MEDAN — Perjalanan hidup Dr. H. Muhammad Daud Sagitaputra, S.Ag., M.A.Gr atau HM Daud Sagita dari seorang penarik becak hingga meraih gelar doktor disebut sebagai contoh nyata kekuatan rasa syukur dalam kehidupan.
Hal itu disampaikan Penguji Eksternal promosi doktor sekaligus orang dekat almarhum H. Syamsul Arifin, SE, Dr. KRT. H. Hardi Mulyono K Surbakti, SE, MAP, dalam acara tasyakuran wisuda doktor Daud Sagita di Yayasan Pusat Pendidikan Addaudy, Jalan Brigjen Bejo/Cemara Gang Waringin No 19, Medan Timur, Jumat (8/5/2026).
Dalam sambutannya, Hardi Mulyono mengaitkan perjalanan hidup Daud dengan pesan Al-Qur’an tentang hamba Allah yang pandai bersyukur.
“Dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mu’minun ayat 78 dan ayat 23, ada pesan tentang hamba Allah yang pandai bersyukur. Saya melihat Pak Daud adalah salah satu contoh nyata dari ayat tersebut,” ujar Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah Medan ini.
Hardi mengatakan, kehidupan Daud Sagita penuh dengan perjuangan dan keterbatasan. Namun, kesabaran dan rasa syukur membuat kehidupannya berubah hingga akhirnya berhasil menyandang gelar doktor.
“Beliau pernah hidup sangat susah. Saat baru menikah bahkan tidur beralaskan seadanya. Istrinya pernah melahirkan hanya menggunakan sarung sebagai alas karena tidak punya kasur yang layak. Tapi karena kesabaran dan rasa syukur, Allah angkat derajat mereka sampai hari ini,” kata Rektor UMN Al Washliyah periode 2018-20230 ini.
Hardi mengaku mendukung penuh penelitian disertasi Daud Sagita yang mengangkat tema komunikasi politik almarhum H. Syamsul Arifin. Menurutnya, Daud sangat memahami sosok mantan Gubernur Sumatera Utara tersebut.
“Saat sidang promosi doktor, saya banyak bertanya tentang Syamsul Arifin. Ternyata beliau mengetahui hal-hal yang bahkan lebih detail dari saya. Di situ saya melihat penelitian ini dilakukan dengan sangat serius,” ujarnya.
Ia bahkan menilai perjalanan hidup Daud sendiri layak dijadikan karya ilmiah atau penelitian akademik.
“Bukan hanya biografi Syamsul Arifin yang penting ditulis, tetapi perjalanan hidup Pak Daud juga sangat layak diangkat menjadi disertasi. Kisah perjuangannya luar biasa,” katanya.
Sebelumnya, Daud Sagita mempertahankan disertasinya berjudul “Komunikasi Politik H. Syamsul Arifin, SE dalam Membangun Citra Positif di Kalangan Lintas Suku di Sumatera Utara” pada 2 Januari 2026. Ia kemudian mengikuti wisuda doktor yang dipimpin Rektor UINSU Medan, Prof Dr Nurhayati, M.Ag, Kamis (7/5/2026).
Acara tasyakuran diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan pemutaran video perjalanan hidup Daud Sagita bertajuk “Dari Juru Parkir hingga Meraih Gelar Doktor”. Hadir dalam kegiatan itu sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, aktivis, dan warga sekitar Yayasan Addaudy.
Ketua PWI Sumatera Utara, Farianda Putra Sinik, SE, dalam sambutannya mengaku terharu mendengar kisah hidup Daud Sagita.
“Tadi saya mendengar perjalanan hidup Pak Ustadz Daud, saya sampai terharu. Kehidupan saya mungkin cukup, tapi hanya sampai S1. Sementara Daud, dari tukang becak dan tukang parkir bisa sampai S3. Itu sesuatu yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Farianda juga menilai Hardi Mulyono merupakan sosok yang tepat menjadi penguji disertasi tersebut karena sangat memahami perjalanan hidup almarhum Syamsul Arifin.
Sementara itu, dalam sambutannya, Daud Sagita mengaku seluruh perjalanan hidupnya menuju gelar doktor dipenuhi perjuangan panjang yang tidak mudah dilupakan.
Ia menceritakan bagaimana dirinya pernah meninggalkan kampung halaman karena tidak memiliki biaya Rp9.000 untuk mengikuti ujian Ebtanas saat masih duduk di Tsanawiyah Al-Washliyah Desa Adiantorop.
“Saya pertama kali keluar dari kampung justru gara-gara mencuri rambutan. Tapi saya mencuri bukan karena lapar. Saya butuh uang sekolah untuk bayar ujian,” katanya.
Daud kemudian menjalani berbagai pekerjaan serabutan hingga akhirnya menjadi penarik becak di Tanjungbalai demi mengumpulkan biaya sekolah. Dari hasil menarik becak selama sekitar dua minggu, ia berhasil mengumpulkan uang untuk membayar ujian dan melanjutkan pendidikan.
Di tengah kisah haru itu, Daud juga menyampaikan rasa terima kasih kepada istrinya, Sujanna Astuti Siregar, M.Psi, yang setia mendampingi dirinya dalam berbagai ujian kehidupan.
“Saya bisa mencapai gelar akademik tertinggi ini tentu tidak terlepas dari sosok yang ada di depan saya ini,” ujarnya.
Menurut Daud, seluruh pencapaian yang diraih bersama keluarga merupakan hasil kerja keras, bukan karena memanfaatkan kedekatan dengan pejabat atau tokoh tertentu.
“Tidak ada satu rupiah pun bantuan pemerintah yang saya gunakan untuk rumah pribadi ataupun yayasan kami. Semua ini hasil kerja keras kami berdua siang dan malam,” katanya.
Perjalanan panjang dari penarik becak hingga menyandang gelar doktor itu pun disambut haru dan tepuk tangan para tamu yang hadir dalam tasyakuran tersebut. (ABN/dan)











