Ketakutan Hantui Pasar, IHSG Terjun Bebas

Foto Ilustrasi : Seorang pialang pasar sedang memperhatikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Asaberita.com-Medan — Di tengah merebaknya virus corona, ketakutan terus menghantui pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terjun bebas. Sejak akhir pekan, IHSG terus tertekan dan bergerak di zona merah.

Pada perdagangan Senin (16/3/20), sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan, IHSG diperdagangkan di teritori negatif. IHSG terjun bebas ke level 4.690,65 atau anjlok 4,4%. Angka tersebut nyaris menyentuh level batas yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penutupan otomatis sementara (halt) jika turun lebih dari 5%.

Analis pasar keuangan asal Sumut, Gunawan Benjamin menyebut, kondisi IHSG juga tidak kalah memprihatinkan dibandingkan dengan negara Asia lain yang mengalami pelemahan kinerja indeks bursanya. Di mana Hang Seng terpuruk 4,03%, Shanghai jeblok 3,4%, dan Singapura terjungkal 5,06%.

“Khusus di pasar domestik, hampir dipastikan selalu ada diskon harga saham setiap hari perdagangan selama bulan Maret ini. Setiap hari pelaku pasar disuguhkan dengan harga saham yang terpangkas dengan rentang harga yang cukup besar. Entah sampai kapan kondisi ini akan berakhir,” kata Gunawan.

Hanya saja, tekanan pada IHSG terbilang masih terbatas karena pelaku pasar tahu bahwa IHSG diupayakan untuk tidak turun lebih dari 5%, karena akan langsung di-halt BEI. Memang, sepanjang sesi perdagangan Senin, IHSG sempat menuju pelemahan 5% namun mampu berbalik arah menjelang penutupan perdagangan.

Menurut Gunawan, kondisi pasar keuangan saat ini tengah dilanda kepanikan besar. Terlebih secara mengejutkan Bank Sentral AS, The Fed memangkas besaran suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin, yang membuat suku bunga acuan di AS hanya sebesar 0 – 0,25% saat ini. Kebijakan itu diambil seiring dengan buruknya penyebaran Covid-19 yang menyerang banyak negara sejauh ini.

Kebijakan ini tentu saja bisa memperkeruh pasar keuangan global. Memang pada dasarnya kebijakan suku bunga rendah akan membuat masyarakat menarik pinjaman atau pembiayaan yang diperuntukan sebagai modal bisnis atau usaha.
Namun, di saat corona menyerang, masyarakat justru akan membatasi aktivitasnya dengan banyak berdiam di rumah. Kebijakan AS tersebut dinilai blunder karena akan banyak yang menarik uang untuk modal usaha, tetapi tidak bisa digunakan.

“Yang ada malah kebijakan Bank Sentral AS tersebut jika gagal akan mempercepat AS dan tentunya banyak negara lain masuk ke dalam jurang krisis ekonomi atau resesi,” jelasnya.

BACA JUGA :  Makin Lama Pemerintah Tangani Corona, Ekonomi Bisa Tambah Jeblok

Ditambahkan, apa yang dilakukan The Fed atau Bank Sentral AS sejauh ini hanya berpeluang memperkeruh keadaan. Kondisi akan berbeda jika seandainya penyebaran virus corona bisa dihentikan dengan langkah-langkah tertentu, baru dibarengi dengan penurunan suku bunga acuan.

Namun, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Corona belum pasti kapan akan berhenti mewabah. Lantas, pasar keuangan masyarakat justru dibanjiri uang dengan stimulus penurunan bunga acuan. Kalau hal ini terjadi di Indonesia oleh BI, maka sudah pasti akan memicu inflasi yang sangat besar.

Begitupun, imbuhnya, penurunan harga saham saat ini tidak serta merta akan memicu animo masyarakat untuk membeli saham.

Yang muncul saat ini adalah kepanikan yang bisa saja membuat masyarakat justru enggan masuk ke pasar saham. Meskipun harga saham pada dasarnya sudah sangat murah.

Hal serupa juga ditunjukkan pergerakan Rupiah. Pada pembukaan perdagangan Senin, Rupiah sempat menguat, namun justru ditutup turun pada level 14.930 per dolar AS.

“Pelemahan Rupiah memperburuk persepsi pasar yang dibayangi tekanan dari penyebaran Covid-19,” pungkas Gunawan.

Sebelumnya, sepanjang perdagangan pekan lalu, IHSG terombang-ambing dibayangi sentimen negatif penyebaran virus corona.

Saham-saham bertumbangan. IHSH terkoreksi hingga ke level 5,01% pada pembukaan perdagangan yang memaksa BEI meng-halt atau mengentikan sementara perdagangan pada sesi perdagangan Jumat (13/3/20) pekan lalu.

IHSG di-halt sementara pada pukul 09.15 WIB, dan dibuka kembali pada pukul 09.45. Kinerja pasar keuangan setelah dibuka ulang sempat bertahan di kisaran 4.600. Akan tetapi di sesi perdagangan kedua, IHSG berbalik arah dengan mengurangi kerugiannya. IHSG berbalik setelah sejumlah sejumlah kinerja indeks bursa futures di AS mengalami penguatan.

IHSG pada akhirnya mampu mengurangi kerugiannya, dengan membukukan kenaikan tipis di level 4.907,57. Ke depan, IHSG diperkirakan masih akan mengalami tekanan hebat. Apalagi, semua sentimen sejauh ini tertuju kepada penyebaran Covid-19 yang bisa kapan saja akan kembali menghantam pasar keuangan.

Rupiah Dekati Rp15 Ribu Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah berada di Rp14.956 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (16/3/20) sore. Mata uang Garuda melemah 1,21 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Jumat (13/3/20).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.818 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (13/3) kemarin, yakni Rp14.815 per dolar AS.

BACA JUGA :  Ingat! Begini Cara Mendapatkan Keringanan Tarif Listrik 450 dan 900 VA

Rupiah tidak sendirian, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat, baht Thailand melemah 1,14 persen, ringgit Malaysia 0,70 persen dan peso Filipina 0,60 persen.

Selanjutnya, lira Turki juga turut melemah 0,55 persen, won Korea 0,53 persen, rupee India 0,48 persen serta dolar Singapura 0,45 persen. Diikuti dolar Taiwan 0,12 persen.

Di sisi lain, penguatan terjadi pada yen Jepang sebesar 1,38 persen, yuan China 0,14 persen, dan dolar Hong Kong 0,09 persen terhadap dolar AS. Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak bervariasi terhadap dolar AS.

Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah sebesar 0,01 persen dan 0,62 persen, sementara poundsterling Inggris dan euro menguat sebesar 0,65 persen dan 0,94 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah hari ini masih disebabkan oleh sentimen perkembangan virus korona (covid-19).

“Situasi virus korona semakin parah saat Presiden AS Donald Trump menyatakan darurat nasional, karena negara mencatat lebih dari 2.000 kasus dan 50 kematian,” jelas Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (16/3/20).

Hal tersebut juga dibuktikan dari keputusan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang menetapkan covid-19 sebagai pandemi beberapa waktu lalu.

Di sisi domestik, rilis Badan Pusat Statistik (BPS)terkait Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Februari 2020 yang mengalami surplus sebesar US$2,34 miliar dengan angka ekspor mencapai US$13,94 miliar dan Impor US$11,60 miliar tidak berpengaruh signifikan terhadap penguatan rupiah.

“Pasar kurang merespons surplus neraca perdagangan karena saat ini pemerintah sedang fokus penanganan virus korona yang sudah merebak di seluruh negeri sehingga perlu penanganan yang serius dari pemerintah,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp14.940 hingga Rp15.000 pada perdagangan Selasa (17/3) hari ini.(cnn/msi/has)

363 total views, 1 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *