Menilik Potensi Wisata Kerukunan Sebagai Penyangga Kawasan Danau Toba

Solah

Oleh Dr Salahuddin Harahap MA

SEBAGAI danau terbesar kedua di dunia, terang saja Danau Toba memiliki potensi dan daya tarik yang cukup tinggi sebagai destinasi wisata kelas dunia. Fakta ini juga lah yang telah menjadi bagian dari alasan Pemerintah RI dalam memutuskan Pengembangan Otorita Danau Toba sebagai salah satu dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP) yang diusung pemerintah.

Menarik, ketika ditilik bahwa ternyata terdapat potensi wisata kearifan lokal bahkan wisata riligi yang cukup kaya menyangga kawasan otorita Danau Toba, dan diduga akan menambah daya tarik dan daya jual Danau Toba sebagai destinasi wisata prioritas. Disebut begitu, karena perpaduan keindahan alam kawasan danau toba dengan kekayaan kearifan lokal yang ada akan dapat menarik sekaligus minat turis pencari keindahan alam dan pencari kekayaan khazanah budaya dan spiritual.

Korelatif terhadap hal ini, pada berbagai negara maju di Eropa dan Barat terdapat kecenderungan sebagian masyarakat pasca modern, dimana kebutuhannya untuk berdarma wisata bukan hanya karena kepenatan fisik dan pikiran akibat kesibukan beraktivitas, bekerja dan berfikir, tetapi juga disebabkan kepenatan sosial, kepenatan teologis bahkan kepenatan spiritual.

Fenomena yang mirip telah tampak pada semakin tingginya minat masyarakat kita dalam memilih destinasi wisata yang mengandung dimensi budaya, religi dan spiritual ketimbang yang an sich menawarkan keindahan alam.

Atas dasar itulah, maka dalam konteks masa depan pengembangan pariwisata atau “future rourism industry” perlu mempertimbangkan pengintegrasian potensi keindahan dan kekayaan alam dengan potensi dan kekayaan budaya, kearifan lokal, agama dan spiritualitas termasuk dalam konteks pembangunan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata ungulan Indonesia di masa mendatang.

Danau Toba Disangga Kearifan Budaya dan Agama

Salah satu tantangan terberat dalam pengembangan kawasan Danau Toba sebagai wisata unggulan tingkat dunia adalah, masih rendahnya kesadaran pariwisata (tourism awarness) masyarakat sekitar. Yakni suatu kesadaran bahwa pariwisata itu adalah suatu usaha yang meliputi pemberdayaan ekonomi, sosial budaya serta alam dan lingkungan untuk dapat menarik minat para wisatawan.

Masyarakat sekitar Danau Toba yang mayoritas bersuku Batak Toba, sesungguhnya memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang amat kaya. Namun, dapat diduga bahwa kekayaan budaya dan kearifan tersebut belum sepenuhnya dapat diintegrasikan dengan potensi alamnya sehingga dapat menjadi menyokong dalam menarik minat wistawan.

BACA JUGA :  Perangkap Politik Dinasti

Dibutuhkan adanya perpaduan kesadaran budaya, kearifan lokal serta kesadaran lingkungan sekaligus di kalangan masyarakat sekitar Danau Toba, agar wisatawan yang hadir tidak hanya disuguhi kenyamanan dan keindahan fanorama alam kawasan Danau Toba, tetapi juga dilengkapi dengan kenyamanan ekologis, ekonomis, psikologis, sosiologis bahkan juga kenyamanan teologis dan spiritualitas.

Sebenarnya terdapat sejumlah potensi yang dapat digunakan sebagai penyangga Danau Toba agar dapat menjadi destinasi wisata yang integratif. Yaitu kawasan wisata yang dapat menghadirkan kenyamanan dan keindahan alam, budaya, kearifan lokal serta religisitas dan spiritualitas sekaligus.

Potensi tersebut adalah Salib Kasih Tarutung Tapanuli Utara yang diduga telah memiliki nilai historis bahkan sinkretis terhadap agama, budaya, kearifan lokal bahkan dengan alam Tarutung yang merupakan wilayah penyangga Kawasan Danau Toba.

Kalau saja Kawasan Salib Kasih ini dapat integrasikan sebagai destinasi penyangga terhadap Danau Toba, maka sangat dimungkinkan bagi para wisatawan terutama penganut Kristiani akan memperoleh rekreasi religi dan spiritual disamping rekreasi keindahan alam yang didapati di Danau Toba.

Potensi lain adalah Kota Barus di Tapanuli Tengah yang padanya terdapat sejumlah jejak dan peninggalan budaya dan agama terutama Islam. Sejumlah makam Wali di sekitar Mahligai telah memiliki nilai dan kesan historis dan sinkretis tersendiri bagi Umat Islam Indonesia, terlebih ketika Presiden RI Joko Widodo telah sempat menetapkan wilayah ini sebagai Titik Nol Islam masuk di Nusantara.

Destinasi wisata religi dan spiritual ini diduga akan dapat memperkuat daya tarik bagi Danau Toba jika dapat dijadikan sebagai penyangga Kawasan Wisata Danau Toba. Keberadaannya tidak hanya menarik bagi pelancong, tetapi juga bagi para ilmuwan, budayawan dan arkeolog, yang itu jelas saja akan memperkaya daya tarik Danau Toba sendiri.

Potensi lainnya yang tidak kalah penting adalah destinasi berupa artepak kerukunan umat beragama. Tim Penemu Situs ini memberi nama Situs Bongal, tepatnya di Desa Jago-jago Kecamatan Badiri Tapanuli Tengah. Berdasarkan hasil kajian dan uji artefak, dapat diduga bahwa terdapat peninggalan Rumah Ibadah serta Simbol-simbol sejumlah agama yang ada di Nusantara telah pernah dibangun secara terintegrasi di kawasan ini. Hal ini sekaligus telah mengindikasikan bahwa pernah terbangun suatu sistem kehidupan sosial masyarakat kita, dimana semua agama dengan berbagai simbolnya dapat berdiri berdampingan dan berlangsung harmoni di masa itu.

BACA JUGA :  Beragama : Wasathiyah Vs Moderasi

Bisa dibayangkan, sekiranya situs penting ini dapat dijadikan sebagai penyangga Kawasan Danau Toba, maka keindahan alam Danau Toba akan diperkaya dengan situs kerukunan yang dapat diduga tertua dan terbesar, setidaknya di Asia Tenggara bahkan juga di Dunia.

Mengintegrasikan situs ini sebagai bagian dari penyagga Kawasan Wisata Danau Toba, diduga akan merubah wajah serta meningkatkan daya tarik destinasi wisata Danau Toba dari tidak sekadar Danau terbesar kedua di Dunia, tetapi juga padanya ada situs Kerukunan Umat Beragama terbaik dan tertua.

Keberadaan tiga potensi ini sebagai penyangga Kawasan Wisata Danau Toba, diduga akan dapat menguatkan posisi sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia bahkan Dunia.

Lebih jauh, perpaduan tiga destinasi penyangga ini diyakini dapat mewadahi dinamika masyarakat yang lebih plural, yang selanjutnya dapat mendorong terjadinya kompetisi yang sehat dalam rangka peningkatan kesadaran pariwisata (tourims awarness) termasuk bagi masyarakat di sekitar Danau Toba sendiri.

Penutup

Kesadaran Wisata (toursm awarness) masyarakat merupakan modal penting bagi upaya pengembangan suatu destinasi wisata, disamping potensi kekayaan alam yang ada. Keindahan alam akan mudah kabur jika tanpa kesadaran masyarakat dalam menjaga, memelihara bahkan mencintaimya. Bahkan dalam konteks Teologi Lingkungan dapat dikatakan bahwa “Memelihara dan Mencintai Keindahan Alam adalah Sebagian dari Iman”.

Daya tarik keindahan alam akan terasa hambar jika tanpa adanya kenyamanan budaya, berupa ramah-tamah dan keterbukaan masyarakat sekitar destinasi. Lebih jauh, daya tarik keindahan alam akan terasa menjadi lebih komprehensif jika dengan mengunjunginya seseorang tidak hanya terpuaskan secara indra, tetapi juga secara akal, teologis maupun spiritual. Karena itulah, mempertimbangkan untuk memasukkan ketiga destinasi di atas sebagai penyangga Kawasan Wisata Danau Toba dipandang penting dan sangat beralasan.

(Penulis adalah Ketua DPP Gerakan Dakwah Kerukunan & Kebangsaan (GDKK) – Ketua Lembaga Survei & Sosialisasi (LSS) UIN Sumatera Utara)

579 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *