MEDAN – Ramadan 1447 H membawa nuansa berbeda di Universitas Dharmawangsa (Undhar) Medan. Buka puasa bersama yang rutin digelar setiap tahun kini ditata dengan sistem bergiliran, memberi ruang partisipasi yang lebih merata bagi seluruh civitas akademika.
Kampus yang berlokasi di Jalan KL Yos Sudarso itu menjadwalkan setiap fakultas dan unit kerja hadir secara bergantian setiap pekan. Pola ini diterapkan agar dosen, tenaga kependidikan, hingga fungsionaris kampus dapat merasakan kebersamaan Ramadan secara adil dan terorganisir.
Rektor Undhar, Dr. H. Zamakhsyari bin Hasballah Thaib, Lc., MA, yang diwakili Wakil Rektor I Dr. Rahmat Hidayat, MA, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut lahir seiring bertambahnya jumlah civitas akademika.
“Dengan sistem bergiliran, semua unsur kampus bisa terlibat aktif. Ini bukan sekadar acara berbuka, tetapi ruang membangun kebersamaan,” ujar Rahmat, Sabtu (28/2/2026).
Pada pekan terakhir ini, giliran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang mengikuti kegiatan. Sebelumnya, Fakultas Teknik dan program studi keagamaan telah lebih dulu hadir dalam agenda serupa.
Suasana kebersamaan itu juga dihadiri Ketua Yayasan Pendidikan Dharmawangsa Medan H. Muzakkir, SE, Sekretaris Yayasan Dra. Hj. Farida Hanum Nasution, MAP, serta Kepala Pengawas Yayasan Pendidikan Saiful Anwar, SE. Hadir pula Wakil Rektor II Dr. Muhammad Luthfi, S.IKom., M.Si, Wakil Rektor III Umar Hamdan Nasution, SE., MM, serta Dekan FEB Dr. M. Amri Nasution, M.Si.
Menurut Rahmat, momen berbuka puasa menjadi ruang komunikasi informal yang efektif. Dalam suasana santai, dialog mengalir lebih cair dan sekat-sekat formal perlahan mencair.
“Tradisi berdiskusi sambil makan sudah lama dikenal sebagai cara mempererat relasi dan membangun kesepahaman. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk itu,” katanya.
Tak hanya memperkuat silaturahmi, kegiatan ini juga sarat nilai sosial. Hidangan berbuka disiapkan melalui kontribusi bersama dari unsur yayasan, pengurus masjid kampus, dosen, hingga pimpinan lembaga.
“Bukan karena yayasan tidak mampu membiayai kegiatan ini. Justru kita ingin menerapkan konsep gotong royong, memberi ruang bagi setiap orang untuk berbagi dan merasakan makna sedekah,” tutur Rahmat.
Ia meyakini kebersamaan di luar ruang kelas akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap institusi. Ketika seluruh unsur merasa dilibatkan, semangat memajukan kampus pun tumbuh secara kolektif.
Di antara ragam hidangan yang tersaji, ada satu menu yang selalu dinantikan, Kanji Rumbi. Bubur khas Aceh ini menjadi sajian wajib yang tak pernah absen dari meja iftar Undhar.
Sekilas menyerupai bubur ayam, Kanji Rumbi berbahan dasar beras yang dimasak dengan aneka rempah pilihan. Rasanya gurih dan kaya aroma, biasanya dipadukan dengan udang serta potongan daging. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol keberagaman budaya yang menyatu dalam suasana Ramadan.
Melalui buka puasa bersama ini, nilai spiritual, sosial, dan kelembagaan berpadu dalam satu momentum. Ramadan di Undhar bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mempererat silaturahmi, menumbuhkan empati, serta menjaga semangat berbagi yang terus dirawat dari waktu ke waktu. (ABN/dan)











