MEDAN – Di tangan Rimbawati, sesuatu yang bagi sebagian orang tak lagi berguna justru bisa menjadi sumber kehidupan.
Motor induksi bekas seharga sekitar Rp200 ribu, aliran air, sinar matahari, hingga tumpukan kotoran sapi yang selama ini dianggap limbah, diolah menjadi sumber energi alternatif. Bukan sekadar untuk membuktikan sebuah teori, tetapi untuk menghadirkan listrik dan menekan beban energi masyarakat di pelosok desa.
Bagi dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu, energi terbarukan bukan hanya soal teknologi. Lebih jauh, energi adalah tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Sejak mengabdikan diri sebagai dosen UMSU pada 2004, Rimbawati konsisten menekuni bidang energi baru dan terbarukan. Ia mengampu mata kuliah Analisa Sistem Tenaga, Energi Baru dan Terbarukan, serta Metode Penelitian.
Fokus penelitiannya mencakup pembangkit listrik tenaga mikrohidro, tenaga surya, dan biogas. Konsistensinya di bidang tersebut membawanya memperoleh pendanaan hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak 2015 hingga kini.
Dari berbagai hibah tersebut, lahir sejumlah inovasi penelitian dan program pengabdian kepada masyarakat yang dikerjakan bersama tim.
Namun, bagi Rimbawati, ukuran keberhasilan sebuah penelitian bukan hanya seberapa bagus hasilnya di atas kertas.
Ukuran yang sesungguhnya adalah ketika hasil penelitian itu bisa digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Cerita itu menemukan bentuk nyatanya pada 2017. Sekitar 30 kepala keluarga di Dusun Bintang Asih, Desa Rumah Sumbul, menghadapi persoalan yang bagi banyak orang mungkin sulit dibayangkan: mereka belum menikmati fasilitas listrik dalam kehidupan sehari-hari.
Rimbawati bersama tim datang melihat langsung kondisi masyarakat. Mereka tidak sekadar membawa konsep penelitian, tetapi mencoba membaca potensi yang ada di sekitar desa. Aliran air yang selama ini hanya menjadi bagian dari lingkungan warga kemudian dilihat sebagai sumber energi.
Dengan dukungan pendanaan Kementerian Pendidikan, Rimbawati dan tim membangun proyek kemandirian energi melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
Hasilnya perlahan mengubah kehidupan warga. Rumah-rumah yang sebelumnya hidup tanpa penerangan listrik akhirnya mendapatkan pasokan energi dari potensi alam di sekitar mereka.
Yang lebih menggembirakan, pembangkit listrik tersebut hingga kini masih berfungsi.
“Dampaknya, yang dulunya mereka tidak mengenal listrik, dari tahun 2017 sampai hari ini mereka sudah dapat mengenyam listrik dari hasil penelitian dan pengabdian yang kami lakukan,” tutur Rimbawati.
Bagi perempuan yang dikenal dekat dengan mahasiswa itu, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi tidak selalu harus mahal dan rumit.
Kadang, solusi justru hadir dari sesuatu yang sederhana dan berada di sekitar masyarakat.
Rp200 Ribu yang Menjadi Generator
Prinsip itulah yang kemudian ia buktikan melalui sebuah motor induksi bekas.
Barang yang bagi sebagian orang hanya dipandang sebagai rongsokan itu dibeli dengan harga sekitar Rp200 ribu. Di tangan Rimbawati dan tim, motor tersebut dimodifikasi menjadi generator untuk menopang pembangkit listrik tenaga mikrohidro.
“Dengan harga yang relatif murah, hanya dua ratus ribu rupiah, kami melakukan inovasi dengan mengubah motor induksi tadi menjadi sebuah generator. Kemudian saya aplikasikan untuk membangun pembangkit listrik mikrohidro,” ujarnya.
Dari benda bekas itu lahir sebuah pelajaran penting: teknologi tepat guna tidak selalu identik dengan biaya besar.
Ketelitian membaca persoalan, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dapat menjadi modal untuk menciptakan solusi.
Pengembangan di Dusun Bintang Asih kemudian diperkuat dengan sistem hibrida. Rimbawati bersama tim menambahkan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 1.000 watt.
Aliran air dan cahaya matahari dipadukan untuk memperkuat pasokan energi masyarakat.
Teknologi pun tidak berhenti sebagai hasil penelitian. Ia terus bekerja dan memberikan manfaat bertahun-tahun setelah program dilaksanakan.
Perjalanan Rimbawati tidak berhenti di mikrohidro. Ia kemudian semakin serius mengembangkan energi surya. Salah satu penerapannya dilakukan di kawasan wisata Desa Pematang Johar.
Bersama tim, ia merancang sistem tenaga surya yang mampu membantu menekan biaya energi listrik di kawasan tersebut hingga 80 persen.
Bagi pengelola wisata, penghematan itu bukan angka semata. Beban operasional dapat ditekan, sementara pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan terus dikembangkan.
Di situlah Rimbawati melihat kekuatan penelitian di bidang teknik.
“Bidang-bidang teknik cenderung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Riset yang kita lakukan bisa langsung diimplementasikan kepada masyarakat,” katanya.
Baginya, laboratorium dan ruang kelas seharusnya tidak menjadi batas bagi ilmu pengetahuan.
Ilmu harus bergerak keluar, mendatangi persoalan nyata, lalu kembali membawa solusi.
Perjalanan berikutnya membawa Rimbawati dan tim ke Desa Bekium, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat. Di desa tersebut, peternakan sapi berkembang dengan produksi sekitar 1.800 hingga 2.000 ekor sapi per tahun. Bersamaan dengan itu, muncul persoalan lain: limbah peternakan.
Produksi kotoran sapi diperkirakan mencapai 18 ton setiap hari. Jika dibiarkan, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran udara dan air hingga gangguan terhadap kenyamanan masyarakat.
Namun, Rimbawati melihat sesuatu yang berbeda. Di balik tumpukan limbah itu terdapat potensi energi.
Melalui proyek percontohan pengembangan biogas, masyarakat diberikan edukasi untuk mengolah kotoran ternak menjadi gas yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Limbah yang sebelumnya menjadi persoalan perlahan diubah menjadi sumber energi.
“Nah, itu cara kami memberikan edukasi kepada masyarakat di Desa Bekium, bahwa limbah peternakan yang terbuang dan menjadi polusi udara maupun polusi air dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas bagi kebutuhan keluarga,” jelasnya.
Bagi keluarga peternak, pemanfaatan biogas juga membuka peluang mengurangi pengeluaran untuk membeli gas elpiji.
Kotoran sapi yang sebelumnya dianggap tak bernilai ternyata dapat membantu memenuhi kebutuhan energi rumah tangga.
Mikrohidro, tenaga surya, dan biogas kini menjadi tiga bidang yang terus dikembangkan Rimbawati.
Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi membawa pesan yang sama: desa memiliki sumber daya sendiri yang dapat dikembangkan menjadi energi.
Ke depan, Rimbawati ingin menggabungkan ketiganya dalam sebuah sistem energi terpadu.
“Semoga ke depan saya bisa mengolaborasikan mikrohidro, tenaga surya, dan biogas yang berasal dari limbah peternakan maupun limbah rumah tangga menjadi sebuah inovasi yang dapat digunakan masyarakat, khususnya di pedesaan,” harapnya.
Cita-cita itu sekaligus menjadi gambaran tentang arah pengabdiannya.
Ia tidak ingin inovasi berhenti sebagai laporan penelitian atau tersimpan di laboratorium. Ia ingin teknologi tersebut hidup di tengah masyarakat.
Di balik perjalanan panjang tersebut, Rimbawati mengakui dukungan UMSU memiliki peran penting.
Dukungan diberikan melalui fasilitas, bantuan materi, laboratorium, hingga kelengkapan administrasi seperti surat keputusan dan berbagai dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, hal-hal administratif yang terkadang terlihat sederhana justru menjadi bagian penting dalam menopang perjalanan seorang dosen menghasilkan karya yang dapat diimplementasikan.
Ia juga meyakini seorang dosen, khususnya di bidang teknik, harus terus memperbarui pengetahuan.
Setidaknya dua hingga tiga jam setiap hari, menurutnya, perlu disediakan untuk membaca perkembangan ilmu dan teknologi.
Namun, mengikuti perkembangan teknologi bukan berarti harus selalu mengejar teknologi paling mahal atau paling mutakhir.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan melihat persoalan di sekitar dan menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, bagi Rimbawati, inovasi bukan tentang seberapa canggih sebuah teknologi dibuat.
Inovasi adalah ketika ilmu yang lahir dari ruang akademik mampu mengubah kehidupan seseorang.
Di sebuah desa yang pernah gelap tanpa listrik, aliran air akhirnya menjadi cahaya.
Di tempat lain, sinar matahari membantu memangkas biaya energi.
Dan di Desa Bekium, tumpukan kotoran sapi yang semula menjadi limbah perlahan berubah menjadi sumber gas bagi keluarga.
Semua itu berawal dari satu keyakinan sederhana: bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna pun bisa menjadi energi, ketika ada ilmu, ketekunan, dan kemauan untuk mengubahnya menjadi manfaat. (ABN/dan)






















