Dari Kebangkitan Tanah Air, Perjuangan Kemerdekaan, Pencerdasan Bangsa, hingga Merawat Indonesia yang Inklusif
Oleh: Leriadi, S.Sos.
Wakil Ketua Umum DPP AMPI
Wakil Sekretaris Eksekutif Balitbang DPP Partai Golkar
ADA ORGANISASI yang lahir setelah sebuah negara berdiri. Ada pula organisasi yang tumbuh, berkembang, dan mengambil bagian dalam proses panjang perjalanan bangsa menuju kemerdekaan dan pembentukan negara. Nahdlatul Ulama (NU) termasuk dalam kategori kedua.
Memahami NU, karena itu, tidak cukup hanya dengan melihatnya sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang didirikan pada 31 Januari 1926. Sejarah dan akar pemikiran NU sesungguhnya jauh lebih panjang daripada usia organisasinya. NU tumbuh dari tradisi ulama dan pesantren Nusantara, dari semangat mempertahankan martabat masyarakat di tengah kolonialisme, dari perjuangan mencerdaskan rakyat, serta dari keyakinan bahwa agama harus menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat.
Sejak awal, terdapat pula keyakinan kuat bahwa Islam dan kebangsaan Indonesia bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Dalam perjalanan panjangnya, NU telah melewati berbagai fase sejarah. NU pernah menjadi kekuatan pendidikan, bagian penting dari perjuangan kemerdekaan, peserta dalam dinamika politik nasional, penggerak masyarakat sipil, sekaligus salah satu sumber penting pemikiran Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berakar kuat pada tradisi.
Karena itu, sejarah NU pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Indonesia.
I. Akar Sejarah NU: Dari Pesantren Menuju Kesadaran Kebangsaan
Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, pesantren telah menjadi salah satu institusi sosial dan intelektual terpenting di Nusantara.
Pesantren bukan sekadar tempat mempelajari agama. Di dalamnya, masyarakat mempelajari Al-Qur’an, hadis, fikih, dan akhlak, sekaligus ditempa melalui kehidupan yang menanamkan disiplin, kemandirian, kepemimpinan, kebersamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam situasi kolonial, pesantren juga menjadi ruang penting untuk mempertahankan identitas, martabat, dan daya tahan masyarakat pribumi. Kesadaran keagamaan yang tumbuh di lingkungan pesantren secara perlahan berkembang menjadi kesadaran sosial dan kebangsaan.
Pada awal abad ke-20, sejumlah ulama mendirikan berbagai organisasi yang kemudian menjadi bagian penting dari embrio pemikiran dan gerakan NU. Nahdlatul Wathan atau Kebangkitan Tanah Air lahir pada 1916. Kemudian berkembang Taswirul Afkar atau Kebangkitan Pemikiran pada 1918, disusul Nahdlatut Tujjar yang menjadi wadah kebangkitan dan penguatan ekonomi kaum pedagang.
Perkembangan tersebut menunjukkan satu kesadaran yang sangat mendasar: kebangkitan masyarakat tidak cukup hanya melalui dakwah keagamaan. Bangsa juga membutuhkan pendidikan, pemikiran, dan kekuatan ekonomi.
Sejak awal telah tumbuh kesadaran mengenai tiga unsur penting pembangunan masyarakat, yakni agama, ilmu pengetahuan, dan kemandirian sosial-ekonomi. Kesadaran inilah yang kemudian menemukan bentuk organisasinya dalam Nahdlatul Ulama.
II. Kelahiran Nahdlatul Ulama pada 1926
Pada 31 Januari 1926, para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama di Surabaya. KH Hasyim Asy’ari menjadi salah satu tokoh sentral bersama KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, serta jaringan ulama dan pesantren lainnya.
NU lahir sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah, yaitu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.
Makna tersebut sangat penting. Agama tidak semata-mata dipahami sebagai hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga sebagai landasan tanggung jawab manusia terhadap sesama dan kehidupan sosialnya.
Karena itu, perjuangan NU sejak awal tidak berhenti pada persoalan ibadah. Perhatian NU mencakup pendidikan, kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan, serta persoalan kebangsaan.
NU tumbuh di sebuah negeri yang ketika itu belum merdeka. Oleh sebab itu, pertanyaan besar yang dihadapi para ulama bukan hanya bagaimana umat dapat menjalankan agamanya dengan baik, tetapi juga bagaimana umat dapat hidup bermartabat di tanah airnya sendiri.
III. Pendidikan: Mencerdaskan Rakyat Sebelum Republik Berdiri
Salah satu jasa terbesar NU bagi Indonesia adalah kontribusinya dalam bidang pendidikan.
Jauh sebelum negara memiliki sistem pendidikan nasional yang terorganisasi seperti saat ini, pesantren telah menjalankan fungsi penting dalam mencerdaskan masyarakat. Pesantren menjadi salah satu bentuk pendidikan rakyat yang mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan kolonialisme.
Seiring perkembangan zaman, NU membangun dan memperkuat jaringan pendidikan melalui madrasah, sekolah, dan berbagai lembaga yang kemudian berkembang dalam wadah LP Ma’arif NU.
Misi pendidikan tersebut jauh lebih luas daripada sekadar mencetak orang yang menguasai ilmu agama. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, mandiri, dan berguna bagi masyarakat.
Dalam tradisi pendidikan NU, ilmu tidak dimaksudkan untuk melahirkan kesombongan intelektual. Ilmu harus berujung pada pengabdian.
Inilah salah satu warisan penting pesantren bagi Indonesia. Bangsa tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter.
Dalam konteks itulah pendidikan pesantren sesungguhnya telah memainkan peran sebagai salah satu instrumen pembangunan bangsa jauh sebelum konsep nation building dikenal secara luas.
IV. Tradisi Keilmuan: Menjaga Warisan, Menjawab Perubahan
Salah satu kekuatan utama NU terletak pada kemampuannya menjaga hubungan antara tradisi dan perubahan.
Tradisi keilmuan NU mengenal prinsip: al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah.
(Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik).
Prinsip ini memiliki relevansi yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Modernisasi tidak harus berarti membuang tradisi. Sebaliknya, mempertahankan tradisi tidak berarti menolak kemajuan.
NU menunjukkan bahwa agama dapat tetap memiliki akar tradisional sekaligus mampu berdialog dengan modernitas. Tradisi pesantren juga mengenal kekayaan perbedaan pendapat di antara para ulama. Karena itu, perbedaan tidak selalu dipandang sebagai ancaman, melainkan dapat menjadi bagian dari proses pencarian kebenaran.
Dari sinilah tumbuh salah satu karakter penting pemikiran NU: inklusivitas intelektual.
V. NU dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Ketika bangsa Indonesia memasuki periode perjuangan kemerdekaan, NU tidak berdiri di luar arus sejarah. Para ulama dan santri mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan tanah air dan kemerdekaan bangsa.
Salah satu momentum paling penting terjadi pada Oktober 1945. Ketika kemerdekaan Republik Indonesia menghadapi ancaman kembalinya kekuatan kolonial, para ulama NU berkumpul di Surabaya.
Pada 22 Oktober 1945 lahirlah Resolusi Jihad, yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan membela Republik Indonesia.
Seruan tersebut memberikan dorongan besar bagi mobilisasi masyarakat dan santri. Hizbullah, Sabilillah, para santri, dan rakyat bergerak bersama berbagai kekuatan perjuangan lainnya menghadapi ancaman kolonial.
Beberapa minggu kemudian, pecahlah Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Karena itu, sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama dan santri. Resolusi Jihad menjadi salah satu manifestasi penting bahwa bagi NU, mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar persoalan politik, tetapi juga tanggung jawab moral dan keagamaan.
Dari semangat itulah tumbuh dan menguat nilai hubbul wathan minal iman, bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari nilai keimanan.
VI. Dari Memperjuangkan Kemerdekaan Menuju Mengisi Kemerdekaan
Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir.
Setelah Republik Indonesia berdiri, tantangan bangsa berubah. Jika pada masa kolonial perjuangan utama adalah membebaskan bangsa dari penjajahan, maka setelah kemerdekaan perjuangan bergeser pada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana menjadikan kemerdekaan benar-benar menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat?
NU kemudian berkontribusi melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Perjuangan pun mengalami transformasi: dari medan perang menuju medan pembangunan manusia, dari senjata menuju sekolah, dari pertempuran menuju pendidikan, serta dari mempertahankan wilayah menuju membangun kualitas manusia.
Di sinilah makna pengabdian NU kepada Indonesia terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
VII. Dinamika Politik dan Kembali kepada Khittah 1926
Perjalanan NU tidak selalu berada di luar politik. Pada 1952, NU menjadi partai politik dan kemudian berpartisipasi dalam Pemilu 1955. Dalam periode tersebut, NU memainkan peran penting dalam kehidupan politik Indonesia.
Namun, pengalaman panjang tersebut kemudian melahirkan refleksi mendalam mengenai hubungan antara agama, organisasi masyarakat, dan kekuasaan.
Pada Muktamar Situbondo 1984, NU memutuskan untuk kembali kepada Khittah 1926. Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah NU.
NU kembali menegaskan dirinya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah. Artinya, NU tidak harus menjadikan perebutan kekuasaan sebagai pusat eksistensinya untuk dapat memberikan kontribusi bagi bangsa.
Kekuatan NU justru dapat dikembangkan melalui penguatan masyarakat, pendidikan, pesantren, dakwah, kebudayaan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan, dan penguatan masyarakat sipil.
Politik tetap menjadi bagian dari kehidupan warga NU sebagai warga negara. Namun, organisasi tidak harus menjadikan perebutan kekuasaan sebagai orientasi utamanya.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi demokrasi Indonesia: masyarakat yang kuat tidak selalu harus menjadi negara. Negara membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, mandiri, dan memiliki keberanian moral untuk menyuarakan kepentingan rakyat.
VIII. NU, Pancasila, dan NKRI
Salah satu kontribusi penting NU terhadap konsolidasi kebangsaan Indonesia adalah penerimaannya terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi NU, Indonesia adalah rumah bersama. Indonesia terdiri atas berbagai agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi. Karena itu, negara tidak boleh menjadi milik satu kelompok.
Pancasila menjadi titik temu kebangsaan yang memungkinkan berbagai kelompok hidup bersama tanpa harus menghapus identitas masing-masing.
Dalam perspektif ini, nasionalisme Indonesia tidak bertentangan dengan Islam. Seorang Muslim dapat menjadi pribadi yang taat sekaligus warga negara yang mencintai tanah airnya.
Agama memberikan nilai moral. Pancasila memberikan titik temu kebangsaan. Konstitusi memberikan kerangka kehidupan bernegara. Sementara masyarakat sipil menjadi salah satu kekuatan yang menjaga agar negara tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
Inilah salah satu sumbangan pemikiran NU terhadap pembangunan Indonesia modern.
IX. Gus Dur dan Perluasan Cakrawala Pemikiran NU
Dalam sejarah pemikiran NU modern, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran sangat penting.
Gus Dur membawa tradisi pesantren ke dalam dialog dengan berbagai persoalan modern, seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, kebebasan berpikir, kebudayaan, negara, dan hubungan antaragama.
Ia menunjukkan bahwa menjadi Muslim tidak berarti harus menjadi eksklusif. Seseorang dapat memiliki keyakinan agama yang kuat sekaligus menghormati hak orang lain yang berbeda.
Gagasan tentang pribumisasi Islam juga memperlihatkan bahwa Islam dapat berinteraksi secara kreatif dengan kebudayaan lokal. Islam tidak harus kehilangan identitasnya ketika berdialog dengan budaya. Demikian pula, kebudayaan Indonesia tidak harus ditolak hanya karena tidak berasal dari tradisi Arab.
Pemikiran semacam ini memperkuat karakter Islam Indonesia sebagai Islam yang religius tetapi terbuka, berprinsip tetapi toleran, serta berakar pada tradisi namun mampu berdialog dengan modernitas.
X. NU dan Pembentukan Karakter Bangsa
Jika pendidikan adalah proses mencerdaskan bangsa, maka pendidikan pesantren memiliki fungsi yang lebih dalam, yakni membentuk karakter manusia.
Dalam kehidupan pesantren, santri tidak hanya diajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana harus hidup: menghormati guru, menghargai ilmu, hidup sederhana, disiplin, bekerja sama, mandiri, menghormati orang lain, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.
Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting bagi bangsa.
Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena memiliki teknologi dan modal. Bangsa yang maju membutuhkan manusia yang memiliki integritas.
Kontribusi NU dalam pembentukan karakter bangsa, karena itu, sesungguhnya jauh lebih luas daripada jumlah sekolah dan pesantren yang dimilikinya. Kontribusi tersebut hidup dalam sebuah tradisi pendidikan yang menghubungkan:
ilmu → iman → akhlak → tanggung jawab sosial → pengabdian.
XI. NU dan Islam yang Inklusif
Indonesia adalah negara yang sangat majemuk. Dalam kondisi seperti itu, agama tidak dapat hanya menjadi sumber identitas kelompok. Agama harus menjadi sumber etika dalam kehidupan bersama.
Tradisi NU memiliki modal intelektual dan nilai yang kuat untuk memainkan peran tersebut, antara lain:
Tawassuth, yaitu mengambil jalan tengah;
Tawazun, yaitu menjaga keseimbangan;
Tasamuh, yaitu toleransi;
I’tidal, yaitu sikap adil dan tegak lurus.
Nilai-nilai tersebut memungkinkan seseorang memegang keyakinannya secara teguh tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain.
Inklusif bukan berarti kehilangan prinsip. Inklusif berarti mampu hidup bersama dengan orang yang berbeda tanpa kehilangan identitas sendiri.
Dengan demikian, NU telah memberikan contoh bahwa kesalehan pribadi dapat berjalan bersama tanggung jawab sosial; Islam dapat berjalan bersama demokrasi; religiusitas dapat berjalan bersama penghormatan terhadap kemajemukan; dan nasionalisme dapat berjalan seiring dengan keislaman.
XII. NU sebagai Kekuatan Masyarakat Sipil
Dalam perjalanan sejarahnya, NU berkembang menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di Indonesia.
Jaringannya mencakup pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, koperasi, organisasi perempuan, organisasi pemuda, lembaga dakwah, serta berbagai institusi kemasyarakatan lainnya.
Kekuatan tersebut memiliki arti strategis. Negara tidak mungkin mengurus seluruh persoalan masyarakat sendirian. Karena itu, negara membutuhkan masyarakat sipil yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab.
Dalam konteks inilah NU memiliki posisi penting sebagai jembatan antara agama dan masyarakat, tradisi dan modernitas, rakyat dan negara, serta identitas keagamaan dan identitas kebangsaan.
XIII. Dari 1926 Menuju 2045: Tantangan Baru Pengabdian NU
Memasuki usia satu abad, NU menghadapi tantangan yang sangat berbeda dibandingkan masa para pendirinya.
Pada 1926, tantangan utama adalah kolonialisme. Pada 1945, tantangannya adalah mempertahankan kemerdekaan. Pada masa-masa berikutnya, tantangannya adalah membangun negara dan memperkuat masyarakat.
Kini Indonesia menghadapi tantangan baru, antara lain disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), perubahan geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, perubahan demografi, ekstremisme, fragmentasi sosial, serta kompetisi global.
Karena itu, pengabdian NU kepada bangsa harus terus berevolusi.
Pesantren perlu berkembang menjadi pusat keunggulan ilmu. Pendidikan NU harus mampu menguasai sains, teknologi, dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan fondasi akhlak.
Generasi muda NU harus mampu tampil sebagai ilmuwan, teknokrat, pengusaha, profesional, dan pemimpin global.
Ekonomi umat perlu berkembang dari sekadar ekonomi bertahan hidup menuju ekonomi yang produktif, inovatif, dan kompetitif.
Sementara itu, tradisi inklusif NU harus terus menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan Indonesia.
XIV. Dari Hubbul Wathan Menuju Pembangunan Manusia Indonesia
Jika generasi pendiri NU memberikan pelajaran bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan, maka generasi hari ini memiliki tugas untuk menerjemahkan cinta tanah air ke dalam bentuk pengabdian yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Cinta tanah air pada abad ke-21 berarti menciptakan ilmu pengetahuan, membangun teknologi, menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, menjaga lingkungan, melawan korupsi, membangun institusi yang bersih, dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat serta bermartabat di dunia.
Dengan demikian, pengabdian kepada bangsa tidak boleh berhenti pada simbol. Pengabdian harus menghasilkan kemajuan nyata bagi rakyat.
XV. NU dan Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 membutuhkan lebih daripada sekadar pertumbuhan ekonomi.
Indonesia membutuhkan manusia yang cerdas tetapi berkarakter; religius tetapi inklusif; nasionalis tetapi terbuka terhadap dunia; modern tetapi tidak kehilangan akar budaya; kompetitif tetapi tetap memiliki solidaritas sosial.
Dalam konteks inilah warisan sejarah NU menjadi sangat relevan.
NU memiliki pengalaman panjang dalam menghubungkan agama dengan kebangsaan, pendidikan dengan karakter, tradisi dengan modernitas, identitas dengan inklusivitas, serta masyarakat dengan negara.
Warisan tersebut bukan hanya milik warga NU. Ia merupakan bagian dari kekayaan intelektual dan sosial bangsa Indonesia.
XVI. Harapan Masyarakat Indonesia yang Majemuk kepada NU
Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk, kami memandang perjalanan Nahdlatul Ulama bukan semata-mata sebagai perjalanan sebuah organisasi keagamaan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.
Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun di atas keberagaman. Di dalamnya hidup berbagai agama dan kepercayaan, suku, etnis, bahasa, budaya, tradisi, serta beragam pandangan politik dan pemikiran.
Karena itu, Indonesia membutuhkan kekuatan-kekuatan sosial yang mampu menjadi perekat, bukan pemisah; menjadi jembatan, bukan tembok; serta menjadi sumber kesejukan, bukan sumber pertentangan.
Dalam konteks itulah kami menaruh harapan kepada NU.
Harapan tersebut bukan karena NU harus menjadi wakil seluruh masyarakat Indonesia, melainkan karena sejarah NU telah memberikan contoh bahwa kecintaan kepada agama dapat berjalan bersama kecintaan kepada tanah air, dan kekuatan keagamaan dapat diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Bangsa dan Negara sebagai Rumah Bersama
Salah satu warisan penting para pendiri NU adalah cara mereka memandang hubungan antara Islam, masyarakat, dan tanah air.
Para ulama pendiri NU menunjukkan bahwa kepentingan kelompok tidak boleh mengalahkan kepentingan bangsa. Ketika kemerdekaan Indonesia terancam, pertanyaan utamanya bukanlah apa keuntungan bagi organisasi, melainkan bagaimana Republik Indonesia harus dipertahankan.
Resolusi Jihad 1945 menjadi salah satu contoh historis yang sangat kuat. Para ulama dan santri bergerak mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan, bukan untuk mendirikan negara bagi satu golongan, melainkan untuk mempertahankan Republik Indonesia.
Di sinilah terdapat pelajaran penting bagi kehidupan kebangsaan hari ini.
Organisasi boleh memiliki kepentingan. Partai politik boleh memiliki kepentingan. Kelompok masyarakat boleh memiliki kepentingan. Namun, seluruh kepentingan tersebut harus menemukan batas akhirnya pada kepentingan yang lebih besar: kepentingan Indonesia.
Dari “Apa untuk Kami?” Menjadi “Apa yang Dapat Kami Berikan untuk Indonesia?”
Inilah semangat yang perlu terus diwariskan dari generasi pendiri NU kepada generasi berikutnya.
Dalam kehidupan berbangsa, pertanyaan yang penting bukan hanya: “Apa yang dapat negara berikan kepada kita?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Apa yang dapat kita berikan kepada negara?”
Bukan hanya: “Apa yang dapat bangsa berikan kepada kelompok kita?”
Tetapi juga: “Apa yang dapat kelompok kita berikan kepada bangsa?”
Inilah makna pengabdian.
Sejarah NU menunjukkan bahwa pengabdian tersebut dapat dilakukan melalui banyak jalan: pendidikan, dakwah, perjuangan kemerdekaan, pelayanan sosial, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pembentukan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, serta perjuangan menjaga persatuan bangsa.
Harapan Pertama: NU Tetap Menjadi Rumah Besar Moderasi Indonesia
Kami berharap NU terus mempertahankan dan mengembangkan tradisi tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.
Di tengah masyarakat yang semakin mudah terpolarisasi, bangsa Indonesia membutuhkan suara yang mampu mengingatkan bahwa berbeda tidak berarti bermusuhan; perbedaan agama tidak harus melahirkan kebencian; perbedaan politik tidak harus menghancurkan persaudaraan; dan perbedaan pilihan tidak harus menghapus rasa sebangsa.
NU diharapkan tetap menjadi salah satu kekuatan yang menjaga ruang tengah bangsa. Bukan ruang yang kehilangan prinsip, tetapi ruang yang memungkinkan berbagai kelompok hidup bersama dalam penghormatan, keadilan, dan kedewasaan.
Harapan Kedua: NU Menjadi Penjaga Persatuan Indonesia
Indonesia adalah negara yang besar dan sangat beragam. Keberagaman merupakan kekuatan, tetapi juga dapat menjadi kerentanan apabila dieksploitasi untuk kepentingan politik, ekonomi, atau kekuasaan.
Karena itu, kami berharap NU terus mengambil peran sebagai penjaga kohesi sosial bangsa.
NU memiliki modal sosial yang sangat besar melalui jaringan pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, ulama, kiai, santri, perempuan, pemuda, dan berbagai organisasi sosialnya.
Modal tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk memperkuat organisasi, tetapi juga untuk memperkuat Indonesia.
Harapan Ketiga: Mendahulukan Kepentingan Bangsa di Atas Kepentingan Kekuasaan
Sejarah NU memberikan pelajaran penting bahwa kekuatan sosial-keagamaan tidak harus selalu berada di dalam kekuasaan untuk dapat memberikan pengaruh terhadap arah bangsa.
NU pernah terlibat langsung dalam politik praktis dan pernah menjadi partai politik. Namun, pengalaman sejarah tersebut akhirnya melahirkan keputusan kembali kepada Khittah 1926.
Dari sana dapat dipetik pelajaran bahwa masyarakat sipil yang kuat justru dibutuhkan untuk mengingatkan dan mengimbangi kekuasaan.
Karena itu, kami berharap NU tetap dekat dengan negara tanpa kehilangan independensinya; mampu berdialog dengan pemerintah tanpa kehilangan keberanian untuk memberikan kritik; mendukung kebijakan yang baik, sekaligus berani mengingatkan ketika terjadi penyimpangan.
NU diharapkan tidak menjadi alat kekuasaan, melainkan tetap menjadi mitra kritis yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kekuasaan.
Harapan Keempat: Memimpin Gerakan Pencerdasan Bangsa
Jika dahulu pesantren mencerdaskan masyarakat dalam kondisi kolonial, maka tantangan hari ini jauh lebih kompleks.
Indonesia telah memasuki era kecerdasan buatan, digitalisasi, bioteknologi, ekonomi berbasis pengetahuan, dan kompetisi global.
Karena itu, pesantren dan lembaga pendidikan NU diharapkan tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan, riset, teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan pembentukan manusia unggul Indonesia.
Santri masa depan tidak cukup hanya menguasai khazanah keagamaan. Mereka juga perlu menguasai sains, teknologi, ekonomi, bahasa internasional, digitalisasi, kecerdasan buatan, dan pengetahuan global.
Namun, seluruh penguasaan tersebut harus dibangun di atas fondasi iman, akhlak, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Harapan Kelima: Memperkuat Karakter Bangsa
Indonesia membutuhkan manusia pintar. Namun, Indonesia lebih membutuhkan manusia pintar yang jujur dan berintegritas.
Kita membutuhkan manusia yang berpendidikan tinggi tetapi tidak kehilangan rasa malu ketika melakukan korupsi. Kita membutuhkan pemimpin yang cerdas tetapi tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Kita membutuhkan pengusaha yang sukses tetapi tidak mengeksploitasi masyarakat. Kita membutuhkan birokrat yang profesional tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai sumber keuntungan pribadi.
Dalam hal ini, tradisi pesantren memiliki warisan yang sangat berharga: adab sebelum ilmu, akhlak bersama kecerdasan, dan pengabdian bersama pengetahuan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan terus menjadi bagian dari kontribusi NU dalam membentuk karakter bangsa Indonesia.
Harapan Keenam: Menjadi Jembatan Antaragama dan Antargolongan
Sebagai masyarakat Indonesia yang majemuk, kami berharap NU terus memperkuat dialog antaragama dan antarbudaya.
Bukan dengan meminta setiap orang meninggalkan keyakinannya. Justru sebaliknya, setiap orang dapat tetap teguh memegang keyakinannya sambil mengakui bahwa orang lain juga memiliki hak yang sama untuk hidup, beribadah, dan berkembang.
Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup bersama.
Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk saling menghormati, saling melindungi, saling bekerja sama, dan saling memberikan ruang.
Dalam konteks Indonesia, pemikiran inklusif semacam ini bukanlah kelemahan. Ia merupakan kekuatan strategis bangsa.
Harapan Ketujuh: Menjadi Penjaga Etika Kekuasaan
Bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan ekonomi. Indonesia juga membutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik.
Kita membutuhkan kekuasaan yang jujur, adil, transparan, akuntabel, profesional, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Karena itu, NU diharapkan tidak hanya berbicara tentang kesalehan individu, tetapi juga terus memperjuangkan kesalehan sosial dan etika publik.
Korupsi bukan semata persoalan hukum, tetapi juga persoalan moral. Penyalahgunaan kekuasaan bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Ketidakadilan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan moral dan kemanusiaan.
Suara moral NU akan sangat penting dalam memperjuangkan pemerintahan yang bersih, penegakan hukum yang adil, perlindungan terhadap masyarakat miskin, pemberantasan korupsi, dan penguatan institusi demokrasi.
Harapan Kedelapan: NU Tidak Kehilangan Tradisi Intelektualnya
Kami berharap NU tidak hanya menjadi organisasi besar secara jumlah, tetapi juga besar secara pemikiran.
Bangsa Indonesia membutuhkan ulama yang mampu berdialog dengan ilmuwan, kiai yang memahami persoalan ekonomi dan teknologi, intelektual yang memahami agama, serta generasi muda yang mampu menghubungkan pesantren dengan dunia global.
Karena itu, tradisi bahtsul masail, kajian kitab, dan tradisi intelektual pesantren perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab persoalan abad ke-21.
Pertanyaan yang dihadapi umat dan bangsa kini semakin kompleks: bagaimana etika kecerdasan buatan? Bagaimana masa depan pekerjaan? Bagaimana menghadapi perubahan iklim? Bagaimana ekonomi digital harus diatur? Bagaimana menjaga privasi manusia? Bagaimana menghadapi ketimpangan? Bagaimana etika bioteknologi? Bagaimana hubungan agama dan negara dalam demokrasi modern?
NU memiliki tradisi intelektual yang panjang. Tantangannya adalah membawa tradisi tersebut masuk secara aktif ke dalam perbincangan mengenai masa depan.
XVII. Harapan Terbesar: Tetap Menjadi Kekuatan untuk Indonesia
Pada akhirnya, sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk, harapan kami kepada NU sederhana tetapi mendasar: tetaplah menjadi kekuatan untuk Indonesia.
Jangan biarkan kebesaran organisasi mengalahkan kebesaran bangsa. Jangan biarkan kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan negara. Jangan biarkan politik kekuasaan mengalahkan suara moral. Dan jangan biarkan modernitas membuat kita kehilangan akar nilai dan akhlak.
Warisan terbesar para pendiri NU bukan hanya sebuah organisasi. Warisan terbesar mereka adalah semangat pengabdian.
Ketika bangsa membutuhkan kemerdekaan, mereka hadir. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, mereka membangun pesantren dan madrasah. Ketika masyarakat membutuhkan pembinaan moral, mereka berdakwah. Ketika bangsa menghadapi ancaman, mereka menyerukan pembelaan terhadap tanah air. Dan ketika Indonesia membutuhkan persatuan, mereka ikut menjaga rumah bersama.
Semangat itulah yang harus terus dilanjutkan.
Dari Khazanah NU untuk Seluruh Indonesia
Kami berharap NU tidak hanya menjadi organisasi besar milik warga NU. Kami berharap NU terus menjadi kekuatan moral yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh Indonesia.
Indonesia bukan milik satu organisasi. Indonesia adalah milik seluruh rakyat.
NU memiliki identitas keislamannya. Kelompok lain memiliki identitas dan keyakinannya masing-masing. Namun, di atas seluruh identitas tersebut terdapat satu identitas bersama yang lebih besar: Indonesia.
Di situlah semangat para pendiri NU harus terus ditempatkan.
Islam adalah sumber nilai.
Ilmu adalah sumber daya.
Akhlak adalah fondasi.
Pancasila adalah titik temu kebangsaan.
NKRI adalah rumah bersama.
Dan rakyat Indonesia adalah tujuan pengabdian.
Penutup: Menjaga Warisan, Menjawab Masa Depan
Hampir satu abad perjalanan NU telah menunjukkan bahwa sebuah organisasi dapat berubah mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Dari pesantren menuju organisasi.
Dari organisasi menuju perjuangan kebangsaan.
Dari perjuangan menuju kemerdekaan.
Dari kemerdekaan menuju pembangunan manusia.
Dari pendidikan menuju pembentukan karakter.
Dari pengalaman politik menuju penguatan masyarakat sipil.
Dan dari tradisi menuju pemikiran yang mampu berdialog dengan modernitas.
Kini Indonesia memasuki babak baru.
Tantangan bangsa tidak lagi hanya mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan. Tantangan kita adalah menjaga kedaulatan, persatuan, keadilan, demokrasi, serta martabat manusia Indonesia di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, harapan masyarakat Indonesia kepada NU bukanlah agar NU semakin kuat hanya untuk dirinya sendiri.
Harapannya adalah agar NU semakin kuat dalam memberikan manfaat bagi bangsa.
Sebagaimana semangat para pendirinya:
Ketika bangsa membutuhkan perjuangan, NU hadir; ketika rakyat membutuhkan pendidikan, NU mengabdi; ketika masyarakat membutuhkan keteladanan, NU memberikan nilai; dan ketika Indonesia membutuhkan persatuan, NU berdiri bersama Indonesia.
Itulah makna pengabdian yang sesungguhnya. Sebab, pada akhirnya, kebesaran sebuah organisasi tidak hanya diukur dari jumlah anggota, luasnya jaringan, atau kuatnya pengaruh politik.
Kebesaran sebuah organisasi diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi manusia, seberapa besar jasanya bagi bangsa, seberapa kuat ia menjaga persatuan, dan seberapa tulus ia mengabdikan kekuatannya untuk negara.
Maka, memasuki satu abad perjalanan NU, harapan kita adalah agar semangat para pendiri tidak pernah hilang:
Mendahulukan kepentingan bangsa.
Mengabdi kepada negara.
Mencerdaskan rakyat.
Menjaga persatuan.
Menegakkan keadilan.
Merawat keberagaman.
Dan bersama-sama membangun Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, NU adalah bagian dari Indonesia. Dan pengabdian terbaik NU akan semakin bermakna ketika kebesaran NU menjadi bagian dari kebesaran Indonesia.
Dari ulama untuk umat.
Dari pesantren untuk bangsa.
Dari perjuangan untuk kemerdekaan.
Dari ilmu untuk pencerdasan.
Dari akhlak untuk peradaban.
Dan dari NU untuk Indonesia.
[]
- 27 Agustus 2026 – Saat Rakyat Menagih, DPR Bertaruh Kursi, dan Ujian Adu Domba Mengintai – Agustus 28, 2026
- YPTC Trophy DANSAT SIBER TNI Gandeng BNNK Binjai, Taekwondo Jadi Senjata Cetak Generasi Emas 2045 – Agustus 28, 2026
- Penyuluh Agama Islam KUA Medan Kota Isi Khutbah Jumat di Yon Armed 2/KS Delitua – Agustus 28, 2026












