LANGKAT – Membangun generasi emas Indonesia tidak cukup hanya dengan memberikan pendidikan yang baik, tetapi juga harus dimulai dari keluarga yang sehat, pengasuhan yang berkualitas, serta keterlibatan aktif kedua orang tua dalam tumbuh kembang anak.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) yang diselenggarakan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI, Delia Pratiwi Br. Sitepu, S.H., di Desa Kwala Begumit, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan yang dihadiri ratusan masyarakat ini berlangsung hangat dan interaktif. Turut hadir aparatur desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta sejumlah pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pembangunan keluarga dan pencegahan stunting.
Hadir sebagai narasumber, Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Madya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Dra. Rabiatun Adawiyah, MPHR, serta Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Langkat, Supardi, S.Kp., M.K.M.
Delia Pratiwi: Generasi Emas Dimulai dari Keluarga Berkualitas
Dalam paparannya, Anggota Komisi IX DPR RI Delia Pratiwi Br. Sitepu menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua mempersiapkan kesehatan, pendidikan, pemenuhan gizi, dan pengasuhan anak sejak dini.
“Kita semua tentu ingin anak-anak tumbuh sehat, cerdas, memperoleh pendidikan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, pembangunan keluarga harus direncanakan dengan sungguh-sungguh,” ungkap Delia.
Ia juga mengajak masyarakat memahami pentingnya program keluarga berencana sebagai bagian dari upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera.
Berbagai pilihan kontrasepsi, mulai dari pil KB, suntik KB, implan, IUD hingga metode kontrasepsi permanen, turut diperkenalkan agar pasangan usia subur dapat menentukan pilihan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatannya melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Tidak hanya membahas keluarga berencana, Delia memberikan perhatian khusus terhadap persoalan stunting yang masih menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia.
Dengan gaya komunikasi yang santai, ia mengajak peserta berdialog mengenai pengertian stunting, penyebabnya, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan keluarga.
Delia menekankan pentingnya menjaga kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan, mencegah anemia, memenuhi kebutuhan gizi, serta memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama apabila memungkinkan, dengan dukungan tenaga kesehatan.
Ia juga mengingatkan bahwa keterlibatan suami tidak kalah penting dalam menjaga kesehatan dan kebahagiaan ibu.
“Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab ibu. Ayah juga harus hadir, memberikan perhatian, mendukung kebutuhan gizi keluarga, dan menciptakan suasana rumah yang nyaman,” pesannya.
BKKBN Kini Hadir Mendampingi Keluarga Sepanjang Siklus Kehidupan
Sementara itu, Rabiatun Adawiyah menjelaskan bahwa transformasi BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pembangunan keluarga secara menyeluruh.
Menurutnya, BKKBN saat ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kontrasepsi dan pengendalian penduduk, tetapi juga mendampingi keluarga sepanjang siklus kehidupan, mulai dari persiapan pernikahan, kehamilan, masa balita, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.
Ia memperkenalkan sejumlah program prioritas Kemendukbangga/BKKBN, antara lain Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B).
Salah satu program yang menarik perhatian peserta adalah GATI, yang mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak.
Dengan pendekatan interaktif, Rabiatun menanyakan kepada para ayah yang hadir apakah mereka pernah mengantar anak ke sekolah atau mengambil rapor anak.
Pertanyaan sederhana tersebut mengundang respons beragam dari peserta dan menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah bukan hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Ayah bukan hanya bertugas mencari nafkah. Anak-anak juga membutuhkan perhatian, komunikasi, kasih sayang, dan kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Rabiatun turut menekankan pentingnya pengasuhan berkualitas melalui program Bina Keluarga Balita (BKB), sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan pendampingan dari kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Penyuluh Keluarga Berencana.
Terkait program MBG 3B, ia mengingatkan pentingnya pengawalan bersama agar bantuan makanan bergizi benar-benar diterima oleh kelompok sasaran secara tepat.
Selain itu, melalui program SIDAYA, masyarakat lanjut usia didorong untuk tetap sehat, aktif, produktif, mandiri, dan memiliki peran dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
Gotong Royong Cegah Stunting, Masyarakat Diajak Jadi Orang Tua Asuh
Pada kesempatan yang sama, Supardi menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan stunting memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan melalui program GENTING yang mengajak berbagai pihak menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting.
Ia menjelaskan bahwa semangat gotong royong menjadi kekuatan penting dalam membantu keluarga yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi maupun kebutuhan dasar lainnya.
“Melalui GENTING, kita ingin membangun kepedulian bersama. Pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak,” jelasnya.
Supardi juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan calon pengantin dan ibu hamil, termasuk pengukuran lingkar lengan atas untuk mendeteksi risiko kekurangan energi kronis.
Ia turut menyoroti penguatan peran ayah melalui berbagai kegiatan yang melibatkan keluarga, remaja, dan mitra pembangunan di daerah.
Dari Kwala Begumit, Bangun Keluarga Kuat untuk Indonesia Emas
Sepanjang kegiatan, antusiasme masyarakat terlihat dari interaksi antara narasumber dan peserta. Berbagai pertanyaan mengenai kontrasepsi, kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, hingga pola pengasuhan menjadi bagian dari diskusi.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Kemendukbangga/BKKBN bersama Komisi IX DPR RI berharap pemahaman masyarakat terhadap pembangunan keluarga semakin meningkat dan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga yang berkualitas tidak hanya diukur dari jumlah anggota keluarga, tetapi juga dari kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, serta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.
Dari Desa Kwala Begumit, semangat membangun keluarga sehat, ayah yang hadir, ibu yang berdaya, dan anak-anak yang tumbuh berkualitas menjadi bagian dari langkah bersama menuju Indonesia Emas 2045. (***)




















