ASABERITA.com, Serdang Bedagai – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara menggelar edukasi pencegahan stunting dan sosialisasi gizi seimbang untuk orang tua serta siswa kelas 1 SD di Dusun Kenari, Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai).
Kegiatan edukasi ini berlangsung pada Senin (10/8/2026). Aksi sosial ini digelar sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak di lingkungan pedesaan.
Ketua KKN UINSU, Hotma Tua Rizki, dan perwakilan anggota, Aisyah Qonita Mujahidah, memimpin langsung jalannya kegiatan bersama seluruh anggota kelompok. Mereka mengedukasi para orang tua agar lebih paham pentingnya pemenuhan gizi sejak dini demi mencegah stunting.
Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pola makan bergizi dan seimbang, pemenuhan nutrisi harian, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hingga pemantauan perkembangan anak secara berkala. Orang tua diimbau lebih cermat memilih asupan makanan untuk anak sehari-hari.
Tak cuma orang tua, siswa kelas 1 SD juga diajak paham gizi seimbang dengan pendekatan yang seru dan sederhana. Para murid diajak mengenali berbagai jenis makanan sehat dan manfaatnya bagi tubuh.
Pihak sekolah mengapresiasi penuh inisiatif ini. Perwakilan guru yang hadir mendampingi acara menyebut kegiatan ini sangat membantu sekolah dalam mengedukasi siswa soal gaya hidup sehat.
Seluruh mahasiswa KKN tampak sigap mengawal jalannya acara dari awal hingga akhir, mulai dari penyampaian materi, membimbing para murid, sampai membagikan makanan sehat. Para peserta dan siswa pun terlihat sangat antusias menyimak materi.
Di akhir acara, tim KKN UINSU membagikan sajian bubur kacang hijau gratis kepada para siswa. Pembagian bubur ini menjadi aksi nyata mahasiswa dalam mendukung asupan nutrisi anak-anak di lokasi KKN.
Lewat kegiatan ini, mahasiswa KKN UINSU berharap pemahaman soal gizi seimbang dan pencegahan stunting bisa diterapkan warga dalam kehidupan sehari-hari demi menciptakan generasi yang sehat dan tangguh.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya. Dampak stunting tak cuma soal fisik yang kerdil, tapi juga mengganggu perkembangan otak, kecerdasan, dan kekebalan tubuh anak.
Pencegahan stunting butuh aksi nyata lewat perbaikan pola makan, pola asuh, hingga akses sanitasi bersih. Edukasi mengenai porsi “Isi Piringku”—yang memuat karbohidrat, protein, sayur, dan buah—sangat krusial diberikan ke masyarakat desa agar mereka memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah namun kaya nutrisi. (red/alm)























