Urgensi Sex Education Untuk Menekan Angka Seks Bebas 

Teks Foto : Nazil Mumtaz al-Mujtahid (foto/msj)

Oleh : Nazil Mumtaz al-Mujtahid

 

Seks bebas merupakan hal yang tabu di Indonesia. Para orang tua acapkali menceritakan bahwa ketika mereka masih remaja, berduaan dengan lawan jenis merupakan hal yang memalukan. Ironisnya hal ini berbanding terbalik dengan kondisi sosial saat ini, pasalnya sebagian masyarakat mulai mewajarkan hubungan lawan jenis untuk remaja.

Perubahan budaya dan kebiasaan di atas tidak terlepas dari peran teknologi yang semakin berkembang. Imbasnya banyak sekali budaya barat yang diserap oleh remaja melalui film, video klip, lirik lagu dan lain sebagainya. Perkembangan teknologi seolah memaksa masyarakat untuk mengikuti perkembangan zaman yang sulit dikendalikan.

Di Indonesia sendiri angka seks bebas terus meningkat setiap tahunnya, fakta ini didukung oleh sindonews yang memaparkan bahwa angka menikah di bawah usia 20 tahun menyentuh angka 2.4 juta pada tahun 2020. Selain data di atas, Gaudensius juga menulis di media Indonesia bahwa setiap tahunnya terdapat 2 juta janin yang digugurkan.

nst

Angka di atas tentu saja menggambarkan bahwa seks bebas di Indonesia memang sudah marak dan tidak terkendali. Hasrat para remaja dalam bercinta sering kali dituangkan dalam bentuk hubungan intim dengan pasangan maupun membayar pekerja seks komersil. Fakta yang tersaji di atas mengundang argumen penulis untuk mengemukakan bahwa yang menyebabkan maraknya seks bebas di Indonesia ada dua yaitu perkembangan teknologi dan kurangnya edukasi seksual untuk remaja.

Para guru dan orangtua masih tidak bisa lepas dari budaya mereka semasa remaja sehingga edukasi yang terkait dengan hubungan seksual masih dianggap tabu. Di tingkat sekolah, bab reproduksi hanya sekedar menerangkan proses bagaimana manusia bisa lahir. Seharusnya, pada bab reproduksi inilah peran para guru agar mampu memberikan pencerahan terkait edukasi seksual.

BACA JUGA :  Penipuan Berkedok Online di Era Covid-19

Dalam paparan ini, orangtua tidak jauh berbeda dengan guru yang tidak mau membahas edukasi seksual terlalu mendalam. Peranan orangtua sangat penting karena nasihat dari orangtua merupakan pegangan untuk anak selama hidup. Tentunya sangat disayangkan apabila orangtua masih enggan mengajarkan anaknya tentang mengontrol hawa nafsu dan bahaya seks bebas.

Minimnya edukasi yang diterima oleh remaja Indonesia membuat mereka miskin pengetahuan dan tidak memiliki bekal terkait seks. Yang jauh lebih berbahaya lagi adalah ketika remaja tahu tentang seks tanpa ada yang mengajari. Pada akhirnya remaja akan melakukan ekspolrasi sendiri mengenai seks tanpa ada arahan dari siapapun.

Edukasi seksual tentu harus ada pembimbingnya, tidak bisa dilakukan dengan cara eksplorasi sendiri. Di internet sendiri, wawasan mengenai edukasi seksual sangat liar dan tidak tentu arah. Imbasnya, remaja yang belajar sendiri tentang seks jarang sekali mendapat jalan keluar yang benar dan cenderung memilih pendapat liar.

Tidak bisa dipungkiri, internet memberikan banyak sekali jalan pintas terhadap remaja yang ingin memenuhi hawa nafsunya. Banyak sekali artikel yang mengarahkan remaja untuk menggunakan alat pengaman seperti kontrasepsi, pil KB dan lain sebagainya. Selain mengedukasi dengan menggunakan pengaman, di internet juga banyak tips dan trik bagaimana cara melakukan hubungan intim tapi tidak berujung hamil. Lebih lanjut lagi, internet juga banyak memberikan petunjuk bagaimana cara menggugurkan janin apabila hubungan intim menghasilkan anak.

Informasi di atas sah-sah saja beredar di internet, namun seringkali tidak tepat sasaran. Penggunaan alat pengaman dan lain sebagainya seharusnya ditujukan untuk pasangan yang sudah menikah guna mengatur jumlah anak. Namun, yang mengakses informasi tersebut kebanyakan remaja yang belum menikah. Selain itu, tanpa adanya arahan maka remaja akan melakukan hubungan intim dengan dalih ‘tidak masalah selama tidak hamil’. Permasalahan pokok dalam norma kehidupan bukan tentang hamil atau tidaknya, melainkan tindakan asusila yang seharusnya tidak boleh dilaksanakan.

BACA JUGA :  Arab Saudi dan Sekutunya Diragukan Bela Palestina

Peran Orang Tua dan Sekolah

Melalui tulisan ini, sudah sepantasnya orangtua dan sekolah mulai terbuka dan bersikap dewasa dalam memberikan pemahaman tentang seks. Peranan orang tua dan sekolah dinilai sangat penting mengingat seks bebas sudah mulai sulit dikendalikan dan fasilitas untuk melakukannya sudah gampang untuk diakses.

Sekolah harus mulai memberikan pencerahan bahanya seks bebas dan menerangkan bahwa pengaman dan sejenisnya bukan jalan pintas yang baik. Sekolah harus secara gamblang menjelaskan bahwa kemungkinan hamil masih ada meskipun menggunakan pengaman. Bahkan seharusnya edukasi seksual harus masuk dalam kurikulum pembelajaran agar remaja-remaja Indonesia mampu menahan hawa nafsunya.

Di sisi lain, orangtua tentu harus lebih sering berdialog secara intim dengan anaknya. Orangtua harus mengedukasi bagian tubuh yang tidak boleh disentuh, tempat-tempat yang tidak boleh dikunjungi dengan lawan jenis dan lain sebagainya. Selain itu, orangtua harus mendengarkan cerita anak secara terbuka dan memberi nasihat yang baik. Orangtua sudah selayaknya menerangkan kepada anaknya bahwa cinta tidak boleh dikeluarkan dalam bentuk nafsu karena sifatnya mubazir.

Hal yang tidak kalah penting adalah orangtua harus melakukan pengawasan terhadap aktivitas dunia maya anaknya agar tidak candu konten pornografi. Orangtua dan sekolah juga harus mengedukasi tentang pornografi agar tidak terlanjur candu. Pornografi sendiri dapat membuat orientasi seksual seseorang berubah apalagi untuk remaja yang belum matang secara psikis.**

 

** Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) **

 318 total views,  2 views today

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *