Hijrah New Normal Dakwah Untuk Peradaban

Salahuddin Harahap MA. (foto.msj)

Oleh : Salahuddin Harahap MA

 

Hijrah berarti bergerak atau berpindah, lebih jauh memutuskan atau menyengaja untuk bergerak atau berpindah karena alasan tertentu dan untuk tujuan tertentu. Agar dapat dipahami lebih substansial, maka hijrah tidak dimakanai sebatas perpindahan dari satu tempat atau daerah ke tepat atau daerah lain,   melainkan secara lebih luas dapat dimaknai sebagai perpindahan dari satu kondisi menuju kondisi lain ( new normal) atau bahkan dari satu maqòm ke maqòm lainnya.

Berhijrah sendiri telah dimulai sejak Adam AS kemudian menjadi tradisi oleh setiap Nabi — Rasul, bahkan dalam konteks tertentu, hijrah dapat dilihat sebagai salah satu strategi serta upaya pengembangan atau menjaga keberlanjutan  dakwah yang dipilih para nabi.

Secara filosofis, hijrah dapat dimaknai sebagai semangat anti kemapanan atau anti stagnasi. Karenanya keputusan melakukan hijrah tidak hanya karena kesadaran akan sulitnya kondisi yang dihadapi pada suatu tempat pada waktu tertentu, tetapi juga isyarat akan pentingnya berpindah dari suatu tempat dan kondisi yang mudah dan menyenangkan kepada kondisi atau tempat lain yang boleh jadi justeru lebih sulit agar dapat lebih maju, lebih baik dan lebih eksis.

Kondisi yang terlalu sulit dan sempit berpotensi menjadikan ide, kreativitas, gagasan menjadi tidak dapat berkembang secara baik dan sehat, begitu pun sebaliknya suasana dan tempat yang terlalu nyaman dan menyenangkan, dapat pula menumpulkan ketajaman ide, nalar kritis, gagasan dan kreatifitas manusai. Karena itulah maka, keputusan melakukan hijrah tidak selalu dilatar belakangi kondisi sulit yang dihadapi, melainkan dalam rangka upaya mewujudkan cita-cita, gagasan dan impian yang lebih besar dan lebih luas.

Penjelasan Rasulullah Saw. tentang “Barang siapa yang berangkat hijrah karena ingin memperoleh harta, kesenangan dan wanita maka itulah yang akan diperolehnya” diawali dengan ungkapan “Innama al-à’màlu bi an-niyah fa innama likulli imrìin ma nawà” sesungguhnya setiap pekerjaan didasari pada niat yang mendasarinya dan capaian seseorang atas tugas atau pekerjaan yang dilakoninya sangat bergantung pada bangunan motivasi, dasar filosofis,  perencanaan, strategi aksi yang dirancang dan diaktualisasikannya.

Rasulullah menegaskan sekaligus membuat batasan bahwa “Barang siapa yang memutuskan berhijrah karena dan untuk Allah dan Rasul-Nya— maka ia akan memperoleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah menghubungkan antara agenda hijrah dengan eksistensi Allah dan Rasul— sesungguhnya hal itu telah menjadi isyarat bahwa hijrah itu  merupakan project spiritual, Rasional, Aksional sekaligus yang harus direncanakan dan dirumuskan secara filosofis, intuitif, rasional dan dengan nalar kritis-strategis agar dapat mencapai hasil yang lebih substantif dan lebih paripurna.

BACA JUGA :  Menajemen Bayaran Premi Asuransi Di Era Pandemi Covid-19

Rasul menegaskan bahwa capaian terpenting dari hijrah adalah ridha dan kecintaan Allah dan Rasulnya—bukan dalam konteks memepertimbangkan apa yang ditinggal dan yang akan diperoleh.  Penggunaan istilah ridha dan cinta Allah dan Rasul ditujukan untuk melepaskan seorang muhàjir dari target-target atau tujuan-tujuan parsial apalagi yang berisfat material dan emosional menuju target yang lebih universal yakni melanjutkan usaha dakwah atau menelusuri jalan dakwah hingga ke hilirnya yakni rahmatan lil’alamin dalam makna demi new nirmal peradaban dunia.

Membangun komunitas muslim yang lebih kuat dan lebih tertata di Yatsrib—Madinah bukan dirumuskan dan direncanakan Rasulullah pasca perpindahan ke Madinah— tetapi telah dirumuskan dan didesain sedemikian rupa pada saat merancang strategi dakwah di Makkah. Keputusan Rasulullah untuk berdakwah secara “sirr” sembunyi-sembunyi adalah dalam rangka konsolidasi internal membangun militansi, kapasitas, teamwork yang solid dan kuat dalam rangka menyukseskan project dakwah di Madinah dan seterusnya untuk dunia mendatang.

Sebelum memutuskan  berangkat hijrah, rancangan peradaban yang akan dibaangun di Madinah sudah dipersiapkan secara baik oleh Rasulullah dengan membuat job discription mempertimbangkan kondisi lewat geographical dan social mapping atas Madinah sehingga memperoleh kejayaan di Madinah.

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah mendorong dan mempercayakan Abu Bakar Ra untuk mengurus urusan pelayanan kemasyarakatan, Umar Ibn Khattab Ra didorong dan dioercaya untuk mampu menata air dan pertanian, Utsman Ibn Affan didorong dan dipercaya untuk mengatur pasar dan pengendalian perdagangan serta Ali Ibn Abi Thalib Ra didorong dan dipercaya untuk mengurus sistem administrasi dan birokrasi.

Ketika sampai di Madinah keempat sahabat tersebut segera menempati posisi seperti yang disiapkan dan direncanakan, atas dasar itulah capaian membangun new normal peradaban di Madinah dapat mencapai kemajuan secara pesat.

BACA JUGA :  PKB Kota Medan Minta Pemko Bantu Pesantren Saat New Normal

Namun penting diingat bahwa goal dari hijrah yang dilakukan Rasul dan para sahabat bukanlah sebatas perolehan kehidupan yang lebih stabil dan lebih baik dari sebelumnya, melainkan dalam rangka melanjutkan usaha dakwah yang mesti segera diejawantahkan dalam bentuk realisasi tugas-tugas ke khakifaan (khalifatullah fil arďhi) yakni membangun, mengelola dan memelihara buki dan isinya.

Karenanya, ketika suasana di Madinah telah terkendali, maka segera saja Rasulullah merumuskan strategi untuk kembali ke Makkah — bukan dalam konteks pulang kampung— bukan pula karena kehendak atau nafsu berkuasa melainkan oleh pentingnya posisi Makkah sebagai pusat Peradaban Dunia dan karena padanya terdapat Ka’bah sebagai simbol ketauhidan di bumi.

Melanjutkan usaha dakwah ke Makkah dapat diwujudkan bahkan tanpa perang dan tanpa pertumpahan darah, melainkan  dengan gencatan senjata penyerahan diri dan perdamaian. Situasi ini tidaklah muncul secara instan, melainkan merupakan buah dari kemampuan Rasulullah menjadikan Madinah sebagai pusat perdagangan sehingga seluruh kota di sekitarnya termasuk Makkah memiliki ketergantungan yang kuat terhadap Madinah.

Madinah saat itu menjadi kota pengendali komiditi, pasar dan harga atau keuamgan, yang membuat Makkah tidak memiliki daya tawar dan bergaining yang seterusnya memaksa Makkah harus tunduk pada permintaan dan keinginan Madinah—-secara stratag inilah sebenarnya yang mendorong terjadinya futuh al-Makkah.

Penutup

Demikianlah Rasulullah menjalankan dakwahnya dengan perencanaan yang disusun secara berkesinambungan dengan ultimate goalnya adalah ridhà dan cinta Allah SWT. Karenanya, keputusan menjadikan ridhà dan cinta Allah dan Rasul sebagai tujuan akhir dari setiap aksi dalam kehidupan akan menjadikan pergerakan kita sangat efektif serta progresif.

Capaian-capaian antara yang diperoleh dan sesungguhnya layak dipuji dan dibanggakan, tidak menjadikan Rasul berhenti dari melanjutkan misi dakwah peradaban sebagaimana yang direncanakannya, bahkan dipandangnya sebatas susunan anak tangga yang harus didaki hingga bertemu dengan tujuan akhir yakni “radhiya Allàhu ànhum wa rhadù ànhu”.** msj

 

** Penulis adalah Dosen Filsafat FUSI UIN Sumatera Utara **

945 total views, 12 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *