPRD saat itu, tetapi di saat yang sama juga muncul perasaan takut disertai jantung berdebar melihat sorot mata para intel di sekitar lokasi kami aksi, karena jumlah mereka dengan kami sama banyaknya.

Rusuh di Jakarta

“Mang, kemari dulu, lihat dulu di TV, Jakarta sedang rusuh itu. Amang atau Mang adalah panggilan orang tua suku batak terhadap anaknya. Ayah memanggilku yang sedang tiduran di kamar untuk segera keluar dan menonton berita yang lagi hangat di TV. Aku pun segera keluar kamar menuju ruang TV.

Saat itu di televisi sedang menyiarkan berita kerusuhan di kantor PDI Pro Mega. Saling lempar batu, tidak lama kemudian massa mulai bergerak membakar kantor kantor, bank dan lainnya. Kemudian terjadi kerusuhan di sekitar kawasan Jalan Diponegoro, Salemba, Kramat Jati dan lainnya. Beberapa kenderaan dan gedung ikut terbakar.

Saat menonton berita tersebut, aku justru tidak punya firasat bahwa kejadian tersebut akan berdampak ke kami. Bahkan aku sempat menjelaskan latar belakang kejadian tersebut ke Ayahku, tentunya aku pasti nyalahin Soeharto donk hihi. Hingga dua hari berselang tanggal 29 Juli 1996, Menko Polkam Soesilo Soedarman mengumumkan PRD dan organisasi sayapnya di tuding menunggangi peristiwa berdarah tersebut.

Walaupun begitu aku belum panik dan masih biasa saja, hingga saatnya datang Wigi ke rumahku seminggu setelah kejadian 27 Juli 1996.

“Per, bawa semua bajumu, menurut imformasi dari kawan Jakarta semua kader pimpinan PRD di seluruh daerah akan di tangkap ģara gara peristiwa Kudatuli kemarin,” perintah Wigi jelas dan tegas, mirip perintah komandan koramil di kampungku.

Mendengar perintah Wigi yang serius di sertai mimik wajah yang sedikit pucat, aku menjadi panik dan takut juga jadinya, hilang juga darah anak Medan itu, “Ok pakcik, terus kawan kawan yang lain apa udah di beritahu”, ku tanya Wigi.

“Acun dan Aswan sudah, kita ke Amplas sekalian bilang sama Kamal, Udin dan yang lain. Kita kumpul di sana nanti membicarakan strategi selanjutnya serta sosialisasi ke kawan kawan agar hati hati dan jangan dulu tidur di rumah,” jelas Wigi.

Segera kusiapkan pakaian seperlunya dan permisi ke orang tua mau keluar kota. Ortu seh awalnya biasa saja, karena sejak mulai ikut gerakan aku terbiasa tidak pulang berhari hari dengan alasan bermacam macam. Dan kebetulan rumahku sering di jadikan tempat rapat, diskusi bahkan membahas persiapan aksi. Orang tuaku biasanya senang sekali, karena dia pikir kami diskusi tentang pelajaran di kampus. Biasanya ortu (khususnya mamakku) akan membuat gorengan seadanya untuk cemilan kami. Alfatiha buat mamak, maafkan awak yang sudah banyak nyusahin mamak dan juga Ayah. Mudahan Allah menempatkan mamak dan ayah di sebaik baik tempat, Amin Ya Allah.

Sebelum pigi, kupanggil si Amat yang kebetulan melihatku terburu buru mau pergi. Masih ingat Amat kan? Amat itu sebenarnya tetangga sekaligus familiku. Aku manggil orang tuanya laki laki Uda dan mamaknya Nanguda. Dia semarga denganku, Harahap. Rumahku gempet dengan rumahnya. Dia di bawahku 4 tahun, dan sangat mengidolakanku, geer sikit gak papa lah wak. Amat ini anak UISU yang sempat tertangkap waktu aksi PDI Pro Mega bersama Zahar yang telah kuceritakan sebelumnya.

Orangnya ganteng, putih, setia kawan, loyal dan dermawan. Dia sering bantu beras, minyak makan, telur hingga duit ke Sekre kami di Amplas maupun di jalan Veteran, baik sebelum peristiwa 27 Juli maupun setelahnya. Aku sebenarnya tahu dari mana dia dapatkan semua itu, tentunya dia ambil dari kedai ortunya yang luput dari penjagaan nanguda (mamaknya) hihi. Alfatiha buat Nanguda dan Uda, semoga Allah membalas kebaikan Uda dan Nanguda serta di tempatkan di surga Jannatun Nai’m, Amin Ya Allah.

“Mat, abang mau sporing nih ama Wigi, tolong lihat lihat uwak ya. Kalau ada yang datang intel atau siapapun beritahu abang, nanti abang telpon lewat rumahmu aja”, pesanku ke si Amat.

“Ok bang, hati hati ya bang”, jawab si Amat sambil melihat kami pigi berdua sama Wigi ke jalan Permai menuju jalan Rakyat untuk menyetop Sudaco. Dari rumahku ke markas Amplas dua kali nyambung naik Sudaco.

Si Amat inilah kemudian ku tugaskan jadi kurir untuk mengetahui perkembangan keluarga dan situasi di kampungku. Setelah peristiwa horor 27 Juli, biasanya aku telp ke rumahnya dan kami janjian di suatu tempat. Tentunya dia sudah siapkan logistik, beras, telur, minyak, rokok dan duit secukupmya. Thanks berat adinda Ahmad Yasin atas bantuannya yang tumpah ruah.

Setelah semuanya kumpul di Amplas (Aku, Wigi, Acun, Kamal, Aswan, Udin dan beberapa kawan lagi) kami pun diskusi dan saling share situasi Jakarta.

“Kawan kawan Jakarta tidak ada yg bisa di hubungi, gmn nih,” tanya Wigi mulai tampak panik, walaupun terlihat sok tenang yang dipaksakan. Jaim dong, masa aktifis senior kelihatan panik, kan malu lah wak.

“Untuk sementara kita berondok dulu di tempat yang aman, kos Udin ini kurasa sudah tahu intel,” kubilang sama kawan kawan.

“Aku sepakat dengan Cesper, kita ke rumah Dedi aja sementara, rumahnya belum teridentifikasi,” sahut Udin mendukungku. Dedi adalah teman sekelasku dan Udin di Fakultas Syari’ah. Dia anggota SMID tetapi tidak terlalu aktif. Aksi dan diskusi dia sering juga ikut. Rumahnya di pinggiran kota Medan sekitar 1 km dari rumah kos Udin atau markas kami di Amplas.

“Kan gak mungkin kita lari trus, apa yang bisa kita lakukan dalam situasi seperti ini,” kubilang ke kawan kawan.

“Yang paling mungkin ya tiarap dulu, tapi kita tetap kordinasi dengan kawan-kawan lain, kayak KSMM , Forsolima, minimal share informasi lah”, balas Wigi.

“Ok, gini aja. Kita semua berondok dulu di rumah Dedi sampai betul betul aman, sementara Wigi kordinasi dengan kawan gerakan lain. Kalau bisa buat rapat kordinasi dengan mereka untuk menyikapi kondisi saat ini,” usulku. Usulku ini di setujui kawan kawan, kami pun mulai bergerak ke rumah Dedi secara bertahap agar tidak mencurigakan.

Hingga datang hari yang bersejarah bagi keluargaku. Ayahku yang seorang Ustaz (Kyai), alumni pesantren dan lulusan IAIN, kepala sekolah Madrasah Aliyah, seorang ulama yang sering mengisi ceramah di berbagai kampung di Kota Medan terkejut ketika rumahku sudah di kepung puluhan aparat berpakaian preman.

BACA JUGA :  Pancasila Dan Ekonomi Gotong-Royong

Kedua ujung Gang rumahku sudah di jaga oleh sekitar 7 hingga 10 mobil dan puluhan aparat, sehingga jika aku saat itu berada di rumah tidak akan bisa lari kemana mana. Sementara sebahagian lagi aparat berjalan ke arah rumahku dan langsung masuk rumah di sertai kepling (kepala lingkungan).

Ayahku pasrah dan ibuku pingsan seketika, tetangga hanya berani mengintip dan tak berani keluar rumah. Setelah permisi dengan ayahku mereka mulai menggeledah seluruh kamarku dan mendapatkan beberapa majalah, selebaran serta ikat kepala dan spanduk bekas aksi sebelumnya yang lupa ku pindahkan saat pigi dari rumah sama Wigi.

“Rumah abang tadi malam di grebek intel, banyak kali orang itu datang. Ada 10 orang masuk rumah abang. Uwak perempuan pingsan bang,” kata si Amat satu hari pasca aku pergi dari rumah. Gemetar juga saat itu, terutama mendengar ibuku pingsan.

“Kok tahu kau mat, kau di situ rupanya waktu penggerebekan?” ku tanya kembali si Amat karena penasaran. “Trus gmn kabar uwak sekarang Mat?” Muncul kekhawatiranku terhadap kondisi mamakku.

“Saat ini uwak udah siuman tetapi masih sering nangis2 ingat abang. Kalau uwak laki laki terlihat tegar bang,” jawab si Amat.

“Banyak kali yang datang bang, selain di rumah, mereka juga mengepung gang rumah kita. Ada 5 mobil di ujung gang yang di jalan Permai, dan 4 mobil jeef di ujung gang Jalan Pasar Dua, jumlahnya puluhan bang, pakai senjata laras panjang dan sebahagian pistol. Mereka pakai pakaian preman. Geger kampung kita bang, abang jadi buah bibir, mereka gak nyangka abang seperti itu, tapi banyak juga yang dukung abanģ,” kata si Amat panjang lebar di telp.

Selain cerita yang menegangkan, dia sempat sempatnya cerita lucu tentang kejadian tersebut yang buat awak tersenyum dan hilang sedikit stres.

“Ada kejadian lucu bang, saat penggerebekan di rumah abang, preman preman itu yang biasanya maen judi dan minum tuak di pakter (warung tuak) di sekitar rumah kita, saat melihat puluhan aparat pakaian preman keluar dari mobil menenteng señjata laras panjang dan pistol, mereka langsung berhamburan menyelamatkan diri dan seketika kampung kita sepi bang,” ujarnya sambil terbahak bahak cerita.

Peristiwa di rumahku itu kuceritakan ke kawan kawan saat kami sudah kumpul di rumah Dedi untuk evakuasi sementara, ternyata rumah Acun di Binjai, rumah Aswan di Gang Subur dekat Pinang Baris, juga mendapat perlakukan yang sama denganku. Puluhan aparat berpakaian preman dengan senjata lengkap juga menyatroni rumah mereka, untungnya satu hari sebelumnya mereka sudah cabut dari rumah itu, salut buat Bung Wigi yang punya insting intelijen tingkat Dewa.

“Aku juga baru dapat kabar dari keluargaku, rumah di grebek puluhan intel tadi malam, persis sama waktunya dengan di rumah Cesper,” kata Aswan.

Ketika kutanya Acun, dengan berkata lirih dan sedih dia berkata,” Sama per, rumahku juga digerebek, beberapa buku serta komputerku di sita oleh mereka.”

Sementara Kamal dan Udin saling berpandangan dengan mata khawatir. Kebetulan Kamal dan Udin rumahnya di pedalaman Labuhan Batu, mereka kesulitan untuk mengakses imformasi dari kampung. Tetapi beberapa hari kemudian rumah mereka juga didatangi oleh koramil setempat. Termasuk rumah Imran Simanjuntak di Siantar. Imran Simanjuntak memang tidak sempat kami kordinasikan untuk evakuasi, dua minggu setelahnya kami mendengar kabar dia mengambil inisiatip lari ke Jakarta dan Batam.

Di saat situasi tegang mendengar informasi dari Aswan dan Acun, Wigi bilang ke kami, “Cuy, besok kita rapat kordinasi dengan kawan KSMM ya, kita bahas sitnas dan langkah apa yang bisa kita buat di saat semua elemen tiarap saat ini”, kata Wigi.

“Ok, jam berapa dan dimana bung?” Tanyaku ke Wigi. “Sore janjinya. Rencananya yang datang Sahat, Maulana dan Gulo,” ujar Wigi.

Esoknya kami kembali kumpul di rumah kos Udin di Amplas. Aku, Wigi, Kamal, Udin, Acun dan Aswan sudah stand by nunggu kawan kawan KSMM.

Kira kira jam 5 sore, Sahat, Maulana dan Gulo datang berbarengan. Sambil duduk di teras depan rumah kos Udin kami pun mulai diskusi dan sharing informasi.

Sebelum 27 Juli 1996 kami memang sering ‘kumpul’ dengan kawan-kawan ini. Kumpul yang paling intens ya saat-saat pembentukan KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu) Sumut. Kami sama lah pikir KIPP ini bukan cuma untuk pantau Pemilu 1997 nanti, tapi juga untuk picu gerakan yang lebih massive. Cocok lah awak waktu kami sepakat untuk naikkan Mulana Samosir dan Acun ke panggung politik KIPP.

“Situasi gerakan saat ini lumpuh total, semua elemen tiarap dan sebahagian besar senior senior NGO melarikan diri, bahkan ada yang keluar negeri”, kata Sahat memulai diskusi.

Menurutku, kita harus tetap menjaga keselamatan masing masing, tetapi harus ada propaganda tandingan untuk mengkounter kampanye Rezim Soeharto tentang perisriwa 27 Juli tersebut,” aku mencoba memberikan masukan ke kawan kawan, biar kelihatan berani cuy.

Wigi langsung menimpali usulanku, “Iya, benar Cesper, tapi yg bisa kita lakukan saat ini hanya menyebarkan selebaran gelap di tempat berkumpulnya masyarakat, di Masjid atau pajak (pasar) misalnya,” usul Wigi dengan sok berani.

Akhirnya disepakati, bentuk perlawanan yg mungkin saat ini dilakukan adalah selebaran gelap yg di distribusikan di tempat keramaian tetapi tetap aman dan tidak mudah terbaca aparat keamanan.

Dua hari setelah itu, Udin pun mulai ngetik isi selebaran dan menggandakannya di photo copy. Aku mendapat tugas menyebarkan di sekitar kawasan kampus Jalan Pancing, Kamal dan Udin di sekitar kampus UISU. Sèmentara Acun dan Aswan tetap stand by di sekre Amplas sebagai central informasi. Esok harinya memang heboh di media (koran) dan warga sekitar, karena ada selebaran “Gulingkan Soeharto”. Kehebohan ini bahkan sempat mengundang MUI Sumut dan Rektor IAIN berkomentar mengecam isi selebaran itu. Entah, mungkin karena selebaran itu juga ditemukan di tempat-tempat ibadah.

Heboh juga isu bom di sebuah bank. Berita di koran bilang ada telpon gelap di sebuah bank sehingga para pegawai langsung berhamburan keluar, sementara aparat langsung menyisir lokasi dan mèlakukan evakuasi. Ternyata isu bom itu hanya hoax, ketawa juga aku bacanya di koran. Yang jelas bukan kami pelakunya ya wak. Meskipun sempat juga terlontar canda iseng itu dari kawan-kawan saat rapat di Amplas. Entah dari Sahat, Wigi, Mulana, atau aku, awak lupa.

Semakin hari suasana semakin mencekam. Para pejabat militer, Polda, Gubernur, Ketua Ormas, para Rektor saling berlomba mengutuk PRD dalam peristiwa Kudatuli tersebut. Tidak ada yang berani bersuara membela kami, tapi kami tidak terkejut dan dapat memaklumi.

Aktivitas kami saat itu, mulai pagi hingga sore hari kami di rumah kos Udin untuk diskusi dan kordinasi dengan kawan kawan Prodem lain, khususnya dengan Bang Alamsyah Hamdani, Direktur LBH Medan saat itu, untuk mendapat perkembangan dan informasi terkini, jika malam kami kembali ke rumah Dedi untuk istirahat. Kenapa tidàk rapat dan diskusi di rumah Dedi, tentunya untuk menjaga keamanan serta menghindarkan kecurigaan mamaknya atau warga setempat.

“Tumben rame kawan kawanmu datang Ded, sampe berhari hari lagi,” suatu waktu emaknya nanya si Dedi.

“Biasalah mak, habis KKN kan capek. Jadi kumpul kumpullah kami, bentar lagi tamat kuliah kan gak ketemu lagi mak,” jawab si Dedi ke emaknya.

Hingga suatu malam, kalau tidak salah malam ketiga di rumah Dedi, sekitar jam 12 saat kami semua mau tidur, tiba tiba ada mobil berhenti di pinggir jalan depan rumah Dedi. Kebetulan saat itu aku yang belum bisa tidur ngambil rokok di ruang tamu, seketika darahku berdesir dan lututku mulai bergetar. Aku teringat mobil Jeef yang di ceritakan si Amat ketika menggerebek rumahku dan kawan kawan. Mobil jeef yang di ceritakan si Amat sama persis dengan mobil yang berhenti di depan rumah dedi, lalu….

Bersambung.

(Penulis adalah mantan aktifis SMID dan PRD)

 272 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *