Sertifikasi Da’i Cegah Penyebaran Paham Radikalisme

Ketua Penasehat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan (GDKK) TGS Prof Dr KH Saidurrahman MAg. (foto/msj)

Asaberita – Jakarta – Ketua Penasehat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gerakan Dakwah Kerukunan dan Kebangsaan (GDKK) TGS Prof Dr KH Saidurrahman MAg mengatakan program sertifikasi da’i yang digagas Menteri Agama (Menag) RI Jenderal (Purn) Fachrul Razi dapat mencegah berkembangnya paham dan gerakan radikalisme di Indonesia.

“Penerapan sertifikasi da’i itu sangat baik. Saya menilai program ini luar biasa baiknya, karena meliputi pengkajian, pembinaan dan pendalaman pemahaman ajaran agama agar paham radikalisme tidak menyebar,” kata Prof Dr Saidurrahman MAg kepada Asaberita.com, Sabtu (05/09/2020).

Dia mengatakan gagasan Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi patut didukung guna mencegah berkembangnya faham serta gerakan radikalisme atau kelompok yang menyusup lewat fenomena yang berkembang saat ini seperti Good Looking.

Rektor UINSU Medan periode 2016-2020 ini menyebutkan, fenomena Good Looking merupakan pintu masuk paham radikalisme di Indonesia. Ada kecenderungan sebagian masyarakat “tertipu” dengan menganggap para Good Looking sebagai ahli, pemuka dan panutan beragama, padahal sebenarnya tidak demikian. Hal itu disebabkan, karena keberagamaan berbasis simbol dan trend masih saja ditemukan, khususnya di sentra-sentra pembinaan keberagamaan umat.

BACA JUGA :  PKB Kota Medan Salurkan Sembako Bantuan Cak AMI ke Guru Ngaji dan Imam Masjid

“Seorang hanya membiasakan dirinya berpakaian “gamis”, lalu menghafal al-Qur’an atau beberapa juz dari al-Qur’an, membaca beberapa buku dan video khutbah, kemudian mengambil peran-peran strategis di Masjid seperti Ketua Badan Kenaziran, Imam Shalat, Khatib Jum’at dan lainnya hingga mendapat simpatik bahkan tiba-tiba saja telah dijadikan rujukan dalam soal-soal agama oleh sebagian umat,” kata Prof Saidurrahman.

Fenomena itu kata Prof Saidurrahman, telah menumbuhsuburkan para Good Looking. Mereka dengan sengaja mengambil peran-peran da’i di tengah-tengah umat. Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya.

Da’i kata dia, adalah mereka yang fokus mempelajari, memahami serta merenungkan secara komprehensif ajaran agamanya hingga ke dimensi paling sakral dan paling substantif. Berbekal komitmen, pemahaman serta kesadaran yang demikian, lanjut dia,  sangat dimungkinkan lahirmya wajah agama yang ramah dan lembut dengan pemahaman yang serba moderat, inklusif dan dinamis.

Prof Saidurrahman mengatakan, karakter dan kualitas demikian tidak mungkin dicapai jika hanya merubah fashion dan memperbanyak hafalan sebagaimana yang dipentaskan para Good Looking. Kehawatirannya yang ada adalah maraknya orang-orang yamg mengaku dirinya sebagai da’i tanpa adanya pemahaman yang komprehensif dan mendalam atas ajaran agama.

BACA JUGA :  Bursa Pilpres 2024, Muhaimin - Puan Gambaran Miniatur Indonesia

Lebih jauh, menurut Prof Saidurrahman pola keberagamaan sebagaimana yang ditampilkan para Good Looking itu, justru sangat berpotensi melahirkan wajah agama yang cenderung radikal, sensitif serta eksklusif.

“Jika tidak dapat kita atasi, maka para Good Looking berhasil menempati posisi strategis dalam kehidupan beragama, maka jadilah keberadaan Good Looking akan menjadi pintu-pintu alternatif bagi masuk, menyusup dan menyebarnya  paham serta gerakan radikalisme, terutama ketika mereka sedang memerankan yang seharusnya menjadi peran para da’i,” katanya.

Atas dasar itulah, kata Prof Saidurrahman, gagasan Menag RI Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi untuk menerapkan sertifikasi para da’i patut didukung. “Saya setuju dan meyakini bahwa program sertifikasi da’i yang digagas Pak Menag harus kita dukung penuh,” katanya. ** msj

 

2,391 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *