MEDAN – Di sebuah desa kecil bernama Ujung Padang, Kecamatan Aek Natas, Labuhanbatu Utara — desa yang menurut pengakuannya “bahkan tak ada dalam peta” — lahirlah seorang anak kampung bernama Muhammad Daud Siagian pada 1 Februari 1970. Tak ada yang menyangka, anak nelayan dan petani itu kelak berdiri gagah mengenakan toga doktor di Gedung HM Arsjad Thalib Lubis Gelanggang Mahasiswa, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Kamis, 7 Mei 2026.
Hari itu, Dr. H. Muhammad Daud S., S.Ag., M.A.Gr., atau yang lebih dikenal sebagai HM Daud Sagitaputra, resmi diwisuda sebagai Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UINSU. Sebelumnya, Daud berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Komunikasi Politik H. Syamsul Arifin, SE dalam Membangun Citra Positif di Kalangan Lintas Suku di Sumatera Utara” di depan tim penguji di Gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UINSU.
Kini, selain aktif sebagai mubaligh dan penggerak pendidikan Al-Qur’an, Daud Sagita juga mengabdikan dirinya sebagai dosen di FDK UINSU serta Kepala Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) Abatasa Medan. Namun gelar doktor itu tidak lahir dari jalan yang mudah. Ia tumbuh dari peluh, air mata, lapar, rasa malu, dan perjuangan panjang seorang anak desa yang sejak kecil sudah akrab dengan kerasnya kehidupan.
Kehilangan Ayah
Daud kecil dikenal cerdas. Sejak SD, ia selalu juara kelas. Momen paling membahagiakan dalam hidupnya saat itu adalah ketika sang ayah, almarhum Dame Siagian, datang mengambil rapor lalu mengajaknya berkeliling kampung dengan sepeda karena bangga anaknya menjadi juara.
“Kalau ayah kasih uang jajan, teman-teman saya juga ikut kebagian,” kenangnya.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Saat Daud berusia 13 tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak itulah hidup berubah drastis. Anak ketujuh dari 10 bersaudara itu mulai membantu ibunya, Rusiah Tanjung (almh), mencari nafkah. Ia menjual sayur dari ladang ke pekan-pekan desa. Kadang ikut menjajakan dagangan orang lain dari kampung ke kampung.
Tak jarang ia harus berjalan jauh demi bertahan hidup dan tetap sekolah.
Ada satu kisah yang terus membekas dalam hidupnya. Saat hendak mengikuti ujian EBTANAS MTs Al-Washliyah, Daud tak punya uang untuk melunasi biaya sekolah, uang ujian, dan uang kos. Totalnya Rp9.000. Jumlah yang sangat besar bagi keluarganya kala itu.
Karena terdesak, Daud nekat mencuri rambutan milik warga untuk dijual di pekan. Namun aksinya ketahuan. Sang pemilik marah, ibunya malu besar, dan Daud memilih pergi meninggalkan rumah pada tengah malam.
Ia berjalan kaki sejauh sekitar 23 kilometer meninggalkan kampung halamannya.
Perjalanan hidupnya sejak saat itu seperti tak pernah benar-benar mudah.
Saat sekolah Tsanawiyah, Daud menjadi kernet mobil pick up pengangkut barang belanjaan pasar. Setelah melanjutkan aliyah di Tanjung Balai, ia bekerja di bengkel sepeda motor demi sekadar bisa makan siang. Malam harinya, ia menarik becak sampai lewat tengah malam. Bahkan kadang tidur di atas becak karena malam Kamis dan malam Minggu merupakan waktu paling ramai penumpang.
Ketika kuliah di IAIN Sumut tahun 1990, perjuangan itu semakin keras. Ia pernah menjadi marbot masjid, penarik becak di Petisah dan Brayan, pengangkut sampah di Pasar Sentral, penjual roti keliling, penjual es cup, penjual koran di lampu merah Glugur, hingga tukang cuci piring di pesta pernikahan.
Tak cukup sampai di situ, Daud juga pernah menjadi juru parkir di kawasan Pajak Palapa hingga tengah malam selama hampir empat tahun.
Namun di sela-sela menjaga parkir, ia tetap membaca buku. “Kalau lagi lengang, saya belajar,” tuturnya.
Perjalanan akademiknya pun jauh dari kata mulus. Daud menyelesaikan S1 di Fakultas Dakwah IAIN Sumut selama delapan tahun lebih. Tiga hari lagi, ia hampir terkena drop out. Ia bahkan menjadi satu-satunya mahasiswa yang harus dua kali menjalani sidang munaqasyah karena sidang pertama dinyatakan tidak lulus.
Rasa malu karena sudah sering berceramah tetapi belum juga tamat kuliah akhirnya menjadi cambuk yang membuatnya bangkit kembali.
Ia menuntaskan S1 pada 1998.
Semangat itu tak pernah padam. Setelah sempat kuliah di University Putra Malaysia, Daud kembali melanjutkan S2 Komunikasi Islam di Pascasarjana IAIN Sumut dan lulus tahun 2012.
Saat menempuh S3 KPI UINSU, cobaan kembali datang. Kesibukan organisasi, pekerjaan, dan aktivitas sosial membuatnya hampir drop out pada 2020.
Tetapi sekali lagi, Daud memilih bertahan. Ia melakukan re-NIM pada 2021, lalu menjalani semuanya sekaligus: kuliah, mengajar, bekerja, dan berdakwah hingga akhirnya berhasil menyelesaikan doktoralnya.
Di balik perjalanan panjang itu, ada sosok perempuan yang setia mendampingi sejak nol: Sujanna Astuti Siregar, S.Pd., AUD., M.Psyi., perempuan asal Pematangsiantar yang dinikahinya pada November 1995.
Mereka menikah dalam kondisi sangat sederhana. Awal berumah tangga, pasangan ini tinggal di masjid sebagai marbot. Mereka tidur tanpa tilam dan tanpa ranjang, hanya beralaskan tikar lipat agar tampak seperti kasur.
Ketika istrinya hamil tiga bulan, Daud mendapat amplop ceramah berisi Rp1.700. Uang itu dipakai membeli satu tilam dan satu bantal.
“Saat anak pertama lahir, tilam kami baru dua,” kenangnya.
Dari rumah tangga sederhana itu lahirlah empat anak: Adam Brayans Mujtahid Ad-Daudy, Miftahuljannah Ad-Daudy, Salsabillah Jannah Ad-Daudy, dan Azza Ghina Jannah Ad-Daudy.
Kini, mereka juga telah memiliki cucu bernama Ashila Aghnia Humaira Siagian.
Jatuh Bangun di Masa Pandemi
Daud pernah menikmati masa sukses sebagai direktur perusahaan herbal berbasis MLM. Ia memiliki rumah, mobil, dan sering bepergian ke berbagai daerah bahkan luar negeri.
Namun pandemi Covid-19 menghantam semuanya.
Perusahaannya bangkrut total pada 2020. Untuk bertahan hidup, Daud dan keluarganya menjual aset, termasuk rumah, sepeda motor, hingga perhiasan sang istri.
Selama sekitar 17 bulan, mereka berjualan nasi bungkus di pinggir Jalan Cemara, Medan.
Meski berat, Daud tak menyerah.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ia justru kembali menyelesaikan pendidikan doktornya.
Kini, pria yang pernah menjadi penjual sayur, penarik becak, tukang parkir, hingga penjual koran itu resmi menyandang gelar doktor.
Perjalanan hidup HM Daud Sagitaputra menjadi bukti bahwa kemiskinan bukan akhir dari segalanya. Bahwa pendidikan dapat diraih siapa saja yang memiliki keyakinan dan daya juang.
Sebagai dai, dosen dan Kepala SALUT Abatasa Medan, Daud kini terus mendorong generasi muda agar tidak mudah menyerah menghadapi keadaan.
Ia pernah jatuh berkali-kali. Pernah hampir gagal. Pernah kehilangan arah. Namun satu hal yang tidak pernah hilang dari dirinya adalah semangat untuk bangkit.
“Bagi saya, bukan uang yang menjadi penentu keberhasilan, tetapi semangat dan keyakinan terhadap qadarullah,” ujar pnggemar olahraga catur yang kerap disapa Pelatih ini.
Dan pada Kamis itu, di bawah toga doktor yang melekat di pundaknya, tersimpan kisah panjang seorang anak kampung yang menolak menyerah kepada nasib. (ABN/dan)











