LANGKAT — Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak cukup hanya dengan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguatan karakter, cinta tanah air, serta pemahaman tentang bela negara dan ketahanan nasional juga harus menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Karena itu, guru dan dosen dituntut memiliki pemahaman yang memadai tentang bela negara dan ketahanan nasional agar mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik sejak dini.
Hal tersebut disampaikan Drs. Syaiful Syafri, MM, saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa dan sejumlah dosen Universitas Putra Abadi Langkat di Stabat. Pesan tersebut disampaikan kepada awak media, Kamis (29/10).
Menurut Syaiful, Generasi Emas 2045 merupakan visi strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang cerdas, produktif, inovatif, dan berkarakter kuat saat bangsa ini memasuki satu abad kemerdekaan.
Visi tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024, dengan arah pembangunan menuju Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan.
Untuk mencapai sasaran itu, kata Syaiful, dunia pendidikan harus mengambil peran lebih besar. Proses pembelajaran di sekolah dan perkuliahan di perguruan tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu membangun kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan negara.
“Generasi Emas 2045 berada di tangan guru dan dosen. Mereka memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memiliki kepribadian yang berlandaskan budaya bangsa, Pancasila, dan UUD 1945,” ujarnya.
Ia menilai, peningkatan kapasitas guru dan dosen melalui pendidikan dan pelatihan tentang bela negara serta ketahanan nasional perlu menjadi perhatian. Dengan bekal tersebut, pendidik diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan ke dalam proses belajar mengajar secara relevan dan kontekstual.
Syaiful juga menekankan pentingnya membangun ketahanan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional. Menurut dia, generasi muda perlu memiliki daya tahan terhadap berbagai pengaruh negatif, kemampuan menyaring informasi, serta kesadaran untuk menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Ia menyinggung berbagai tantangan yang dapat menghambat pembangunan sumber daya manusia, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga maraknya judi daring lintas negara. Selain merugikan individu dan keluarga, persoalan tersebut dinilai berpotensi merusak masa depan generasi muda.
Syaiful turut mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap propaganda dan upaya penyebaran informasi yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat. Karena itu, pendidikan bela negara, menurut dia, harus diarahkan untuk memperkuat persatuan, membangun sikap kritis, dan menumbuhkan tanggung jawab sebagai warga negara.
Sebagai gambaran mengenai ancaman narkoba, ia menyinggung pengungkapan sejumlah kasus oleh aparat kepolisian di berbagai daerah di Indonesia. Sebagai contoh, uangkap Syaiful Syafri, untuk Oktober 2026 ini Polda Sumut berhasil membongkar kasus 1,16 ton ketamin, 244 kg sabu, 10.000 butir ekstasi dan 1.178 unit vape narkoba, serta judi online antarnegara. Demikian juga di Polda Jabar berhasil mengungkap 600 ribu obat terlarang, 2.093 gram tembakau sintetis, dan judi online antarnegara. Demikian juga dengan Polda lain di Indonesia seperti Polda Metro Jakarta.
Dalam konteks pembangunan nasional, Syaiful juga menyinggung program Sekolah Rakyat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut dia, perluasan akses pendidikan harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, pemerataan pembangunan, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan ketahanan nasional.
Ia berharap pemahaman tentang bela negara dan ketahanan nasional tidak berhenti sebagai pengetahuan teoritis, tetapi benar-benar tercermin dalam sikap dan perilaku peserta didik, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.
“Guru dan dosen perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bela negara dan ketahanan nasional agar nilai-nilai tersebut tertanam dalam diri generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa pada 2045,” kata Syaiful. (ABN/dan.)




















