PB IDI Menepis Chloroquine Phosphate Bisa Menjadi Obat Virus Corona

Obat anti-malaria Chloroquine Phosphate
Foto Ilustrasi: Seorang pasien positif virus corona (Covid-19) tengah menjalani perawatan medis

Asaberita.com-Jakarta — Penggurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menepis Chloroquine Phosphate bisa menjadi obat virus corona (Covid-19). Belum ada obat yang bisa menyembuhkan infeksi virus itu.

Sekretaris Satgas Covid-19 PB IDI Dyah Agustina Waluyo mengatakan, obat anti-malaria Chloroquine Phosphate tidak bisa mengobati virus corona. Dan hingga saat ini belum ditemukan ada obat khusus untuk mengobati pasien yang terjangkit virus ini.

“Jadi semua diobati sesuai gejala. Kalau demam diberikan obat demam, pilek batuk diberikan obat pilek dan batuk. Kemudian kalau sampai gagal napas ya pakai ventilator,” katanya, seperti dilansir republika, Selasa (17/3/2020).

Kendati demikian, ia menegaskan, 90 persen kasus virus ini bersifat ringan. Untuk mencegah penularan virus ini, IDI mendorong masyarakat benar-benar menerapkan isolasi di rumah atau social distancing sesuai anjuran pemerintah.

“Jadi kita (harus) sepakat selama 14 hari ini di rumah, kecuali petugas medis atau aparatur sipil negara (ASN) yang memang punya tugas tertentu yang tidak bisa ditinggal. Insya Allah kasusnya (Covid-19) tidak melonjak, tapi tolong jangan meremehkan,” ujarnya.

BACA JUGA :  UIN Malang PTKIN Terbanyak Menerima Mahasiswa Hafidz Alquran

Sebelumnya, netizen sempat dihebohkan adanya kabar obat anti-malaria chloroquine phosphate atau klorokuin fosfat dapat menyembuhkan pasien virus corona.

Informasi tersebut bahkan diperkuat dengan riset yang menunjukkan ada “kemanjuran” dalam mengobati COVID-19.

Bahkan, para ahli kesehatan China, seperti sempat dilansir sejumlah media dalam dan luar negeri, mengumumkan bahwa mereka telah menemukan metode yang efektif untuk mengobati virus corona.

Memiliki Efek Penyembuhan

Dokter China mengatakan, obat anti-malaria Chloroquine Phosphate ditemukan memiliki efek penyembuhan pada virus corona.

Wakil Direktur Biro Administrasi Medis Komisi Kesehatan Nasional (NHC) Guo Yanhong menyebut, lebih dari 10.000 pasien telah dirawat dan dipulangkan dari rumah sakit.

Dikutip dari reuters, obat anti-malaria Chloroquine Phosphate ini juga sedang diuji di 10 rumah sakit di China pada lebih dari 100 pasien.

Hasil awal menunjukkan setidaknya memiliki beberapa manfaat pada pasien dengan pneumonia.

Wakil kepala Pusat Nasional Pengembangan Bioteknologi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sun Yanrong mengatakan, para ahli juga telah “dengan suara bulat” menyarankan Chloroquine.

Bahwa obat tersebut dimasukkan dalam versi berikutnya dari pedoman pengobatan dan diterapkan dalam uji klinis yang lebih luas sesegera mungkin.

BACA JUGA :  Rektor UINSU Kecam Keras Kelompok Intoleransi di Solo

Sun mengatakan, chloroquine telah digunakan selama lebih dari 70 tahun, dipilih dari puluhan ribu obat yang ada setelah beberapa kali skrining.

Menurutnya, obat tersebut telah diuji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di Provinsi Guangdong China selatan dan Provinsi Hunan di China tengah, dan telah menunjukkan hasil yang cukup baik.

Dalam uji coba, kelompok pasien yang telah diberi obat turun demamnya, peningkatan gambar CT paru-paru, persentase pasien yang menjadi negatif dalam tes asam nukleat virus dan waktu mereka perlu melakukannya.

“Pasien yang menggunakan obat juga membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk pulih,” kata Sun seperti dikutip dari thestar. (rep/kps/reuter/thestar/has)

355 total views, 1 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *