LANGKAT – Upaya membangun keluarga berkualitas menuju Indonesia Emas 2045 terus diperkuat melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, Delia Pratiwi Br. Sitepu, S.H., kembali menggelar Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Desa Ponco, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung penuh antusias ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, aparatur desa, tokoh masyarakat hingga tokoh agama. Sosialisasi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Yusrizal Batubara, S.Sos., M.M., Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, serta Ratu Bilkis, S.Sos., Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Dinas PKB dan PPA Kabupaten Langkat.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars KB, dilanjutkan penyampaian materi serta dialog interaktif mengenai pentingnya perencanaan keluarga, kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, hingga penguatan peran ayah dalam keluarga.
Delia Pratiwi: Keluarga Berkualitas Menjadi Kunci Indonesia Emas 2045
Dalam pemaparannya, Anggota Komisi IX DPR RI Delia Pratiwi Br. Sitepu menegaskan bahwa pembangunan keluarga merupakan fondasi penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Menurutnya, keluarga berencana bukan sekadar mengatur jumlah anak, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh perhatian, pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi yang optimal.
“Kita sedang menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, yang harus kita persiapkan bukan hanya jumlah penduduk, tetapi juga kualitas generasi penerus bangsa. Anak-anak kita harus tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ungkap Delia.
Delia turut memberikan edukasi mengenai berbagai pilihan metode kontrasepsi bagi perempuan, mulai dari pil KB, suntik KB, implan, IUD hingga metode kontrasepsi mantap perempuan atau tubektomi.
Ia menekankan pentingnya memilih metode kontrasepsi sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dalam sesi dialog, Delia mengajak peserta memahami persoalan stunting yang masih menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia.
Dengan gaya komunikasi yang akrab, ia mengajukan pertanyaan kepada peserta mengenai pengertian stunting. Pertanyaan tersebut langsung mendapat respons antusias dari masyarakat.
Delia menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan faktor lainnya, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang memiliki tubuh pendek belum tentu mengalami stunting sehingga diperlukan pengukuran dan penilaian pertumbuhan oleh tenaga kesehatan.
Selain pemenuhan gizi, Delia menekankan pentingnya kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan, termasuk pencegahan anemia, pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan apabila memungkinkan, serta dukungan suami terhadap kesehatan fisik dan emosional ibu.
“Peran ayah juga sangat penting. Jangan hanya menyerahkan urusan anak kepada ibu. Ayah harus hadir, mendampingi, memberikan perhatian, dan menciptakan suasana keluarga yang bahagia,” pesannya.
BKKBN Dorong Keterlibatan Ayah dan Pendampingan Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan
Sementara itu, Yusrizal Batubara menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menunjukkan semakin luasnya peran pemerintah dalam membangun keluarga Indonesia.
Menurutnya, program Kemendukbangga/BKKBN kini menyentuh seluruh siklus kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, masa balita, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.
“Kalau dulu masyarakat mengenal BKKBN hanya soal alat kontrasepsi dan dua anak cukup, sekarang tugas kita jauh lebih luas. Kita hadir untuk mendampingi keluarga sejak sebelum anak lahir sampai memasuki usia lanjut,” jelas Yusrizal.
Ia memperkenalkan berbagai program prioritas Kemendukbangga/BKKBN, antara lain Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta Makan Bergizi Gratis bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Non-PAUD (MBG 3B).
Saat membahas GATI, Yusrizal mengajak para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
“Bapak-bapak, siapa di sini yang pernah mengantar anak ke sekolah? Kalau mengambil rapor anak, siapa yang datang, bapak atau ibu?” tanyanya kepada peserta.
Pertanyaan tersebut mengundang respons dan suasana hangat ketika sejumlah peserta mengaku lebih sering mengantar anak ke sekolah, sementara pengambilan rapor masih dilakukan oleh ibu.
Melalui dialog tersebut, Yusrizal menegaskan bahwa kehadiran ayah tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga harus menjadi sosok yang memberikan perhatian, kasih sayang, perlindungan, dan dukungan emosional bagi anak.
Ia juga menyoroti pentingnya mencegah kondisi fatherless, yaitu minimnya keterlibatan atau kehadiran figur ayah dalam kehidupan anak.
Selanjutnya, Yusrizal mengajak masyarakat memahami program MBG 3B sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi kelompok rentan.
Ia mengingatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK), penyuluh KB, serta pihak terkait agar terus mengawal penyaluran bantuan sehingga tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang menjadi sasaran program.
Tidak hanya menyasar keluarga muda, Yusrizal juga memperkenalkan program SIDAYA yang mendorong masyarakat lanjut usia agar tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dan memiliki kehidupan yang bermakna.
“Lanjut usia bukan berarti berhenti berkarya. Justru kita ingin para lansia tetap sehat, bahagia, berdaya, dan terus memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Yusrizal turut mengingatkan para orang tua agar memanfaatkan layanan Bina Keluarga Balita (BKB) serta berkonsultasi dengan kader TPK maupun penyuluh KB untuk memperoleh informasi mengenai pola asuh, tumbuh kembang, dan pemenuhan gizi anak.
Ratu Bilkis Ajak Masyarakat Bergotong Royong Cegah Stunting
Pada kesempatan yang sama, Ratu Bilkis menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pihak dalam mempercepat penurunan stunting.
Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah yang terus didorong adalah menghadirkan Orang Tua Asuh (OTA) melalui program GENTING untuk membantu keluarga berisiko stunting.
Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam memastikan keluarga yang membutuhkan mendapatkan perhatian dan dukungan.
“Melalui gerakan orang tua asuh, kita mengajak semua pihak ikut berkontribusi. Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kepedulian dan kerja sama seluruh masyarakat,” jelasnya.
Ratu Bilkis juga memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan perempuan sebelum dan selama kehamilan, termasuk pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis.
Ia menjelaskan bahwa ibu hamil dengan LiLA kurang dari 23,5 sentimeter perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut karena berisiko mengalami kekurangan energi kronis yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Selain itu, ia mendorong penguatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak melalui kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat, termasuk generasi muda.
Dari Desa Ponco, Bangun Generasi Sehat dan Keluarga Tangguh
Sosialisasi berlangsung interaktif melalui diskusi dan tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Berbagai persoalan keluarga, mulai dari kesehatan reproduksi, kontrasepsi, pengasuhan anak, pemenuhan gizi hingga peran ayah menjadi perhatian masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kemendukbangga/BKKBN bersama Komisi IX DPR RI berharap masyarakat semakin memahami bahwa pembangunan keluarga bukan hanya berkaitan dengan pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga peningkatan kualitas hidup seluruh anggota keluarga.
Kegiatan di Desa Ponco menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan edukasi program Bangga Kencana hingga tingkat desa, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Sebab, Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun melalui kemajuan ekonomi dan infrastruktur, tetapi dimulai dari keluarga yang sehat, anak-anak yang tumbuh berkualitas, ayah dan ibu yang hadir dalam pengasuhan, serta masyarakat yang saling peduli. Dari keluarga berkualitas, lahir generasi hebat menuju Indonesia Emas 2045. (ABN/dan)





















