Layanan PAUD Masa Pandemi Covid-19

Rosnani. (foto/msj)

Oleh : Rosnani

 

Pendidikan merupakan hak setiap warga Negara, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 31 UUD 1945. Pendidikan memiliki andil penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Pendidikan dimulai sejak anak berusia dini, baik secara formal maupun informal. Jika sejak usia dini anak telah dibekali dengan nilai-nilai baik sebagaimana diperoleh dari pendidikan. Seiring dengan itu, anak akan mampu mengenali potensi dirinya dan mampu mengembangkannya di masa mendatang untuk kemajuan bangsa.

Lantas apa PAUD itu? PAUD adalah lembaga pendidikan bagi anak usia dini yakni tingkat TK, KB, RA, atau bentuk lain yang sederajat. Hal ini dituangkan dalam Pasal 28 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Melalui PAUD, anak diberikan rangsangan pendidikan untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohaninya agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan dasar dan kelak di tahap berikutnya.

Dalam kondisi ini, maka sangat penting memaksimalkan perkembangan otak anak usia dini. Karena mereka sedang berada pada masa keemasan (golden age). Pada masa inilah otak anak mengalami perkembangan paling cepat sepanjang sejarah kehidupannya. Perkembangan anak pada masa ini, merupakan penentu bagi perkembangan selanjutnya, Tak heran, banyak orangtua yang berupaya memberikan yang terbaik bagi anaknya saat memasuki masa keemasan ini, salah satunya dengan menyekolahkannya melalui lembaga PAUD. Orangtua menaruh harapan besar pada para tenaga pendidik untuk membantu tumbuh kembang anaknya, baik dari segi kognitif, fisik, bahasa, sosial, dan emosional anak.

Di balik harapan para orangtua, nyatanya saat ini mereka harus beradaptasi dengan keadaan baru. Pandemi global yang saat ini menyerang 216 negara, telah mengubah semuanya. Multi sektor mengalami dampak, tak terkecuali pada sektor pendidikan. Pendidikan di Indonesia pun telah masuk ke dalam “gerbang” tantangan dan polemik baru. Demi menekan angka penyebaran Covid-19, Pemerintah tengah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagaimana diatur dalam PP No. 21 Tahun 2020. Sementara itu, detail teknis dan syarat-syarat mengenai PSBB dituangkan dalam Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Salah satu hal yang dapat disoroti dalam pemberlakuan PSBB dan dampaknya terhadap pendidikan adalah peliburan sekolah dan mengganti sistem pembelajaran menjadi berbasis daring (online) guna mematuhi social distancing.

BACA JUGA :  Transfer Knowledge Guru di Era Covid-19

Lantas bagaimana dengan pendidikan anak usia dini? Pandemi membuat para guru dan murid tak bisa bertatap muka secara langsung. Hal ini tentu cukup menyulitkan bagi guru, orangtua, dan anak-anak. Istilah PAUD From Home dapat disebut saat ini. Libur kali ini memberikan kesempatan yang luas bagi anak untuk memperoleh pendidikan informal dari keluarga. Karena peliburan sekolah bukan berarti “peliburan belajar”, sekolah juga wajib memastikan bahwa hak peserta didik tetap terpenuhi.

Pada dasarnya, kegiatan belajar di PAUD menerapkan konsep “bermain sambil belajar”. Bermain memiliki pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak. Dengan demikian, “distribusi tugas” bukanlah proses belajar yang cocok dan bijak jika diterapkan kepada peserta didik PAUD. Disinilah inovasi dan kreativitas guru dan orangtua diuji, dimana mereka memegang “kunci” dalam menentukan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dari rumah di tengah pandemi.

PAUD yang diselenggarakan harus dapat mengakomodir semua aspek tumbuh dan kembang anak dalam suasana yang menyenangkan dan menimbulkan minat anak. Dalam pembelajaran berbasis online, guru dapat memberikan konten pembelajaran yang menarik, seperti video, cerita bergambar, dan sebagainya. Setelah itu, guru tak boleh “lepas tangan” dan membiarkan anak didiknya begitu saja.

Pertama para guru tetap mengawasi kegiatan bermain dan belajar yang dilakukan para siswa PAUD melalui komunikasi yang terjalin dengan orangtua. Hal ini dilakukan misalnya dengan membuat grup WhatsApp yang beranggotakan orangtua dan guru, sehingga pemantauan dan pendampingan dapat berjalan dengan optimal. Melalui grup tersebut, guru juga bisa mengedukasi orangtua bagaimana cara bermain anak yang edukatif serta orangtua dapat berbagi pengalaman bagaimana keseharian anak-anak dalam belajar. Di sini sharing antar orangtua dan guru diharapkan dapat terjadi intensif demi hasil yang maksimal.

Kedua sejatinya, PAUD From Home ini kembali menekankan pendekatan dan kedekatan anak kepada orang tua. Orangtua adalah garda terdepan untuk mengenalkan anak tentang dunia dan hal-hal didalamnya. Orangtua harus mengawasi dan mendidik anak dengan cara yang menyenangkan, sebagaimana didapatkan anak di sekolah. Dalam penggunaan smartphone pun harus didampingi, anak harus dipastikan membuka konten edukatif sesuai bimbingan orangtua, dan jangan membiarkan anak bermain game sesuka hati.

Orangtua juga perlu aktif dan kreatif dalam memberikan pendidikan anak. Tujuannya untuk menstimulus anak bermain sambil belajar dan berkreatifitas seperti saat di sekolah. Hal menarik seperti bermain bersama, membuat prakarya, menceritakan dongeng, dan menyanyi patut diterapkan guna meningkatkan aspek kognitif, motorik, afeksi, spiritual, intelektual, dan sebagainya.

BACA JUGA :  Lain Syariah, Lain Fikih

Ketiga, di tengah pandemi, “bersahabat” dengan teknologi adalah hal yang harus kita lakukan. Tidak mungkin kita menjauhkan teknologi untuk mencetak generasi unggul di era digital ini. Kini tak hanya pelajaran bagi siswa jenjang menengah saja yang dapat diakses dalam berbagai platform dan aplikasi, PAUD pun bisa. Beragam aplikasi belajar, seperti Anggun PAUD, Sahabat Keluarga, Rumah Belajar, dan lainnya dapat digunakan oleh orangtua dalam mengedukasi anak.

Konten dalam aplikasi pun berfokus untuk memperlengkapi anak dengan keterampilan membaca, menulis, berhitung, dan budi pekerti yang selaras. Siaran televisi pun turut berpartisipasi memberikan program edukasi bagi anak-anak Indonesia, sebagaimana Program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI. Rasanya berbagai alur ini terasa mulus dan ideal. Hal ini tentu sangat mudah jika didukung oleh orangtua dengan jalan menyediakan perangkat dan pengetahuan teknologi yang mumpuni.

Anak adalah aset negara yang sangat berharga. Darinya, Indonesia dapat menghadapi tantangan global di masa mendatang. Namun semua itu tergantung tangan-tangan kita saat ini dalam mempersiapkan mereka. SDM ini harus dipersiapkan jauh-jauh hari dengan memberikan perhatian yang besar pada pendidikan yang diterimanya sejak usia dini. Halangan, rintangan, tantangan, tidak mungkin tak muncul ke permukaan.

Saat inilah buktinya. di tengah merebaknya virus yang membahayakan ini, lantas apakah kita hanya berdiam diri membiarkan hak anak dirampas oleh makhluk yang bahkan tak terlihat? Menutup mata dan tak mau tau akan nasib anak-anak kita? Mari saling bergandengan tangan. Terwujudnya pendidikan berkualitas untuk anak usia dini di masa sulit ini membutuhkan tangan dari berbagai elemen. Prinsip yang perlu diingat adalah anak usia dini harus bahagia dalam belajar dan utamakan keselamatannya di tengah pandemi. Semoga para anak “emas” kita dapat terus tumbuh dan berkembang dengan baik serta pandemi ini segera berakhir. Indonesia bisa. ** msj

 

** Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Din FITK UINSUi, peserta KKN-DR 2020 Kelompok 119 **  

2,115 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *