Sabrina: Budaya Melayu Tak Boleh Pudar, Harus Dijaga dan Dilestarikan

Sekdaprovsu DR Ir Hj Sabrina MSi (tiga dari kiri) menerima audiensi Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), dan Yayasan Daun Sirih Bersama Kerapatan Adat Sultan Bilah di Medan (26/2).

Asaberita.com-Medan — Budaya Melayu sebagai salah satu kebudayaan nasional, tidak boleh pudar apalagi hilang. Karenanya harus terus dijaga dan dilestarikan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) akan mendukung sepenuhnya langkah-langkah pelestarian budaya Melayu di Sumatera Utara.

“Pemprovsu mendukung sepenuhnya pelestarian budaya Melayu, karena budaya Melayu merupakan bagian dari kebudayan nasional. Budaya Melayu tidak boleh pudar apalagi sampai hilang,” kata Sekda Povsu DR Ir Hj Sabrina MSi di rumah dinas Sekda, Jl Mongonsidi Medan, Rabu (26/2).

Hal ini disampaikan Sekdaprovsu usai menerima audiensi Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumut (LIPPSU), dan Yayasan Daun Sirih Bersama Kerapatan Adat Sultan Bilah.

Mereka yang hadir dari jajaran LIPPSU adalah Ketua Azhari A M Sinik didampingi pengurus, di antaranya Admansyah Ginting SE, Indra Buana Tanjung, T Muhammad Risfansyah, dan T Fachrydiansyah, ST.

Menurut Sekda, yang juga warga Labuhan Batu ini, berbagai adat yang mencerminkan budaya bangsa perlu terus menerus dijaga dan dilestarikan.

Di kesempatan yang sama, Ketua LIPPSU, Azhari A M Sinik mengatakan, audiensi dengan Sekdaprovsu dimaksudkan untuk memohon kesediaan Gubernur Sumut dan Sekda untuk dapat hadir dan berkenan membuka acara Dialog Napak Tilas Sejarah Kesultanan Pantai Timur sekaligus melaksanakan Pertabalan Sultan Bilah ke X.

BACA JUGA :  Gubsu Akhirnya Terbitkan Surat Edaran Liburkan Sekolah di Sumut

Kedua agenda acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Maret 2020. Acara pertabalan dilaksanakan di Negeri Lama dan acara Dialog dilaksanakan di Gedung Aula Asrama Haji Rantau Prapat.

Tujuan dilaksanakan kedua acara dalam upaya membangkitkan kembali Peradapan Budaya Melayu, yang hampir hilang di tengah masyarakat milineal saat ini.

Ini merupakan rangkaian lanjutan serupa. Pada 12 Oktober lalu, LIPPSU juga menggelar dialog tentang sejarah napak tilas kejayaan dan keruntuhan Kesultanan Langkat di Gedung Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah (STAI JM) Tanjung Pura, Langkat.

Dialog dihadiri Sekdaprovsu, DR Hj Sabrina MSi; Kadis Kabudayaan dan Pariwisata Sumut, Ria N Telaumbanua, Kepala Balai Permukiman dan Perumahan Sumut.

Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR, Syafriel Tansier; sejarawan Unimed Ichwan Azhari; peneliti sejarah pendidikan Islam Indonesia UIN Sumut, Muaz Tanjung; dosen sosial politik UMSU Shohibul Anshor Siregar, dan pengamat politik, Zulfirman.

Direktur LIPPSU, Azhari AM Sinik, mengatakan, dialog tersebut merupakan bagian dari upaya membangkitkan idealisme peradaban bangsa Melayu.

BACA JUGA :  Green Growth Plan Sumut, Sabrina Yakin Mampu Tekan dan Kendalikan Dampak Perubahan Iklim

Bangkit Kembali

Masyarakat serta tokoh Melayu diharapkan dapat memanfaatkan momentum dialog sejarah guna membuat Langkat bangkit kembali.

“Dalam momentum ini, kita bangkit, masyarakat dan tokoh-tokoh Melayu. Dialog sejarah ini diharapkan dapat menjadi sarana mentransfer informasi sejarah kepada generasi bangsa. Sehingga dapat memberi pemahaman dan meningkatkan rasa cinta generasi muda pada tanah air, ” katanya.

Sekdaprovsu, Sabrina pada acara itu juga mengatakan, Pemprovsu mengapresiasi dialog sejarah itu.

“Kesultanan Melayu Islam Langkat adalah salah satu dari berbagai ragam pemberi warna dalam sejarah Republik Indonesia, oleh sebab itu perlu menjadi perhatian kita semua, transfer informasi sejarah ini sangat penting bagi generasi masa sekarang,” katanya.

Dikatakan Sabrina lagi, dialog sejarah juga diperlukan untuk membangkitkan idealisme kebangsaan dan persatuan. Serta memunculkan rasa kecintaan terhadap etika, adab, dan budaya Melayu Langkat sebagai warisan berharga. (has)

891 total views, 3 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *